Catatan Mamito
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Ada film Korea yang selesai ditonton lalu kita bisa langsung move on. Ada juga yang setelah credit title-nya selesai justru membuat kita bengong sebentar sambil berpikir, “Kok jadi begini…” :(
Even If This Love Disappears Tonight termasuk yang kedua buatku.

Awalnya sih aku menonton film Korea ini karena penasaran dengan Choo Young-woo. Oya sebelumnya aku pernah melihat drama Choo Young-woo lewat Once Upon a Small Town.
Jadi, bisa dibilang ini menjadi film kedua Choo Young-woo yang aku tonton setelah Once Upon a Small Town.

Aku sempat mengira akan mendapatkan kisah cinta remaja yang manis di Even If This Love Disappears Tonight .
Ternyata memang manis, sih..
Tapi… manisnya hanya sementara :(


Tentang Film Even If This Love Disappears Tonight



Even If This Love Disappears Tonight merupakan film Korea bergenre romance dan drama yang tayang pada tahun 2025. Film ini disutradarai oleh Kim Hye-young dan diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.

Even If This Love Disappears Tonight dibintangi Choo Young-woo sebagai Kim Jae-won dan Shin Si-ah sebagai Han Seo-yoon. Keduanya menjadi tokoh utama dalam kisah cinta remaja yang awalnya terlihat manis, tetapi ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih emosional.

Dari judulnya saja sebenarnya kita sudah bisa merasakan bahwa film ini mungkin bukan sekadar kisah cinta manis.

Ada sesuatu tentang cinta, waktu, kenangan, dan kehilangan yang menjadi bagian penting dalam ceritanya.
Dan benar saja.
Semakin jauh aku mengikuti ceritanya, semakin terasa bahwa hubungan Jae-won dan Seo-yoon bukanlah kisah cinta remaja biasa.

------------------------------
Baca juga: Once Upon a Small Town Drama Korea Romantis yang manis di Pedesaan
------------------------------


Sinopsis Even If This Love Disappears Tonight

Even If This Love Disappears Tonight bercerita tentang Kim Jae-won dan Han Seo-yoon, dua siswa SMA yang bertemu dalam keadaan yang cukup tidak biasa.

Jae-won adalah siswa yang cenderung pendiam dan menjalani kehidupan sekolahnya dengan biasa saja. Suatu hari, ia berusaha membantu teman satu bangkunya yang mengalami perundungan.
Dari sinilah Jae-won kemudian terlibat dalam sebuah tantangan yang membuatnya harus mendekati Seo-yoon.

Seo-yoon sendiri merupakan siswi yang cukup populer di sekolah. Banyak yang menyukainya, tetapi ia tidak mudah menerima perasaan orang lain.

Namun kehidupan Seo-yoon ternyata tidak sesederhana yang terlihat.
Setelah mengalami sebuah kecelakaan, Seo-yoon mengalami anterograde amnesia, yaitu kondisi yang membuat seseorang mengalami kesulitan membentuk atau menyimpan ingatan baru.

Akibatnya, setiap hari Seo-yoon harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak selalu bisa mengingat kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.
Ia mengandalkan jurnal, catatan, dan berbagai pengingat untuk membantunya menjalani kehidupan sehari-hari.

Kebayang, kan?

Setiap hari seperti harus berkenalan kembali dengan kehidupan sendiri.


Awalnya Jae-won Hanya Menjalankan Sebuah Tantangan


Pertemuan Jae-won dan Seo-yoon sebenarnya tidak dimulai dari kisah cinta romantis.

Jae-won awalnya mengajak Seo-yoon berkencan karena sebuah tantangan yang berkaitan dengan usaha menghentikan perundungan terhadap teman sekolahnya.
Tapi ternyata Seo-yoon menerima ajakannya.
Hubungan mereka kemudian dimulai dengan beberapa aturan.
Salah satunya adalah mereka tidak boleh benar-benar jatuh cinta.

Nah, kalau sudah begini, biasanya kita sebagai penonton sudah bisa menebak ke mana arahnya. 
Karena semakin sering bersama, Jae-won mulai mengenal Seo-yoon lebih jauh.

Bukan hanya Seo-yoon yang terlihat oleh orang-orang di sekolah, tetapi juga Seo-yoon yang harus menjalani hidup dengan kondisi ingatan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Dan tanpa disadari, perasaan Jae-won pun mulai berubah.
Yang awalnya hanya sebuah tantangan perlahan menjadi sesuatu yang benar-benar berarti.

------------------------------
Baca juga: Love Untangled, Nostalgia Cinta Pertama di Era 90-an!
------------------------------


Jae-won Mulai Membuat Kenangan Bersama Seo-yoon

Menurutku, bagian ini menjadi salah satu bagian paling manis dalam Even If This Love Disappears Tonight.
Seo-yoon tidak bisa menyimpan kenangan seperti kebanyakan orang, kebersamaan mereka menjadi sesuatu yang berbeda.
Hal-hal sederhana menjadi penting; pergi bersama, mengobrol, menghabiskan waktu sepulang sekolah, berkencan, menikmati momen-momen kecil yang bagi orang lain mungkin terasa biasa saja.


Jae-won perlahan memahami bahwa bagi Seo-yoon, satu hari yang menyenangkan bukan sekadar satu hari.
Setiap momen bisa menjadi sesuatu yang harus ia simpan melalui catatan agar tidak benar-benar hilang.
Di sinilah hubungan mereka terasa semakin dekat.

Jae-won yang awalnya hanya menjalankan sebuah tantangan mulai benar-benar memiliki perasaan.
Sementara Seo-yoon, meskipun sadar bahwa ingatannya bisa kembali hilang, tetap berusaha menikmati setiap momen yang ia miliki.


Tokoh dan Pemain Even If This Love Disappears Tonight

• Kim Jae-won – Choo Young-woo
Kim Jae-won diperankan oleh Choo Young-woo.
Jae-won adalah siswa SMA yang pendiam dan tidak terlalu banyak tingkah. Awalnya ia terlibat dalam hubungan dengan Seo-yoon bukan karena benar-benar jatuh cinta.
Namun semakin lama mereka bersama, perasaannya berubah.

Menurutku, karakter Jae-won menarik karena ia bukan tipe tokoh utama laki-laki yang terlalu sempurna.
Ia terlihat sederhana, agak pemalu, tetapi memiliki sisi perhatian yang perlahan semakin terlihat.
Dan Choo Young-woo berhasil membawa karakter ini dengan cukup natural.

Seperti yang sudah aku ceritakan di awal, ini menjadi film kedua Choo Young-woo yang aku tonton setelah Once Upon a Small Town.
Kalau sebelumnya aku mengenalnya lewat drama tersebut, kali ini aku bisa melihat sisi emosionalnya yang berbeda.

Jadi, buat kamu yang juga sedang mengikuti karya-karya Choo Young-woo, film ini bisa menjadi salah satu tontonan yang menarik.

• Han Seo-yoon – Shin Si-ah
Han Seo-yoon diperankan oleh Shin Si-ah.
Seo-yoon adalah karakter yang menurutku paling membuat hati ikut terasa sesak.
Di satu sisi, ia adalah gadis remaja yang ingin menjalani kehidupan seperti anak seusianya.
Ia ingin punya teman.
Ingin menikmati hari-harinya.
Dan tentu saja ingin merasakan jatuh cinta.
Namun di sisi lain, ia harus hidup dengan kondisi yang membuat setiap hari terasa seperti memulai kembali dari awal.

Catatan dan jurnal menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Karena itu, Seo-yoon bukan sekadar karakter perempuan yang menjadi pasangan Jae-won.
Ia memiliki perjuangan sendiri.

Menurutku Shin Si-ah cukup berhasil memperlihatkan sisi Seo-yoon yang ceria sekaligus rapuh.

• Choi Ji-min – Jo Yoo-jung
Choi Ji-min merupakan salah satu sahabat Seo-yoon yang mengetahui kondisi Seo-yoon.
Kehadiran Ji-min cukup penting dalam cerita karena ia menjadi salah satu orang yang memahami apa yang sebenarnya dialami Seo-yoon.

Dari hubungan mereka, kita juga bisa melihat bahwa film ini tidak hanya berbicara tentang cinta romantis.
Ada persahabatan, perhatian, dan bentuk kasih sayang lain yang tidak kalah berarti.

• Jeong Tae-hoon – Jin Ho-eun
Jeong Tae-hoon juga menjadi salah satu karakter dalam cerita.
Kehadirannya berkaitan dengan lingkungan sekolah dan konflik yang dialami Jae-won bersama teman-temannya.

Karakter-karakter pendukung ini membuat cerita tidak hanya berputar pada Jae-won dan Seo-yoon.

------------------------------
Baca juga: Review Film Tune in For Love Tentang Waktu, Kepercayaan dan Cinta Sejati
------------------------------


Chemistry Choo Young-woo dan Shin Si-ah

Aku suka chemistry kedua pemeran utamanya.
Hubungan Jae-won dan Seo-yoon tidak langsung dibuat terlalu romantis.
Justru berkembang perlahan.
Awalnya canggung.
Kemudian mulai nyaman.
Lalu semakin dekat.
Dan tanpa terasa, kita sebagai penonton ikut terbawa.

Ada banyak momen sederhana yang sebenarnya tidak terlalu istimewa kalau berdiri sendiri.
Tetapi ketika kita tahu kondisi Seo-yoon, momen-momen tersebut terasa jauh lebih berarti.
Karena bagi mereka, waktu bersama bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.


Even If This Love Disappears Tonight Bukan Sekadar Cerita tentang Amnesia

Awalnya mungkin kita mengira Even If This Love Disappears Tonight hanya akan menjadi film tentang seorang gadis yang kehilangan ingatan.
Ternyata tidak sesederhana itu.

Film ini juga mengajak kita memikirkan sesuatu yang lebih dalam.
Apa arti sebuah kenangan kalau suatu saat kita tidak bisa mengingatnya?
Dan kalau seseorang yang kita sayangi tidak bisa mengingat kebersamaan kita, apakah semua momen yang pernah kita lalui menjadi sia-sia?

Menurutku justru pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat film ini terasa emosional.


Dari Manis Menjadi Semakin Emosional

Paruh awal film terasa cukup ringan.
Ada suasana sekolah, hubungan Jae-won dan Seo-yoon yang perlahan berkembang, serta berbagai momen yang membuat kita tersenyum.

Aku bahkan sempat berpikir,
“Wah, kayaknya bakal dapat romance yang manis nih.” 

Tapi ternyata film ini pelan-pelan memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik hubungan mereka.
Semakin mendekati akhir, suasananya berubah.

Cerita yang tadinya terasa seperti kisah cinta remaja biasa perlahan menjadi jauh lebih emosional.
Di sinilah aku mulai merasa,
“Oalah… ternyata dari tadi ada sesuatu.” 


Apakah Even If This Love Disappears Tonight Happy Ending?

Nah, kalau kamu datang ke artikel ini karena ingin tahu jawabannya, aku akan jawab jujur:

Tidak. Film ini bukan happy ending.

Kalau kamu belum menonton dan ingin merasakan emosinya sendiri, sebaiknya berhenti sampai di sini karena bagian berikutnya mengandung spoiler ending.


⚠️ Spoiler Ending Even If This Love Disappears Tonight

Kim Jae-won ternyata memiliki penyakit jantung bawaan dan kondisi kesehatannya membuat hidupnya tidak panjang.

Inilah salah satu alasan mengapa beberapa adegan sebelumnya terasa seperti memberikan petunjuk kecil tentang kondisi Jae-won.
Jae-won kemudian meninggal dunia.

Dan bagian yang paling menyakitkan bukan hanya tentang kepergian Jae-won.
Tetapi juga tentang Seo-yoon.
Karena Seo-yoon mengalami amnesia anterograde, kenangan tentang Jae-won tidak bisa terus tersimpan seperti pada orang lain.

Bayangkan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita pergi, tetapi ingatan tentang dirinya pun perlahan tidak lagi bisa kita pegang.

Sedih banget, kan...

Film ini memang memilih akhir yang pahit.
Tetapi di saat yang sama, film ini seperti ingin mengatakan bahwa sesuatu tidak menjadi tidak berarti hanya karena akhirnya berakhir.

Kenangan mungkin bisa hilang.
Seseorang mungkin tidak bisa tinggal selamanya.
Tetapi perasaan dan arti dari sebuah kebersamaan tetap pernah ada.


Review Pribadi: Sedih, tapi Bukan Berarti Sia-sia

Aku tahu ada yang mungkin kurang suka dengan ending seperti ini.
Aku juga sebenarnya termasuk yang berharap mendapatkan ending yang lebih bahagia. 
Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin justru ending seperti inilah yang membuat pesan filmnya terasa lebih kuat.

Even If This Love Disappears Tonight bukan cerita tentang bagaimana mempertahankan seseorang selamanya.
Film ini lebih banyak bercerita tentang bagaimana menghargai seseorang selama ia masih ada.
Tentang menikmati hari ini.
Tentang menciptakan kenangan.
Dan tentang tidak menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang pasti akan selalu kita miliki.

Buatku, bagian ini yang membuat filmnya terasa lebih dari sekadar cerita romance.
Ada sesuatu yang bisa kita bawa setelah film selesai.

Bahwa terkadang kita terlalu sibuk memikirkan berapa lama seseorang akan tinggal dalam hidup kita, sampai lupa menikmati waktu yang sedang kita punya bersamanya.

Secara keseluruhan, aku menikmati Even If This Love Disappears Tonight.
Aku suka bagaimana film ini dimulai dengan kisah cinta remaja yang sederhana, kemudian perlahan membawa penonton pada cerita yang jauh lebih emosional.
Chemistry Choo Young-woo dan Shin Si-ah juga menjadi salah satu daya tarik film ini.

Buatku, ini bukan film Korea yang selesai ditonton lalu langsung dilupakan.
Justru setelah selesai, ada beberapa bagian yang masih terbayang.

Terutama tentang satu hal:
Tidak semua cerita cinta harus berakhir bahagia untuk menjadi cerita yang indah.
Dan mungkin memang begitu kehidupan.
Ada orang-orang yang datang untuk tinggal lama.
Ada yang hanya sebentar.
Sedih banget sih sebenarnya...

Tetapi selama pernah memberikan kebahagiaan dan meninggalkan kenangan, kehadiran mereka tetap punya arti.

Jadi, kalau kamu suka film Korea romance yang manis, emosional, dan siap bikin hati sesak, Even If This Love Disappears Tonight bisa masuk daftar tontonan.






Canva


“In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.”

Belakangan ini aku semakin sering berpikir bahwa menjalani hidup ternyata juga perlu belajar menyesuaikan diri.
Harga berbagai kebutuhan semakin terasa mahal. Ada banyak hal yang dulu bisa dilakukan tanpa terlalu banyak berpikir, sekarang mungkin harus dipertimbangkan kembali.

Mau makan di luar, melihat kondisi dompet dulu.
Mau membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan, bertanya pada diri sendiri: memang butuh atau hanya sedang ingin?
Mau jalan-jalan, tentu perlu melihat anggaran.
Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Hanya saja, mungkin cara kita menikmatinya perlu sedikit berubah.
Dan menurutku, itu bukan sesuatu yang harus disesali.
Justru dari sana aku belajar bahwa bahagia ternyata tidak selalu membutuhkan banyak uang.


In This Economy, Kita Tetap Boleh Bahagia

Istilah in this economy belakangan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada banyak keputusan kecil yang akhirnya membuat kita berpikir lebih panjang sebelum mengeluarkan uang.
Tetapi aku tidak ingin in this economy hanya dimaknai sebagai alasan untuk mengeluh tentang harga-harga yang semakin mahal.

Aku ingin melihatnya dari sisi yang berbeda.
Kalau memang sekarang kita harus lebih berhati-hati dengan uang, mungkin ini juga saatnya belajar membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang sebenarnya hanya kita inginkan.

Bukan berarti harus menjadi pelit.
Bukan pula berarti tidak boleh sesekali memberikan sesuatu untuk diri sendiri.
Kita tetap boleh membeli buku yang sudah lama diincar. Tetap boleh makan makanan favorit. Tetap boleh pergi jalan-jalan ketika memang ada rezekinya.
Hanya saja, semuanya dilakukan sesuai kemampuan.
Karena menurutku, menikmati hidup tidak harus selalu identik dengan mengeluarkan banyak uang.

------------------------------
Baca juga: In This Economy: Cara Ibu Rumah Tangga Tetap Waras dan Bahagia di Tengah Harga Kebutuhan yang Makin Mahal
------------------------------


Ternyata Banyak Kebahagiaan yang Tidak Ada di Keranjang Belanja

Aku pernah berpikir bahwa membahagiakan diri sendiri berarti sesekali membeli sesuatu.
Dan memang, tidak ada salahnya.
Ada rasa senang ketika akhirnya bisa membeli barang yang sudah lama diinginkan. Ada kepuasan ketika bisa menikmati sesuatu dari hasil kerja keras sendiri.
Tetapi semakin ke sini, aku merasa kebahagiaan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar sesuatu yang bisa dimasukkan ke keranjang belanja.

Ada rasa bahagia ketika pagi bisa berjalan dengan tenang.
Ketika bisa menikmati secangkir teh atau kopi di rumah.
Ketika menemukan buku lama yang ternyata masih menyenangkan untuk dibaca.
Ketika bisa duduk santai sambil mendengarkan lagu yang disukai.
Ketika menonton drama favorit setelah menyelesaikan pekerjaan.
Ketika bisa ngobrol dan bercanda bersama keluarga.
Atau ketika bisa berjalan-jalan sederhana tanpa harus pergi jauh.

Hal-hal seperti itu mungkin terlihat biasa.
Tetapi justru dari hal-hal biasa itulah sering kali muncul rasa bahagia yang paling tulus.


Menikmati Apa yang Sudah Kita Punya

Kadang-kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang belum kita punya.
Melihat orang lain membeli sesuatu yang baru.
Melihat orang lain pergi liburan.
Melihat rumah orang lain yang terlihat lebih bagus.
Melihat gaya hidup orang lain di media sosial.
Tanpa sadar, kita kemudian membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan yang hanya kita lihat dari layar.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di baliknya.

Karena itu, aku belajar untuk lebih sering melihat apa yang sudah ada di depan mata.

Ada buku-buku yang belum selesai dibaca.
Ada film atau drama yang belum sempat ditonton.
Ada resep sederhana yang bisa dicoba di rumah.
Ada keluarga yang bisa diajak ngobrol.
Ada teman yang bisa dihubungi.
Ada hobi yang masih bisa dilakukan.
Ada waktu untuk menulis.
Dan ada banyak hal kecil lainnya yang sebenarnya sudah cukup untuk membuat hari terasa menyenangkan.

Mungkin kita hanya perlu lebih peka untuk menyadarinya.

------------------------------
Baca juga: Self Love Bukan Hanya Me Time, Memilih Pertemanan Positif Juga Penting
------------------------------


Self-Love Tidak Harus Selalu Berupa Belanja

Aku juga semakin percaya bahwa self-love tidak harus selalu berarti membeli sesuatu untuk diri sendiri.

Merawat diri bisa sesederhana memberikan tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Berjalan kaki untuk menikmati udara pagi.
Membaca beberapa halaman buku.
Menulis ketika hati sedang ingin bercerita.
Mengurangi waktu melihat media sosial ketika mulai merasa terlalu banyak membandingkan diri.
Berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita nyaman.
Atau sekadar memberikan diri sendiri waktu untuk menikmati secangkir minuman hangat tanpa terburu-buru.

Tentu saja, membeli sesuatu yang kita sukai juga boleh menjadi salah satu bentuk apresiasi kepada diri sendiri.
Tetapi jangan sampai kita merasa harus mengeluarkan uang agar bisa merasa bahagia.
Karena kalau setiap rasa lelah selalu kita jawab dengan belanja, mungkin yang perlu kita cari bukan barang baru, tetapi cara lain untuk beristirahat dan menghargai diri sendiri.


Tidak Apa-Apa Menjalani Hidup Sesuai Kemampuan

Ada masa ketika kita bisa membeli sesuatu tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Ada pula masa ketika kita harus lebih berhati-hati.

Menurutku, keduanya sama-sama bagian dari kehidupan.

Tidak perlu merasa rendah diri ketika saat ini kita belum bisa mengikuti gaya hidup orang lain.
Tidak perlu memaksakan liburan kalau memang belum ada anggarannya.
Tidak perlu membeli barang baru kalau yang lama masih bisa digunakan.
Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena kita memilih hidup lebih sederhana.

Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Yang penting adalah bagaimana kita bisa menjalani kehidupan dengan kemampuan yang kita punya, sambil tetap berusaha memperbaiki keadaan sedikit demi sedikit.


Bahagia dalam Versi yang Lebih Sederhana

Mungkin hidup yang semakin mahal justru mengajarkan kita sesuatu yang selama ini sering terlupakan.
Bahwa bahagia tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.

Kadang bahagia ada di pagi yang tenang.
Di makanan sederhana yang disantap bersama keluarga.
Di buku yang menemani waktu luang.
Di lagu favorit yang tiba-tiba terdengar dari playlist.
Di drama yang membuat kita tersenyum sendiri.
Di percakapan kecil yang membuat hati terasa hangat.
Atau di rasa lega ketika kita berhasil melewati satu hari dengan baik.

Semua itu mungkin tidak mahal.

Tetapi nilainya tidak bisa diukur hanya dengan uang.

------------------------------
Baca juga: Perempuan Juga Perlu Melek Digital, Bukan Sekadar Supaya Tidak Gaptek
------------------------------


In This Economy, Tetap Nikmati Hidup

Aku tidak ingin hidup hanya diisi dengan kekhawatiran tentang uang.
Tetapi aku juga tidak ingin menikmati hidup dengan cara yang membuat kondisi keuangan berantakan.
Mungkin yang perlu kita cari adalah keseimbangan.
Tetap bijak mengelola uang, tetapi tidak lupa menikmati kehidupan.
Tetap punya keinginan, tetapi tahu kapan harus menunggu.
Tetap boleh membeli sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak merasa harus memiliki semuanya.
Tetap punya mimpi untuk hidup lebih baik, tetapi tidak lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki hari ini.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang bisa kita beli.

Ada banyak hal yang jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang: waktu bersama keluarga, kesehatan, hubungan yang baik, kesempatan untuk melakukan hal yang kita sukai, dan ketenangan hati.

Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang berada di fase harus lebih berhati-hati dengan pengeluaran, tidak apa-apa.
Kita tetap boleh bahagia.
Tetap boleh menikmati hidup.
Tetap boleh punya mimpi.

Hanya saja, mungkin sekarang kita belajar menikmatinya dengan cara yang lebih sederhana.

"In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.” 

Karena mungkin, merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Merasa cukup adalah belajar menghargai kebahagiaan yang sudah ada, sambil tetap berjalan menuju kehidupan yang kita inginkan.




Dulu, kalau pergi ke mana-mana, rasanya cukup membawa dompet, uang tunai, dan mungkin selembar catatan kecil berisi nomor telepon penting.
Kalau sekarang?
Rasanya hampir semua ada di dalam ponsel.
Mau membayar makanan, tinggal scan QRIS. Mau transfer uang, buka mobile banking. Mau membeli sesuatu, masuk ke marketplace. Mau memesan tiket perjalanan, buka aplikasi. Bahkan untuk berobat ke rumah sakit atau klinik tertentu, kita kadang perlu mengambil nomor antrean melalui aplikasi terlebih dahulu.
Belum lagi urusan sekolah anak, administrasi, pekerjaan, media sosial, sampai mencari informasi sehari-hari.

Hidup memang semakin dekat dengan dunia digital.
Dan di tengah perubahan itu, aku merasa perempuan juga perlu melek digital.
Bukan supaya kita terlihat modern. Bukan pula karena perempuan harus menguasai semua teknologi.
Tapi karena kemampuan menggunakan teknologi perlahan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Melek digital bukan berarti harus jago teknologi

Ketika mendengar istilah melek digital, mungkin ada yang langsung membayangkan sesuatu yang rumit.
Harus mengerti komputer. Harus bisa membuat website. Harus paham berbagai aplikasi. Harus mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Padahal menurutku tidak selalu begitu, lho.

Melek digital bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Tahu cara menggunakan mobile banking. Bisa melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Bisa mencari informasi di internet dan membedakan informasi yang masuk akal dengan berita yang belum tentu benar.
Tahu bagaimana membuat password yang aman. Tidak sembarangan memberikan kode OTP. Paham bahwa tidak semua pesan atau tautan yang masuk ke WhatsApp aman untuk diklik.
Bahkan berani mencoba aplikasi baru ketika memang membutuhkannya pun sudah menjadi bagian dari proses belajar.

Jadi, menurutku perempuan tidak perlu merasa minder hanya karena belum menguasai teknologi.
Kita boleh belajar pelan-pelan.
Yang penting jangan langsung menyerah hanya karena melihat sesuatu yang kelihatannya rumit.


Dulu bertanya kepada orang lain, sekarang kita bisa belajar sendiri

Aku sendiri merasakan bahwa perkembangan teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah.
Tetapi di sisi lain, teknologi juga membuat kita harus terus belajar.
Ada saja aplikasi baru. Ada fitur baru. Ada cara pembayaran baru. Ada perubahan sistem yang membuat kita sempat berpikir, “Ini sekarang caranya bagaimana?”
Kadang memang bikin bingung.

Tetapi kalau setiap kali menemukan sesuatu yang baru kita langsung berkata, “Ah, aku gaptek,” lalu menyerahkan semuanya kepada orang lain, lama-lama kita akan semakin bergantung.

Padahal sebenarnya kita bisa belajar.
Bisa bertanya kepada anak.
Bisa bertanya kepada teman.
Bisa mencari tutorial di internet.
Bisa mencoba sendiri sambil membaca petunjuknya.
Tidak apa-apa kalau percobaan pertama belum berhasil.
Namanya juga belajar.

Menurutku, justru di sinilah pentingnya literasi digital bagi perempuan.
Bukan untuk membuat kita menjadi ahli teknologi, tetapi supaya kita cukup percaya diri untuk menggunakan teknologi yang memang kita perlukan.


Perempuan perlu mandiri dalam urusan digital

Bayangkan ketika sedang sendirian dan harus melakukan transfer uang.
Atau ketika harus membayar sesuatu menggunakan QRIS.
Atau ketika ingin mendaftar pemeriksaan ke dokter tetapi ternyata pendaftarannya dilakukan melalui aplikasi.

Kalau kita bisa melakukannya sendiri, tentu akan terasa lebih mudah.
Bukan berarti meminta bantuan orang lain itu salah.
Tentu saja tidak.
Ada kalanya kita memang membutuhkan bantuan.
Tetapi memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan teknologi membuat kita tidak selalu harus menunggu orang lain untuk membantu.

Menurutku, ini juga bagian dari kemandirian perempuan.
Mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya seorang diri.
Mandiri adalah ketika kita memiliki cukup pengetahuan dan keberanian untuk mengurus hal-hal yang memang bisa kita lakukan sendiri.
Termasuk urusan digital.


Jangan hanya belajar menggunakan teknologi, belajar juga melindungi diri

Ada satu hal yang menurutku tidak kalah penting.
Melek digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi.
Kita juga perlu tahu bagaimana melindungi diri ketika berada di dunia digital.

Penipuan online semakin beragam. Ada pesan yang mengatasnamakan bank, kurir, marketplace, bahkan orang yang kita kenal.
Ada tautan yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata berbahaya.
Ada orang yang meminta kode OTP dengan berbagai alasan.
Karena itu, kemampuan digital sebaiknya berjalan beriringan dengan kewaspadaan.
Jangan sembarangan memberikan password.
Jangan membagikan kode OTP.
Jangan mudah percaya pada pesan yang membuat kita panik dan meminta segera melakukan sesuatu.
Dan jangan malu untuk berhenti sejenak ketika merasa ada sesuatu yang mencurigakan.

Kadang, kemampuan mengatakan “tunggu dulu, aku cek” juga merupakan bagian dari melek digital.


Perempuan tidak harus mengikuti semua tren teknologi

Di sisi lain, aku juga merasa kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua perkembangan teknologi.

Setiap hari ada saja sesuatu yang baru.
Aplikasi baru.
Tren baru.
Istilah baru.
Teknologi baru.
Kalau semuanya ingin diikuti, mungkin kita justru akan lelah.

Menurutku, yang lebih penting adalah memahami teknologi yang memang bersentuhan dengan kehidupan kita.
Kalau kita menggunakan mobile banking, pelajari cara menggunakannya dengan aman.

Kalau sering berbelanja online, pelajari cara bertransaksi dengan aman.
Kalau aktif di media sosial, pahami soal privasi dan keamanan akun.
Kalau menggunakan AI untuk membantu pekerjaan atau mencari ide, pahami juga bagaimana menggunakannya secara bijak.
Tidak harus tahu semuanya.
Cukup tahu apa yang kita butuhkan.


Belajar teknologi juga bisa dilakukan pelan-pelan

Aku percaya setiap perempuan punya kecepatan belajar yang berbeda.
Ada yang sejak awal sudah akrab dengan teknologi.
Ada yang tumbuh ketika internet belum seperti sekarang.
Ada pula yang baru mulai mengenal berbagai aplikasi setelah kebutuhan sehari-hari membuatnya harus belajar.
Tidak ada yang perlu dibandingkan.
Kita hanya perlu mulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Misalnya, hari ini belajar menggunakan QRIS.
Besok belajar mobile banking.
Lain waktu belajar mengatur keamanan akun media sosial.
Pelan-pelan saja.
Karena belajar teknologi bukan perlombaan.
Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling cepat menguasai semuanya.
Yang penting kita tidak berhenti belajar.


Perempuan boleh gaptek, tetapi jangan takut belajar

Pada akhirnya, aku tidak ingin mengatakan bahwa perempuan tidak boleh gaptek.
Menurutku, tidak tahu sesuatu itu bukan sebuah kesalahan.
Kita semua pernah menjadi pemula.
Aku pun masih sering menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak aku pahami.

Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.
Daripada berkata,
“Aku memang gaptek.”
mungkin kita bisa menggantinya dengan,
“Aku belum bisa, tapi aku bisa belajar.”
Kalimatnya sederhana, tetapi rasanya berbeda.
Ada keberanian di sana.
Ada kemauan untuk mencoba.
Dan ada kesadaran bahwa dunia akan terus berubah, sementara kita pun punya kesempatan untuk terus bertumbuh.

Karena menjadi perempuan yang melek digital bukan berarti harus menjadi perempuan yang paling pintar teknologi.
Cukup menjadi perempuan yang mau belajar, berani mencoba, dan tahu bagaimana menjaga diri di dunia digital.
Sebab hari ini teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Ia ada di tangan kita.
Di dalam dompet digital kita.
Di rekening kita.
Di pekerjaan kita.
Di sekolah anak-anak kita.
Di layanan kesehatan yang kita gunakan.

Bahkan mungkin di banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan tanpa kita sadari.
Jadi, kalau ada teknologi baru yang hari ini masih terasa membingungkan, tidak apa-apa.
Kita tidak harus langsung bisa.
Pelan-pelan saja. Belajar sedikit demi sedikit.
Karena menjadi perempuan yang terus belajar, termasuk belajar melek digital, adalah salah satu cara untuk tetap bertumbuh bersama zaman tanpa kehilangan diri sendiri.



Ada satu hal yang semakin aku pahami seiring bertambahnya usia: perempuan harus pintar.

Bukan pintar untuk mengalahkan laki-laki.
Bukan juga untuk terlihat lebih hebat dari perempuan lain.
Apalagi untuk membuktikan bahwa perempuan harus memiliki pendidikan tinggi agar dianggap berharga.

Menurutku, bukan itu maksudnya.

Perempuan perlu pintar karena hidup terus berubah. Dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan kita jalani beberapa tahun ke depan.
Karena itu, menurutku perempuan perlu terus belajar.

Belajar tak harus menunggu gelar.


Pintar Tidak Selalu Berarti Punya Pendidikan Tinggi

Aku percaya pendidikan formal itu penting. Kesempatan untuk sekolah dan kuliah setinggi mungkin tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Tetapi tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama.

Ada yang hanya bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA. Ada yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi. Ada yang harus berhenti sekolah karena keadaan keluarga.
Apakah setelah itu mereka tidak bisa menjadi perempuan pintar?
Tentu saja tidak.

Menurutku, pintar bukan hanya tentang berapa banyak gelar yang kita punya.
Pintar juga berarti mau belajar, mau mencari tahu, mampu berpikir sebelum mengambil keputusan, dan tidak mudah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar.

Perempuan yang tidak kuliah pun bisa menjadi perempuan yang banyak belajar.
Bisa belajar dari buku.
Dari pengalaman.
Dari orang lain.
Dari internet.
Dari kesalahan.
Bahkan dari kehidupan sehari-hari.

------------------------------
Baca juga: Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar
------------------------------


Mengapa Perempuan Harus Terus Belajar?

Karena hidup tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau kuliah.
Justru setelah itu, kita akan bertemu dengan begitu banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Bagaimana mengatur keuangan.
Bagaimana memahami dunia digital.
Bagaimana menghadapi perubahan.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana mendampingi anak.
Bagaimana menjaga diri.
Bagaimana mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit.
Dan masih banyak lagi.

Dunia juga terus berubah.
Apa yang kita pelajari sepuluh atau dua puluh tahun lalu belum tentu cukup untuk menghadapi kehidupan hari ini.

Karena itu, perempuan harus terus belajar bukan karena kita tidak cukup pintar, tetapi karena kehidupan selalu memberi kita hal baru untuk dipelajari.


Perempuan Pintar, Anak-anak pun Mendapat Manfaatnya

Ada alasan lain mengapa menurutku perempuan perlu terus belajar, terutama bagi perempuan yang sudah menjadi ibu.

Karena pengetahuan yang kita miliki tidak berhenti pada diri kita sendiri.

Anak-anak juga bisa merasakan manfaatnya.
Seorang ibu tidak harus memiliki gelar panjang untuk menjadi ibu yang berwawasan. Tetapi ketika seorang ibu memiliki kebiasaan membaca, bertanya, mencari tahu, dan mau belajar, kebiasaan itu bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Anak melihat ibunya membaca buku.
Anak melihat ibunya belajar menggunakan teknologi.
Anak melihat ibunya mencari informasi sebelum mempercayainya.
Anak melihat ibunya berani mencoba sesuatu yang baru meskipun awalnya tidak bisa.

Tanpa banyak kata, sebenarnya ibu sedang menunjukkan kepada anak bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan.

Menurutku, inilah salah satu alasan penting mengapa perempuan perlu pintar.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga karena ia bisa menjadi salah satu lingkungan belajar pertama bagi anak-anaknya.


"Karena Ia Akan Menjadi Ibu"

Aku teringat sebuah quote dari Dian Sastrowardoyo:

“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula.”

Aku memahami quote ini sebagai sebuah pengingat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Namun, bagiku, pendidikan tidak harus berhenti pada pendidikan formal.
Tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan untuk kuliah tinggi. Tetapi setiap perempuan tetap bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan.

Dan satu hal yang menurutku perlu digarisbawahi: kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan ibunya.
Anak tumbuh dari banyak hal. Ada pola asuh, lingkungan, pendidikan, pengalaman, kesempatan, karakter, dan banyak faktor lainnya.

Jadi aku tidak ingin menjadikan kalimat tersebut sebagai beban bagi perempuan.
Seorang ibu tidak harus menjadi "sempurna" atau selalu tahu segala sesuatu agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

Yang penting adalah kemauannya untuk terus belajar.
Karena ibu yang mau belajar akan lebih terbuka untuk belajar bersama anaknya.


Ibu yang Mau Belajar Bisa Menjadi Contoh bagi Anak

Aku percaya anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang kita katakan.

Kita bisa berkali-kali mengatakan kepada anak, “Kamu harus rajin membaca.”
Tetapi ketika anak melihat ibunya sendiri tidak pernah menyentuh buku, pesan itu mungkin terasa berbeda.
Sebaliknya, ketika anak melihat ibunya menikmati membaca, belajar sesuatu, mencoba hal baru, atau berdiskusi tentang berbagai hal, anak mendapatkan contoh nyata.

Bukan berarti anak pasti menjadi pintar hanya karena ibunya pintar.
Tetapi ibu yang terus belajar sedang menciptakan suasana yang menghargai proses belajar di dalam keluarga.
Dan menurutku, itu sangat berharga.

------------------------------
Baca juga: Woman Support Woman: Mengapa Sesama Perempuan Perlu Saling Mendukung?
------------------------------


Pintar Juga Berarti Tidak Mudah Dibohongi

Di zaman sekarang, informasi datang begitu cepat.
Setiap hari kita melihat berita, video, iklan, tips kesehatan, investasi, promosi produk, bahkan berbagai macam nasihat kehidupan di media sosial.

Tidak semuanya benar.

Karena itu perempuan perlu memiliki kebiasaan untuk mencari tahu dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Hal ini juga penting ketika kita sudah menjadi ibu.
Sebab informasi yang kita percaya kadang bukan hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada keluarga dan anak-anak.

Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal.
Kita hanya perlu mau belajar.
Kalau tidak tahu, cari tahu.
Kalau ragu, bertanya.
Kalau menemukan informasi yang berbeda, bandingkan.

Menurutku, perempuan yang mau mengatakan “aku belum tahu, tapi aku mau belajar” justru menunjukkan bahwa dirinya sedang bertumbuh.


Menjadi Ibu Bukan Berarti Berhenti Belajar

Aku juga melihat bahwa banyak perempuan yang setelah menikah dan memiliki anak merasa kehidupan belajarnya selesai.

Padahal justru ketika menjadi ibu, banyak sekali hal baru yang harus dipelajari.

Tentang anak.
Tentang keluarga.
Tentang keuangan.
Tentang teknologi.
Tentang pendidikan.
Tentang dunia yang terus berubah.

Anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman ketika kita tumbuh.
Karena itu, kita pun perlu terus memperbarui pengetahuan.
Bukan supaya bisa menjadi ibu yang sempurna.
Aku sendiri tidak percaya ada ibu yang benar-benar sempurna.

Tetapi setidaknya kita bisa menjadi ibu yang mau belajar dan bersedia berkembang bersama anak-anak kita.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita berpikir belajar harus selalu dilakukan melalui kursus, pelatihan, atau pendidikan formal.
Padahal tidak selalu begitu.

Membaca beberapa halaman buku sebelum tidur juga belajar.
Membaca artikel yang bermanfaat juga belajar.
Mendengarkan podcast yang menambah wawasan juga belajar.
Mengikuti kursus gratis di internet juga belajar.
Belajar menggunakan teknologi baru juga belajar.
Bahkan mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak kita mengerti adalah bentuk belajar.

Jadi kalau hari ini kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru, mungkin sebenarnya kita hanya perlu mengubah cara pandang.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar.


Tidak Perlu Menjadi Pintar dalam Segala Hal

Ada satu hal lagi yang menurutku penting.
Kita tidak harus mengetahui semuanya.
Tidak perlu merasa minder ketika ada orang yang lebih pintar dalam bidang tertentu.
Setiap orang punya bidangnya masing-masing.
Ada perempuan yang pintar mengelola bisnis.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang hebat menulis.
Ada yang memahami teknologi.
Ada yang memiliki kemampuan mengurus keluarga dengan luar biasa.
Ada yang punya kepedulian besar terhadap lingkungan.
Ada yang mungkin tidak punya pendidikan tinggi, tetapi memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya.

Jadi menurutku, menjadi perempuan pintar bukan perlombaan.
Kita tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.
Cukup menjadi perempuan yang hari ini mau belajar sedikit lebih banyak daripada kemarin.


Perempuan Tidak Harus Punya Gelar Tinggi untuk Menjadi Berharga

Aku ingin mengatakan ini terutama kepada perempuan yang mungkin pernah merasa minder karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan tinggi memang sesuatu yang baik, tetapi gelar bukan satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan.

Jangan merasa hidupmu berhenti hanya karena kamu tidak memiliki gelar sarjana.
Kalau masih ada keinginan untuk belajar, lanjutkan.
Baca buku.
Belajar dari internet.
Ikuti kelas yang kamu mampu.
Pelajari keterampilan baru.
Bertanya kepada orang yang lebih tahu.
Dan jangan takut memulai dari nol.
Karena belajar bukan hanya tentang mendapatkan selembar ijazah.

Belajar adalah tentang membuat diri kita terus bertumbuh.

------------------------------
Baca juga: Pentingnya Ibu Rumah Tangga Mencintai Diri Sendiri di Tengah Padatnya Rutinitas
------------------------------

Karena Perempuan Punya Hak untuk Terus Bertumbuh

Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa belajar adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.
Ketika kita belajar, kita sedang memberikan kesempatan kepada diri kita untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Kita menjadi lebih percaya diri.
Lebih berani mengambil keputusan.
Lebih terbuka terhadap perubahan.
Dan mungkin yang paling penting, kita tidak merasa bahwa hidup kita harus berhenti hanya karena usia bertambah.

Perempuan boleh belajar di usia berapa pun.
Tidak peduli sudah menikah atau belum.
Sudah menjadi ibu atau belum.
Sudah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
Punya gelar tinggi atau tidak.
Kesempatan untuk belajar selalu terbuka.


Jadi, Mengapa Perempuan Harus Pintar?

Buatku, jawabannya sederhana.
Bukan untuk menandingi siapa-siapa.

Perempuan perlu pintar agar mampu memahami kehidupannya sendiri.
Agar tidak mudah dibohongi.
Agar berani mengambil keputusan.
Agar bisa mengikuti perubahan zaman.
Agar bisa mendampingi orang-orang yang disayanginya.

Dan bagi seorang ibu, agar ia bisa menjadi contoh bahwa belajar tidak pernah mengenal kata selesai.
Karena anak-anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat yang kita berikan.
Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan.
Mereka bisa melihat bagaimana ibu mereka membaca, belajar, mencari tahu, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Dan mungkin tanpa kita sadari, dari situlah mereka belajar satu hal penting:
bahwa menjadi pintar bukan tentang mengetahui semuanya, tetapi tentang tidak pernah berhenti ingin tahu.

Jadi, kalau hari ini merasa pendidikan formal belum tinggi, jangan merasa semuanya sudah terlambat.
Kita masih bisa belajar.

Kalau dulu tidak punya kesempatan membaca banyak buku, sekarang mungkin bisa mulai dari satu buku.
Kalau dulu tidak sempat belajar teknologi, sekarang bisa mencoba sedikit demi sedikit.
Kalau dulu tidak punya kesempatan kuliah, bukan berarti perjalanan belajar kita harus berhenti.

Sebab pada akhirnya, menjadi perempuan pintar bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kita punya, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar.

Dan menurutku, perempuan yang mau terus belajar bukan hanya sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Ia juga sedang memberikan contoh kepada generasi setelahnya bahwa perempuan boleh terus bertumbuh, di usia berapa pun.

Tidak harus sempurna. Tidak harus tahu semuanya. Cukup terus belajar.

Karena belajar memang tak harus menunggu gelar.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini


Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

Motivasi Harian

Motivasi Harian

Copywriting & Content

Copywriting & Content

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • GiveAway Nyam Nyam
  • 2nd Giveaway Enny Mamito
  • Berbeda Jumlah Tanda Tanya, ternyata Beda Makna
  • Menikmati Hal-Hal Kecil di Tengah Hidup yang Makin Mahal
  • Perempuan Juga Perlu Melek Digital, Bukan Sekadar Supaya Tidak Gaptek

Kategori

Buku 29 Drama Stories 38 Fiksi 15 Indonesia-ku 25 Info & Tips 80 Jalan-jalan 25 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 73 Keuangan 6 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Layar & Musik 41 Lingkungan & Satwa 35 Lomba 28 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 21 Parenting 8 Pendidikan 4 Perempuan 18 Quotes 5 Religi 21 Resep 23 Review 126 Sejarah 6 Self Love 18 Teknologi 20

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes