Canva
“In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.”
Belakangan ini aku semakin sering berpikir bahwa menjalani hidup ternyata juga perlu belajar menyesuaikan diri.
Harga berbagai kebutuhan semakin terasa mahal. Ada banyak hal yang dulu bisa dilakukan tanpa terlalu banyak berpikir, sekarang mungkin harus dipertimbangkan kembali.
Mau makan di luar, melihat kondisi dompet dulu.
Mau membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan, bertanya pada diri sendiri: memang butuh atau hanya sedang ingin?
Mau jalan-jalan, tentu perlu melihat anggaran.
Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Hanya saja, mungkin cara kita menikmatinya perlu sedikit berubah.
Dan menurutku, itu bukan sesuatu yang harus disesali.
Justru dari sana aku belajar bahwa bahagia ternyata tidak selalu membutuhkan banyak uang.
In This Economy, Kita Tetap Boleh Bahagia
Istilah in this economy belakangan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada banyak keputusan kecil yang akhirnya membuat kita berpikir lebih panjang sebelum mengeluarkan uang.
Tetapi aku tidak ingin in this economy hanya dimaknai sebagai alasan untuk mengeluh tentang harga-harga yang semakin mahal.
Aku ingin melihatnya dari sisi yang berbeda.
Kalau memang sekarang kita harus lebih berhati-hati dengan uang, mungkin ini juga saatnya belajar membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang sebenarnya hanya kita inginkan.
Bukan berarti harus menjadi pelit.
Bukan pula berarti tidak boleh sesekali memberikan sesuatu untuk diri sendiri.
Kita tetap boleh membeli buku yang sudah lama diincar. Tetap boleh makan makanan favorit. Tetap boleh pergi jalan-jalan ketika memang ada rezekinya.
Hanya saja, semuanya dilakukan sesuai kemampuan.
Karena menurutku, menikmati hidup tidak harus selalu identik dengan mengeluarkan banyak uang.
Ternyata Banyak Kebahagiaan yang Tidak Ada di Keranjang Belanja
Aku pernah berpikir bahwa membahagiakan diri sendiri berarti sesekali membeli sesuatu.
Dan memang, tidak ada salahnya.
Ada rasa senang ketika akhirnya bisa membeli barang yang sudah lama diinginkan. Ada kepuasan ketika bisa menikmati sesuatu dari hasil kerja keras sendiri.
Tetapi semakin ke sini, aku merasa kebahagiaan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar sesuatu yang bisa dimasukkan ke keranjang belanja.
Ada rasa bahagia ketika pagi bisa berjalan dengan tenang.
Ketika bisa menikmati secangkir teh atau kopi di rumah.
Ketika menemukan buku lama yang ternyata masih menyenangkan untuk dibaca.
Ketika bisa duduk santai sambil mendengarkan lagu yang disukai.
Ketika menonton drama favorit setelah menyelesaikan pekerjaan.
Ketika bisa ngobrol dan bercanda bersama keluarga.
Atau ketika bisa berjalan-jalan sederhana tanpa harus pergi jauh.
Hal-hal seperti itu mungkin terlihat biasa.
Tetapi justru dari hal-hal biasa itulah sering kali muncul rasa bahagia yang paling tulus.
Menikmati Apa yang Sudah Kita Punya
Kadang-kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang belum kita punya.
Melihat orang lain membeli sesuatu yang baru.
Melihat orang lain pergi liburan.
Melihat rumah orang lain yang terlihat lebih bagus.
Melihat gaya hidup orang lain di media sosial.
Tanpa sadar, kita kemudian membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan yang hanya kita lihat dari layar.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di baliknya.
Karena itu, aku belajar untuk lebih sering melihat apa yang sudah ada di depan mata.
Ada buku-buku yang belum selesai dibaca.
Ada film atau drama yang belum sempat ditonton.
Ada resep sederhana yang bisa dicoba di rumah.
Ada keluarga yang bisa diajak ngobrol.
Ada teman yang bisa dihubungi.
Ada hobi yang masih bisa dilakukan.
Ada waktu untuk menulis.
Dan ada banyak hal kecil lainnya yang sebenarnya sudah cukup untuk membuat hari terasa menyenangkan.
Mungkin kita hanya perlu lebih peka untuk menyadarinya.
Self-Love Tidak Harus Selalu Berupa Belanja
Aku juga semakin percaya bahwa self-love tidak harus selalu berarti membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Merawat diri bisa sesederhana memberikan tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Berjalan kaki untuk menikmati udara pagi.
Membaca beberapa halaman buku.
Menulis ketika hati sedang ingin bercerita.
Mengurangi waktu melihat media sosial ketika mulai merasa terlalu banyak membandingkan diri.
Berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita nyaman.
Atau sekadar memberikan diri sendiri waktu untuk menikmati secangkir minuman hangat tanpa terburu-buru.
Tentu saja, membeli sesuatu yang kita sukai juga boleh menjadi salah satu bentuk apresiasi kepada diri sendiri.
Tetapi jangan sampai kita merasa harus mengeluarkan uang agar bisa merasa bahagia.
Karena kalau setiap rasa lelah selalu kita jawab dengan belanja, mungkin yang perlu kita cari bukan barang baru, tetapi cara lain untuk beristirahat dan menghargai diri sendiri.
Tidak Apa-Apa Menjalani Hidup Sesuai Kemampuan
Ada masa ketika kita bisa membeli sesuatu tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Ada pula masa ketika kita harus lebih berhati-hati.
Menurutku, keduanya sama-sama bagian dari kehidupan.
Tidak perlu merasa rendah diri ketika saat ini kita belum bisa mengikuti gaya hidup orang lain.
Tidak perlu memaksakan liburan kalau memang belum ada anggarannya.
Tidak perlu membeli barang baru kalau yang lama masih bisa digunakan.
Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena kita memilih hidup lebih sederhana.
Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Yang penting adalah bagaimana kita bisa menjalani kehidupan dengan kemampuan yang kita punya, sambil tetap berusaha memperbaiki keadaan sedikit demi sedikit.
Bahagia dalam Versi yang Lebih Sederhana
Bahwa bahagia tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.
Kadang bahagia ada di pagi yang tenang.
Di makanan sederhana yang disantap bersama keluarga.
Di buku yang menemani waktu luang.
Di lagu favorit yang tiba-tiba terdengar dari playlist.
Di drama yang membuat kita tersenyum sendiri.
Di percakapan kecil yang membuat hati terasa hangat.
Atau di rasa lega ketika kita berhasil melewati satu hari dengan baik.
Semua itu mungkin tidak mahal.
Tetapi nilainya tidak bisa diukur hanya dengan uang.
In This Economy, Tetap Nikmati Hidup
Aku tidak ingin hidup hanya diisi dengan kekhawatiran tentang uang.
Tetapi aku juga tidak ingin menikmati hidup dengan cara yang membuat kondisi keuangan berantakan.
Mungkin yang perlu kita cari adalah keseimbangan.
Tetap bijak mengelola uang, tetapi tidak lupa menikmati kehidupan.
Tetap punya keinginan, tetapi tahu kapan harus menunggu.
Tetap boleh membeli sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak merasa harus memiliki semuanya.
Tetap punya mimpi untuk hidup lebih baik, tetapi tidak lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki hari ini.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang bisa kita beli.
Ada banyak hal yang jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang: waktu bersama keluarga, kesehatan, hubungan yang baik, kesempatan untuk melakukan hal yang kita sukai, dan ketenangan hati.
Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang berada di fase harus lebih berhati-hati dengan pengeluaran, tidak apa-apa.
Kita tetap boleh bahagia.
Tetap boleh menikmati hidup.
Tetap boleh punya mimpi.
Hanya saja, mungkin sekarang kita belajar menikmatinya dengan cara yang lebih sederhana.
"In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.”
Karena mungkin, merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Merasa cukup adalah belajar menghargai kebahagiaan yang sudah ada, sambil tetap berjalan menuju kehidupan yang kita inginkan.



0 comments
Terima kasih sudah mampir ke Catatan Mamito.
Punya cerita, pendapat, atau pengalaman? Yuk, berbagi di sini.