Catatan Mamito
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Menjelang 50 tahun, aku mulai menyadari bahwa merawat kulit wajah ternyata punya tantangan sendiri.
Apalagi kalau kulit wajah masih cenderung berminyak.

Di satu sisi, wajah masih mudah terlihat mengilap dan berminyak. Tetapi di sisi lain, kulit mulai mengalami perubahan karena usia. Kadang terasa lebih kering, kusam, tidak sekenyal dulu, dan mulai muncul flek atau garis-garis halus.

Nah, di sinilah aku merasa perawatan kulit menjelang 50 tahun tidak bisa lagi disamakan dengan ketika masih berusia 20 atau 30 tahun.
Bukan berarti kita harus menggunakan lebih banyak skincare.
Justru sebaliknya.

Menurutku, semakin bertambah usia, kita perlu semakin bijak memilih skincare yang memang dibutuhkan kulit.
Tidak perlu mengikuti semua skincare yang sedang viral. Tidak perlu memiliki banyak serum hanya karena melihat rekomendasi orang lain.

------------------------------
Baca juga: Review Sabun Cair K Natural White Jeju Lemon: Antibakteri, Mencerahkan, dan Super Segar!
------------------------------

Untuk kulit berminyak menjelang 50 tahun, menurutku ada tiga skincare yang layak menjadi prioritas: moisturizer, sunscreen, dan serum.


1. Moisturizer: Kulit Berminyak Tetap Butuh Pelembap

Salah satu kesalahan yang mungkin pernah dilakukan pemilik kulit berminyak adalah menganggap bahwa kulit yang mudah berminyak tidak membutuhkan pelembap.
Padahal, kulit berminyak tetap membutuhkan hidrasi.
Yang perlu diperhatikan adalah memilih moisturizer dengan tekstur dan formula yang nyaman untuk kulit berminyak.

Aku sendiri lebih suka pelembap yang ringan, tidak terasa lengket dan tidak membuat wajah semakin terasa berat.


Salah satu produk yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Perfect Bright Moisturizer Bright + Oil Control SPF 30 PA+++.
Produk ini ditujukan untuk kulit normal hingga berminyak dan mengandung Zinc yang membantu mengontrol minyak. Di dalamnya juga terdapat SPF 30 PA+++.
Meski begitu, karena aku ingin mendapatkan perlindungan matahari yang lebih optimal, aku tetap menggunakan sunscreen khusus setelah moisturizer.

Menurutku, menemukan moisturizer yang cocok untuk kulit berminyak cukup penting.
Sebab kalau pelembap terasa terlalu berat, kita bisa menjadi malas menggunakannya.
Dan skincare yang paling bagus pun tidak akan banyak berarti kalau hanya disimpan di rak.


2. Sunscreen: Jangan Karena Kulit Berminyak Lalu Melewatkannya

Kalau ada satu skincare yang menurutku semakin penting menjelang usia 50 tahun, sunscreen adalah salah satunya.

Sering kali kita lebih sibuk mencari produk untuk mengatasi flek, kulit kusam, atau garis halus.
Padahal, melindungi kulit dari paparan sinar matahari juga merupakan bagian penting dari perawatan kulit.

Bagi pemilik kulit berminyak, tantangannya biasanya adalah mencari sunscreen yang terasa nyaman.
Aku tentu tidak ingin memakai sunscreen yang membuat wajah terasa semakin lengket atau seperti memakai lapisan tebal di atas kulit.


Salah satu pilihan yang menarik adalah Wardah UV Shield Airy Smooth Sunscreen Serum SPF 50 PA++++.
Sunscreen ini memiliki tekstur watery dan ringan dengan hasil akhir yang lebih smooth, sehingga bisa menjadi pilihan bagi pemilik kulit yang tidak menyukai sunscreen berat.

Untukku, sunscreen yang nyaman digunakan adalah nilai plus.
Karena pada akhirnya, bukan hanya soal memilih SPF yang tinggi, tetapi juga bagaimana membuat sunscreen menjadi kebiasaan sehari-hari.

Gunakan pada pagi hari dan aplikasikan ulang ketika memang diperlukan, terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan.

------------------------------
Baca juga: 7 Tips Menghilangkan Kantung Mata
------------------------------


3. Serum: Tidak Perlu Banyak, Pilih yang Sesuai Kebutuhan

Nah, kalau moisturizer dan sunscreen sudah menjadi bagian dari rutinitas, kita bisa menambahkan serum.

Tetapi aku tidak merasa bahwa menjelang 50 tahun kita harus mempunyai banyak serum.
Justru menurutku, satu serum yang sesuai dengan kebutuhan kulit jauh lebih masuk akal daripada memiliki banyak serum tetapi bingung kapan menggunakannya.

Kulit menjelang 50 tahun mungkin mulai menghadapi beberapa masalah seperti kusam, warna kulit yang tidak merata, noda atau flek yang mulai terlihat.


Salah satu serum yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Lightening 5% Niacinamide Serum Ampoule.
Kandungan niacinamide cukup populer digunakan dalam skincare untuk membantu merawat tampilan kulit agar terlihat lebih cerah dan merata, sekaligus mendukung perawatan skin barrier.

Namun sekali lagi, serum bukan berarti wajib untuk semua orang.
Kalau kulitmu sudah nyaman dengan cleanser, moisturizer, dan sunscreen, itu pun sudah merupakan rutinitas dasar yang baik.
Serum adalah tambahan ketika kita memang ingin memberikan perhatian lebih pada masalah kulit tertentu.


Kenapa Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun Perlu Perhatian Khusus?

Mungkin ada yang berpikir, “Bukankah kulit berminyak justru menguntungkan karena tidak mudah keriput?”
Ada sedikit benarnya bahwa kondisi kulit setiap orang berbeda dan tanda penuaan tidak hanya ditentukan oleh jenis kulit.

Jadi, jangan menganggap kulit berminyak berarti bebas dari masalah penuaan.

Kulit berminyak tetap bisa mengalami:
• Flek hitam
• Kulit kusam
• Garis-garis halus
• Tekstur kulit yang berubah
• Kehilangan kelembapan
• Kulit terlihat kurang kenyal

Karena itu, fokus perawatannya bukan membuat wajah menjadi sekering mungkin, tetapi menjaga keseimbangan kulit.
Kita tetap ingin mengontrol minyak tanpa mengabaikan kelembapan.
Dan kita ingin merawat kulit tanpa membuat rutinitas skincare menjadi terlalu rumit.

Rutinitas Skincare Sederhana untuk Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun

Kalau dibuat sederhana, sebenarnya rutinitasnya tidak perlu panjang.

• Pagi
Cleanser → Moisturizer → Sunscreen
• Malam
Cleanser → Serum → Moisturizer

Sudah, hanya itu.
Kalau ingin menambahkan produk lain, lakukan secara bertahap dan lihat bagaimana kulit meresponsnya.
Tidak perlu memasukkan banyak produk sekaligus.
Dengan begitu, kalau ternyata ada produk yang tidak cocok, kita juga lebih mudah mengetahui produk mana yang menjadi penyebabnya.


Menjelang 50 Tahun, Aku Tidak Ingin Melawan Usia

Ada satu hal yang semakin aku pahami menjelang 50 tahun.
Aku tidak bisa menghentikan waktu.
Garis halus mungkin akan datang.
Flek mungkin muncul.
Kulit juga tidak akan sama seperti ketika aku berusia 20 atau 30 tahun.
Dan itu tidak apa-apa.

------------------------------
Baca juga: Manfaat Menggunakan Serum Vitamin C untuk Usia 40 tahun ke atas
------------------------------

Menurutku, merawat wajah bukan berarti harus membuat diri terlihat jauh lebih muda.
Aku lebih suka melihat skincare sebagai salah satu bentuk self-care.

Cara sederhana untuk memberi perhatian kepada diri sendiri;
• Menggunakan moisturizer setelah membersihkan wajah.
• Mengoleskan sunscreen sebelum beraktivitas.
• Memakai serum ketika kulit memang membutuhkannya.

Tidak perlu berlebihan.
Tidak perlu mengikuti semua tren.
Yang penting kulit terasa nyaman dan kita konsisten merawatnya.

Karena menjelang 50 tahun, mungkin yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak skincare.
Tetapi semakin mengenal kulit kita sendiri.
Dan untuk kulit berminyak seperti kulitku, tiga hal sederhana ini sudah menjadi awal yang cukup baik:
Jaga kelembapan. Lindungi dari sinar matahari. Rawat sesuai kebutuhan.

Karena pada akhirnya, merawat wajah di usia menjelang 50 tahun bukan tentang ingin kembali menjadi 20 tahun.
Tetapi tentang menerima perubahan, sambil tetap memberikan yang terbaik untuk diri sendiri 💜






Ada kalanya kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru.

“Sudah umur segini, masih mau belajar?”
“Memangnya masih bisa?”

Pertanyaan seperti itu mungkin pernah terlintas di benak banyak perempuan. Terlebih ketika usia bertambah, kesibukan semakin banyak, dan perhatian lebih banyak tercurah untuk keluarga.

Padahal, perempuan tidak pernah terlambat untuk belajar.
Belajar tidak memiliki batas usia. Kita tidak harus kembali ke bangku sekolah atau mendapatkan gelar baru untuk disebut sedang belajar. Membaca buku, mengikuti kursus, belajar menggunakan teknologi, mencoba keterampilan baru, bahkan belajar memahami diri sendiri juga merupakan bagian dari proses belajar.


Belajar Tidak Berhenti Setelah Lulus Sekolah

Kita sering menganggap pendidikan selesai ketika sudah mendapatkan ijazah.
Setelah lulus sekolah atau kuliah, kita bekerja, menikah, mengurus rumah tangga, membesarkan anak, dan menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

Tanpa sadar, rutinitas membuat kita berhenti bertanya:

“Apa lagi yang ingin aku pelajari?”

Padahal kehidupan terus berubah.
Teknologi berkembang. Cara bekerja berubah. Informasi semakin mudah didapatkan. Hal-hal yang dulu tidak kita kenal sekarang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itulah, belajar sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.


Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai

Mungkin saat usia masih muda kita punya banyak kesempatan untuk belajar, tetapi belum tahu apa yang ingin kita lakukan.
Ketika usia bertambah, kita justru mulai mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Kita tahu apa yang kita sukai. Kita tahu kemampuan yang ingin dikembangkan. Kita juga mulai memahami hal-hal yang selama ini ingin kita coba tetapi selalu tertunda.
Jadi, kalau hari ini seorang perempuan berusia 40, 50, bahkan 60 tahun ingin belajar sesuatu yang baru, mengapa tidak?

Tidak perlu membandingkan diri dengan mereka yang sudah memulainya sejak muda.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Lebih baik memulai sekarang daripada terus menunggu sampai akhirnya tidak pernah mencoba sama sekali.


Belajar di Usia Dewasa Memang Berbeda

Belajar ketika sudah dewasa mungkin tidak sama dengan ketika kita masih sekolah.
Dulu kita belajar karena ada tugas, ujian, atau tuntutan dari orang tua dan sekolah.

Sekarang kita bisa belajar karena memang ingin.
Ingin bisa membuat konten.
Ingin belajar menulis.
Ingin memahami media sosial.
Ingin belajar menggunakan aplikasi baru.
Ingin membuka usaha kecil-kecilan.
Ingin belajar bahasa asing.
Atau mungkin sekadar ingin membaca buku dan memahami sesuatu yang selama ini membuat penasaran.

Tidak harus besar.

Satu pengetahuan baru yang kita dapatkan hari ini tetap merupakan sebuah kemajuan.


Perempuan Boleh Punya Ruang untuk Bertumbuh

Menjadi istri dan ibu bukan berarti seorang perempuan harus berhenti berkembang.

Kita boleh mencintai keluarga sekaligus tetap memiliki mimpi.
Kita boleh sibuk mengurus rumah tetapi tetap menyediakan waktu untuk membaca.
Kita boleh menjadi ibu rumah tangga sekaligus belajar keterampilan yang mungkin suatu hari bisa menjadi pekerjaan atau sumber penghasilan.
Kita juga boleh memiliki kehidupan yang terus bertumbuh meskipun usia tidak lagi muda.

Karena menjadi perempuan bukan hanya tentang menjalankan peran untuk orang lain. Kita juga tetap memiliki diri sendiri yang perlu dirawat dan dikembangkan.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita membayangkan belajar harus membutuhkan banyak waktu dan biaya.
Padahal tidak selalu demikian.

Kita bisa memulainya dari 15–30 menit sehari.
Membaca beberapa halaman buku.
Menonton video pembelajaran.
Mencoba aplikasi baru.
Mengikuti kelas gratis.
Mencatat sesuatu yang baru kita pahami.

Bahkan bertanya kepada orang lain yang lebih memahami suatu hal juga merupakan proses belajar.
Yang terpenting bukan seberapa cepat kita menguasainya, tetapi kemauan untuk terus mencoba.


Jangan Takut Merasa “Ketinggalan”

Salah satu hal yang sering membuat perempuan dewasa ragu untuk belajar adalah perasaan bahwa dirinya sudah tertinggal jauh.
Melihat orang lain sudah mahir menggunakan teknologi, sukses menjalankan bisnis, produktif membuat konten, atau memiliki berbagai keterampilan terkadang membuat kita berpikir:
“Kenapa aku baru mulai sekarang?”

Daripada terus memikirkan hal itu, lebih baik bertanya:
“Apa yang bisa aku pelajari mulai hari ini?”
Kita tidak perlu mengejar kehidupan orang lain.
Kita hanya perlu menjadi sedikit lebih baik dibanding diri kita yang kemarin.


Pendidikan dan Belajar Membuat Perempuan Terus Bertumbuh

Pendidikan memberikan pengetahuan, tetapi proses belajar membuat kita terus bertumbuh.
Dengan belajar, kita menjadi lebih terbuka terhadap perubahan. Kita lebih percaya diri menghadapi hal-hal baru dan tidak mudah merasa takut ketika dunia berubah.

Bagi seorang perempuan, pengetahuan juga dapat menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
Itulah sebabnya pentingnya pendidikan bagi perempuan tidak berhenti ketika seseorang sudah menyelesaikan sekolah atau kuliah.
Belajar dapat berlangsung sepanjang hidup.


Tidak Harus Menunggu Momen yang Tepat

Sering kali kita mengatakan:
“Nanti kalau anak sudah besar.”
“Nanti kalau punya waktu.”
“Nanti kalau keadaan sudah lebih baik.”
“Nanti kalau sudah tidak sibuk.”
Masalahnya, “nanti” bisa berlangsung sangat lama.

Kalau ada sesuatu yang ingin dipelajari, mungkin kita tidak perlu menunggu semuanya sempurna.
Mulailah dari apa yang ada.
Mulailah dari kemampuan yang kita punya.
Mulailah dari waktu yang tersedia.
Tidak perlu langsung hebat.
Yang penting mulai.


Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar

Pada akhirnya, belajar bukan tentang usia.
Bukan tentang siapa yang lebih cepat.
Bukan juga tentang siapa yang paling banyak memiliki gelar.
Belajar adalah tentang keinginan untuk terus tumbuh dan membuka diri terhadap hal-hal baru.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa ingin belajar sesuatu, jangan terlalu sibuk memikirkan apakah kamu sudah terlambat.
Barangkali memang waktunya baru sekarang.
Dan tidak apa-apa.
Karena setiap perempuan memiliki perjalanan masing-masing.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, selama kita masih memiliki keinginan untuk mencoba.
Mungkin kita tidak bisa kembali menjadi perempuan berusia 20 tahun.
Tetapi kita masih bisa menjadi perempuan berusia 40, 50, atau 60 tahun yang terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan.
Dan menurutku, itu adalah salah satu bentuk keberanian yang indah.


"Kita tidak akan menjadi lebih bersinar hanya karena berhasil meredupkan cahaya perempuan lain. Justru ketika kita saling menerangi, dunia akan menjadi lebih indah."

Beberapa waktu terakhir, aku sering memperhatikan satu hal. Baik di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial, tidak sedikit perempuan yang justru lebih mudah mengomentari, membandingkan, bahkan menjatuhkan perempuan lain.

Ada yang mengomentari penampilan. Ada yang meremehkan usaha kecil yang baru dirintis. Ada pula yang sinis ketika melihat perempuan lain berhasil meraih impiannya.

Jujur, aku sering bertanya dalam hati, mengapa kita begitu sulit ikut bahagia melihat perempuan lain bersinar?
Padahal hidup sudah cukup penuh tantangan. Mengapa kita masih harus saling menjatuhkan?

------------------------------
Baca juga: Pentingnya Ibu Rumah Tangga Mencintai Diri Sendiri di Tengah Padatnya Rutinitas
------------------------------

Aku menulis artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, tulisan ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri bahwa kita selalu punya pilihan: menjadi perempuan yang saling menjatuhkan atau menjadi perempuan yang saling menguatkan.


Ketika Perempuan Merasa Harus Bersaing

Menurutku, tidak ada perempuan yang terlahir untuk saling membenci. Banyak sikap negatif justru lahir dari rasa tidak percaya diri, pengalaman hidup, atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Media sosial juga sering membuat kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. 
Saat melihat orang lain sukses, memiliki bisnis yang berkembang, keluarga yang terlihat harmonis, atau karier yang terus naik, tanpa sadar kita mulai bertanya, "Kenapa hidupku belum seperti itu?"
Kalau perasaan itu tidak dikelola, rasa kagum bisa berubah menjadi iri. Dan iri hati sering kali muncul dalam bentuk komentar yang menyakitkan atau sikap yang meremehkan.
Padahal, kesuksesan perempuan lain tidak pernah mengurangi kesempatan kita untuk sukses juga.


Woman Support Woman, Lebih dari Sekadar Tren

Belakangan ini istilah woman support woman semakin sering terdengar. Sayangnya, menurutku maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar menuliskannya sebagai caption di media sosial.

Woman support woman berarti sesama perempuan saling mendukung, saling menghargai, dan saling menguatkan tanpa harus merasa tersaingi.
Bukan berarti kita harus selalu sepakat dalam segala hal. Kita tetap boleh memiliki pendapat yang berbeda. Namun, kita bisa menyampaikannya dengan cara yang baik, tanpa merendahkan atau mempermalukan.

Karena setiap perempuan sedang berjuang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang sedang membangun usaha dari nol. Ada yang sedang belajar menjadi ibu. Ada yang sedang berusaha bangkit setelah gagal. Ada pula yang diam-diam sedang berjuang menghadapi masalah yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.


Aku Pernah Merasakan Indahnya Woman Support Woman

Kalau ada satu hal yang membuatku tetap bertahan di dunia blogging hingga hari ini, salah satunya adalah karena aku bertemu banyak perempuan hebat.

Sudah lebih dari belasan tahun aku menjadi blogger. Selama perjalanan itu, aku mengenal banyak perempuan yang tidak pelit berbagi ilmu, saling menyemangati, bahkan membuka jalan agar teman-temannya juga bisa berkembang.

Ada yang dengan sabar mengajarkan hal-hal baru. Ada yang membagikan informasi lomba blog atau peluang kerja sama. Ada yang sekadar mengirim pesan singkat, "Wah keren mbak, semangat ya!"
Mungkin bagi mereka itu hal sederhana. Tapi bagiku, dukungan kecil seperti itu sangat berarti.

Pengalaman itu membuatku percaya bahwa woman support woman bukan sekadar slogan. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana dukungan dari sesama perempuan bisa membuat seseorang lebih percaya diri untuk terus berkarya.

Karena itu, setiap kali melihat perempuan lain memulai usaha, menulis buku, membangun bisnis, membangun komunitas, atau berani mengejar mimpinya, aku ingin ikut memberikan semangat.

------------------------------
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental Perempuan dengan Menulis
------------------------------

Aku percaya, tidak ada ruginya mendukung perempuan lain. Justru ketika kita saling menguatkan, kita sedang menciptakan lingkungan yang lebih hangat untuk bertumbuh bersama.


Dukungan Kecil Bisa Memberikan Dampak Besar

Aku percaya, menjadi perempuan yang mendukung perempuan lain sebenarnya tidak sulit.

Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana.
Memberikan pujian yang tulus.

• Mengucapkan selamat atas pencapaian teman.
• Membagikan usaha atau karya perempuan lain.
• Tidak ikut bergosip atau menyebarkan komentar negatif.
• Memberikan semangat ketika ada teman yang sedang berada di titik terendah hidupnya.
• Tidak pelit memberi apresiasi.

Mungkin bagi kita itu hanya tindakan kecil. Namun bagi orang lain, dukungan sederhana itu bisa menjadi alasan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri.


Aku Ingin Menjadi Perempuan yang Ikut Bersinar Bersama

Semakin bertambah usia, aku justru semakin sadar bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan.
Aku senang melihat semakin banyak perempuan yang berani berkarya, membangun bisnis, menulis, menjadi kreator konten, atau mengejar impian yang selama ini tertunda.

Kalau ada perempuan lain yang berhasil, aku ingin belajar ikut bertepuk tangan.
Karena aku percaya, cahaya orang lain tidak akan membuat cahayaku redup.

Sebaliknya, ketika kita saling mendukung, semakin banyak perempuan yang berani melangkah. Dan bukankah itu jauh lebih indah daripada saling menjatuhkan?


Mari Menjadi Perempuan yang Saling Menguatkan

Kalau hari ini kita bisa memilih antara menghakimi atau memberi semangat, aku berharap kita memilih memberi semangat.

Kalau hari ini kita bisa memilih antara iri atau ikut bahagia, semoga kita belajar untuk ikut merayakan keberhasilan perempuan lain.
Karena dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak perempuan yang saling bersaing.
Dunia membutuhkan lebih banyak perempuan yang saling menghargai, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Semoga setelah menulis dan membaca tulisan ini, kita tidak lagi sibuk bertanya, "Mengapa dia bisa?", tetapi mulai bertanya, "Apa yang bisa kulakukan untuk ikut mendukungnya?"

Aku percaya, dukungan kecil yang kita berikan mungkin terlihat biasa bagi kita. Namun, bagi orang lain, dukungan itu bisa menjadi alasan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri, berani memulai, atau tetap bertahan di tengah perjalanan yang tidak mudah.

Sebagai perempuan, kita sama-sama memiliki cerita, perjuangan, dan luka yang mungkin tidak terlihat. Karena itu, alangkah indahnya jika kita saling merangkul, bukan saling menjatuhkan. Saling memberi ruang untuk bertumbuh, bukan saling berlomba menjadi yang paling hebat.

Aku juga masih terus belajar menjadi perempuan yang mampu ikut bahagia melihat perempuan lain bersinar. Bukan karena aku selalu berhasil melakukannya, tetapi karena aku yakin dunia akan menjadi tempat yang lebih hangat ketika kita memilih saling menguatkan.

------------------------------
Baca juga: Support System Seorang Emak Blogger
------------------------------

Bagiku, cantik bukan hanya tentang penampilan. Cantik adalah tentang hati yang lapang, yang tidak takut melihat perempuan lain sukses, yang tulus memberi apresiasi, dan yang percaya bahwa rezeki, kesempatan, dan kebahagiaan setiap orang sudah memiliki jalannya masing-masing.

Kalau suatu hari nanti ada seseorang yang merasa lebih percaya diri karena dukungan kecil yang kuberikan, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.
Karena pada akhirnya, perempuan yang saling mendukung akan melahirkan lebih banyak perempuan hebat. Dan dunia selalu membutuhkan lebih banyak kebaikan seperti itu 💜

Bagaimana menurutmu?
Pernahkah kamu merasakan dukungan dari sesama perempuan? Atau justru pernah mengalami pengalaman yang membuatmu merasa dijatuhkan?

Yuk, ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu, ceritamu bisa menjadi penguat bagi perempuan lain yang sedang membaca artikel ini.






Kalau ada satu alasan yang membuatku tertarik menonton drama Korea Our Sticky Love, tentu saja salah satunya adalah Jung Hae-in 💜
Sebagai penggemar Jung Hae-in, rasanya hampir selalu ada alasan untuk menonton drama yang dibintanginya. Kali ini ia hadir sebagai Jang Tae-ha (Jung Hae-in), seorang mantan petinju yang kemudian menjadi pelatih tinju.

Sementara itu, pemeran utama wanitanya adalah Go Eun-sae (Ha Young), seorang jaksa yang kehilangan ingatannya setelah mengalami sebuah insiden.
Dari sinilah kisah mereka dimulai.
Jang Tae-ha sebenarnya bukan kekasih Eun-sae seperti yang ia katakan. Ia mengaku sebagai pacar Eun-sae karena ingin melindunginya dari bahaya. Eun-sae yang kehilangan ingatan akhirnya harus percaya kepada pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Yang membuatku justru semakin menyukai karakter Tae-ha adalah kesabarannya menemani Eun-sae.

Dia tidak memaksa Eun-sae untuk segera mengingat dirinya. Tae-ha dengan sabar berada di sampingnya, menjaganya, membantunya melewati hari-hari ketika ingatannya belum pulih, sekaligus perlahan membuat Eun-sae merasa nyaman dan aman bersamanya.

Awalnya mungkin hanya sebuah kebohongan.
Tetapi semakin lama mereka bersama, hubungan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Dan di sinilah bagian yang paling aku suka.
Jang Tae-ha dan Go Eun-sae akhirnya benar-benar saling jatuh cinta. 
Eun-sae mungkin kehilangan ingatannya, tetapi ia perlahan mengenal Tae-ha melalui sikap dan kebaikannya. Sementara Tae-ha yang sejak awal menyimpan perasaan kepada Eun-sae akhirnya mendapatkan kesempatan untuk benar-benar dicintai olehnya.

------------------------------
Baca juga: Love Untangled, Nostalgia Cinta Pertama di Era 90-an!
------------------------------

Menurutku, perjalanan cinta mereka terasa manis justru karena cintanya tumbuh perlahan dari kebersamaan.
Bukan sekadar karena mereka punya masa lalu, tetapi karena mereka kembali menemukan alasan untuk saling memilih.


Chemistry Jung Hae-in dan Ha Young


Aku menikmati chemistry Jung Hae-in dan Ha Young dalam drama yang tayang 7 Agustus 2026 ini.
Jung Hae-in memang punya kemampuan memainkan karakter pria yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya menyimpan banyak perasaan. Sebagai Tae-ha, ia tidak perlu terlalu banyak dialog romantis untuk membuat penonton ikut baper.
Tatapan, ekspresi wajah, dan cara Tae-ha memperlakukan Eun-sae sudah cukup sih menurutku.
Apalagi aku memang ngefans banget dengan Jung Hae-in. Jadi melihatnya sebagai Tae-ha yang sabar, perhatian, protektif, tetapi juga agak polos dalam urusan cinta tentu menjadi bonus tersendiri buatku (eeaaa...)


Our Sticky Love Happy Ending atau Tidak?


Tenang, ini HAPPY ENDING!
Ini penting banget buatku karena aku termasuk penonton yang lebih suka drama romantis dengan akhir bahagia.
Setelah melewati berbagai konflik, ancaman, rahasia, dan kesalahpahaman, Jang Tae-ha (Jung Hae-in) dan Go Eun-sae (Ha Young) akhirnya tetap bersama dan menikah. 
Eun-sae juga mendapatkan kembali ingatannya, tetapi perasaannya kepada Tae-ha tidak berubah. 

Justru menurutku ini yang membuat ending-nya terasa manis.
Eun-sae tidak memilih Tae-ha hanya karena hubungan mereka di masa lalu. Setelah ingatannya kembali dan mengetahui semua kebenaran, dia tetap memilih Tae-ha karena memang mencintainya.

Tae-ha pun akhirnya mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia. Ia kembali ke dunia tinju sebagai pelatih, sedangkan Eun-sae melanjutkan pekerjaannya sebagai jaksa. 

Jadi untuk kamu yang sama sepertiku, nggak kuat kalau ending-nya sad ending, Our Sticky Love aman ditonton sampai tamat. 

------------------------------
Baca juga: Once Upon a Small Town Drama Korea Romantis yang manis di Pedesaan
------------------------------

Menurutku, Our Sticky Love cocok banget untuk penonton yang menyukai drama Korea romantic comedy, kisah cinta yang berkembang perlahan, male lead yang sabar dan perhatian, sedikit misteri, serta happy ending.
Memang, ceritanya tidak selalu ringan. Mulai sekitar pertengahan hingga menjelang akhir, unsur kriminal dan misterinya semakin kuat. Tetapi hubungan Tae-ha dan Eun-sae tetap menjadi daya tarik utama drama ini.

Dan kalau ditanya apa yang paling aku suka?
Jang Tae-ha (Jung Hae-in), tentu saja! 😂❤️
Tapi lebih dari sekadar karena aku ngefans pada Jung Hae-in, aku benar-benar suka melihat bagaimana Tae-ha dengan sabar menemani Eun-sae ketika ingatannya belum pulih.
Dari hubungan yang awalnya penuh kebohongan, mereka akhirnya menemukan cinta yang sebenarnya.
Dan bukankah itu yang membuat kisah mereka terasa manis?

Rating pribadiku: ⭐ 8,5/10
Kalau kamu penggemar Jung Hae-in dan suka romcom dengan happy ending, menurutku Our Sticky Love layak masuk watchlist. ❤️







Penderita diabetes itu harus olahraga, tapi juga harus hati-hati. Soalnya, aktivitas olahraga memang memberikan banyak manfaat baik untuk tubuh. Meski demikian, kalau melakukannya kurang sesuai juga bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan. 


Penting nggak sih olahraga untuk penderita diabetes? 

Jawabannya penting banget, ya. Sebab, melansir laman National Institute of Health, diabetes melitus itu merupakan masalah kesehatan yang memicu komplikasi yang menyerang pembuluh darah besar dan kecil dalam tubuh.

Sementara itu, dengan diabetesi rutin melakukan olahraga maka bisa banget nih mengurangi risiko kardiovaskular dan mortalitas, mendukung pengelolaan berat badan, dan meningkatkan kontrol glikemik.

Nah, bagaimana sih olahraga untuk diabetes? Artikel ini akan menunjukan berbagai jenis olahraga yang bisa kamu lakukan. Selain itu, juga waktu terbaik melakukannya, hal-hal yang dilarang serta yang mendukungnya. Yuk, simak di bawah ini! 


Olahraga untuk Penderita Diabetes
 
1. Jalan Kaki 

Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah, dan aman untuk dilakukan. Kamu bisa memulai dengan berjalan selama 30 menit setiap hari atau minimal 150 menit per minggu. Jalan kaki setelah makan juga dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah konsumsi makanan.


2. Bersepeda 

Bersepeda termasuk latihan aerobik yang membantu meningkatkan kesehatan jantung sekaligus membakar kalori. Olahraga ini juga relatif aman bagi penderita diabetes karena tidak memberikan tekanan berlebih pada sendi.


3. Berenang 

Berenang menjadi pilihan yang baik terutama bagi penderita diabetes yang memiliki masalah sendi atau obesitas. Aktivitas ini melatih hampir seluruh otot tubuh tanpa memberikan beban berat pada lutut maupun pergelangan kaki. 

 
4. Senam atau Aerobik Ringan 

Senam ringan dapat membantu meningkatkan kebugaran tubuh, menjaga berat badan, serta memperbaiki kontrol gula darah. Pilih gerakan yang sesuai dengan kondisi fisik dan kemampuan tubuhmu. 


5. Latihan Kekuatan atau Beban

Latihan menggunakan resistance band, dumbbell ringan, atau berat badan sendiri dapat membantu meningkatkan massa otot. Semakin banyak massa otot yang dimiliki, semakin efektif tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi. 


Itulah 5 jenis olahraga yang bisa diabetesi lakukan, baik siang hari maupun malam hari. Memilih salah satu atau beberapa olahraga akan memberikanmu hasil yang maksimal, terutama jika dilakukan secara konsisten. 


Waktu Olahraga untuk Penderita Diabetes
 
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah kapan waktu olahraga untuk penderita diabetes yang paling baik? 

Secara umum, waktu terbaik berolahraga adalah sekitar 1–3 jam setelah makan. Pada periode ini, kadar gula darah biasanya sedang meningkat sehingga tubuh dapat memanfaatkannya sebagai sumber energi selama aktivitas fisik seperti berolahraga.

Nah, beberapa manfaat melakukan olahraga pada waktu yang telah direkomendasikan, misalnya setelah makan antara lain:

• Membantu mengurangi lonjakan gula darah.
• Menurunkan kadar gula darah pascamakan 
• Mengurangi risiko hiperglikemia.

Namun, waktu olahraga yang paling efektif tetaplah waktu yang dapat kamu lakukan secara konsisten setiap hari. 

Jika kamu menggunakan insulin atau obat penurun gula darah tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan jadwal olahraga yang paling aman untuk mencegah hipoglikemia. 

 
Adakah Olahraga yang Dilarang untuk Penderita Diabetes?
 
Pada dasarnya, tidak ada olahraga yang sepenuhnya dilarang untuk penderita diabetes. Namun, beberapa aktivitas perlu dilakukan dengan hati-hati atau memerlukan persetujuan dokter terlebih dahulu.

Berikut beberapa jenis olahraga yang harus kamu waspadai sebagai penderita diabetes: 


1. Olahraga Intensitas Sangat Tinggi 

Latihan yang terlalu berat seperti angkat beban berat dapat menyebabkan lonjakan hormon stres. Hal ini justru meningkatkan kadar gula darah pada sebagian orang. Akibatnya, bisa terjadi lonjakan gula darah yang bisa membahayakan tubuh. 


2. Aktivitas Berisiko Cedera Tinggi 

Olahraga kontak fisik atau aktivitas ekstrem seperti bela diri atau panjat tebing dapat meningkatkan risiko cedera. Bagi penderita diabetes, terutama yang sudah mengalami komplikasi saraf atau gangguan keseimbangan, olahraga ini sangat tidak direkomendasikan.

 
3. Aktivitas yang Membebani Kaki Berlebihan 

Penderita diabetes yang mengalami neuropati diabetik perlu berhati-hati terhadap olahraga yang memberikan tekanan berlebih pada kaki. Alasannya karena berisiko menyebabkan luka yang sulit sembuh. 


4. Latihan Berat Saat Gula Darah Tidak Stabil 

Jika kadar gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah, sebaiknya tunda olahraga hingga kondisi kembali stabil. Selanjutnya, diabetesi bisa nih melakukan beberapa langkah berikut agar lebih aman: 

• Periksa gula darah sebelum dan sesudah olahraga.
• Gunakan alas kaki yang nyaman.
• Siapkan air minum yang cukup.

Hentikan olahraga jika muncul pusing, gemetar, atau sesak napas.


Selain Olahraga, Pastikan Gula Darah Seimbang dengan Minum Susu Almond Rendah Gula




Olahraga memang berperan penting dalam membantu mengontrol diabetes. Namun, hasil yang optimal juga perlu didukung dengan pola makan sehat dan pemilihan minuman yang tepat. 

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah susu almond rendah gula. Dibandingkan susu dengan kandungan gula tinggi, susu almond umumnya memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah sehingga dapat menjadi alternatif bagi kamu yang sedang menjaga kadar gula darah. 

Selain itu, susu almond seperti You & Milk Diabalance juga mengandung berbagai nutrisi penting seperti vitamin E yang dikenal sebagai antioksidan untuk membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Bahkan, dilengkapi juga dengan isomaltulosa dan multigrain dengan indeks glikemik yang rendah. 

Oleh karenanya, mengonsumsi susu almond You & Milk Diabalance sangat baik untuk: 

• Menjaga gula darah tetap stabil. 
• Membantu mencegah dan mengelola diabetes. 
• Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian. 

Jadi, selain diabetesi rutin melakukan olahraga, mendukung gaya hidup sehat dengan mengonsumsi susu sehat keluarga You and Milk sangatlah direkomendasikan. 
Yuk, #SegelasYou&MilkDulu setiap hari untuk dukung kesehatan tubuh harianmu!







Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini


Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

Motivasi Harian

Motivasi Harian

Copywriting & Content

Copywriting & Content

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • Giveaway Tebak Foto
  • Mata Kering Bisa Bikin Drama, Atasi dengan Insto Dry Eyes Saja!
  • Woman Support Woman: Mengapa Sesama Perempuan Perlu Saling Mendukung?
  • Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar
  • Nasi Tumpang

Kategori

BTS 5 Buku 29 Dian Sastro & Nicholas Saputra 4 Drama Stories 37 Enid Blyton 15 Fiksi 15 Film 21 Indonesia-ku 36 Info & Tips 80 Jalan-jalan 25 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 74 Keuangan 5 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Lingkungan Alam 26 Lomba 30 Musik 17 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 25 Parenting 8 Pendidikan 3 Perempuan 14 Quotes 5 Religi 21 Resep 23 Review 130 Satwa 21 Sejarah 6 Self Love 15 Teknologi 19

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes