Catatan Mamito
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Ada satu hal yang semakin aku pahami seiring bertambahnya usia: perempuan harus pintar.

Bukan pintar untuk mengalahkan laki-laki.
Bukan juga untuk terlihat lebih hebat dari perempuan lain.
Apalagi untuk membuktikan bahwa perempuan harus memiliki pendidikan tinggi agar dianggap berharga.

Menurutku, bukan itu maksudnya.

Perempuan perlu pintar karena hidup terus berubah. Dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan kita jalani beberapa tahun ke depan.
Karena itu, menurutku perempuan perlu terus belajar.

Belajar tak harus menunggu gelar.


Pintar Tidak Selalu Berarti Punya Pendidikan Tinggi

Aku percaya pendidikan formal itu penting. Kesempatan untuk sekolah dan kuliah setinggi mungkin tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Tetapi tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama.

Ada yang hanya bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA. Ada yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi. Ada yang harus berhenti sekolah karena keadaan keluarga.
Apakah setelah itu mereka tidak bisa menjadi perempuan pintar?
Tentu saja tidak.

Menurutku, pintar bukan hanya tentang berapa banyak gelar yang kita punya.
Pintar juga berarti mau belajar, mau mencari tahu, mampu berpikir sebelum mengambil keputusan, dan tidak mudah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar.

Perempuan yang tidak kuliah pun bisa menjadi perempuan yang banyak belajar.
Bisa belajar dari buku.
Dari pengalaman.
Dari orang lain.
Dari internet.
Dari kesalahan.
Bahkan dari kehidupan sehari-hari.


Mengapa Perempuan Harus Terus Belajar?

Karena hidup tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau kuliah.
Justru setelah itu, kita akan bertemu dengan begitu banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Bagaimana mengatur keuangan.
Bagaimana memahami dunia digital.
Bagaimana menghadapi perubahan.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana mendampingi anak.
Bagaimana menjaga diri.
Bagaimana mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit.
Dan masih banyak lagi.

Dunia juga terus berubah.
Apa yang kita pelajari sepuluh atau dua puluh tahun lalu belum tentu cukup untuk menghadapi kehidupan hari ini.

Karena itu, perempuan harus terus belajar bukan karena kita tidak cukup pintar, tetapi karena kehidupan selalu memberi kita hal baru untuk dipelajari.


Perempuan Pintar, Anak-anak pun Mendapat Manfaatnya

Ada alasan lain mengapa menurutku perempuan perlu terus belajar, terutama bagi perempuan yang sudah menjadi ibu.

Karena pengetahuan yang kita miliki tidak berhenti pada diri kita sendiri.

Anak-anak juga bisa merasakan manfaatnya.
Seorang ibu tidak harus memiliki gelar panjang untuk menjadi ibu yang berwawasan. Tetapi ketika seorang ibu memiliki kebiasaan membaca, bertanya, mencari tahu, dan mau belajar, kebiasaan itu bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Anak melihat ibunya membaca buku.
Anak melihat ibunya belajar menggunakan teknologi.
Anak melihat ibunya mencari informasi sebelum mempercayainya.
Anak melihat ibunya berani mencoba sesuatu yang baru meskipun awalnya tidak bisa.

Tanpa banyak kata, sebenarnya ibu sedang menunjukkan kepada anak bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan.

Menurutku, inilah salah satu alasan penting mengapa perempuan perlu pintar.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga karena ia bisa menjadi salah satu lingkungan belajar pertama bagi anak-anaknya.


"Karena Ia Akan Menjadi Ibu"

Aku teringat sebuah quote yang sering dikaitkan dengan Dian Sastro:

“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula.”

Aku memahami quote ini sebagai sebuah pengingat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Namun, bagiku, pendidikan tidak harus berhenti pada pendidikan formal.
Tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan untuk kuliah tinggi. Tetapi setiap perempuan tetap bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan.

Dan satu hal yang menurutku perlu digarisbawahi: kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan ibunya.
Anak tumbuh dari banyak hal. Ada pola asuh, lingkungan, pendidikan, pengalaman, kesempatan, karakter, dan banyak faktor lainnya.

Jadi aku tidak ingin menjadikan kalimat tersebut sebagai beban bagi perempuan.
Seorang ibu tidak harus menjadi "sempurna" atau selalu tahu segala sesuatu agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

Yang penting adalah kemauannya untuk terus belajar.
Karena ibu yang mau belajar akan lebih terbuka untuk belajar bersama anaknya.


Ibu yang Mau Belajar Bisa Menjadi Contoh bagi Anak

Aku percaya anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang kita katakan.

Kita bisa berkali-kali mengatakan kepada anak, “Kamu harus rajin membaca.”
Tetapi ketika anak melihat ibunya sendiri tidak pernah menyentuh buku, pesan itu mungkin terasa berbeda.
Sebaliknya, ketika anak melihat ibunya menikmati membaca, belajar sesuatu, mencoba hal baru, atau berdiskusi tentang berbagai hal, anak mendapatkan contoh nyata.

Bukan berarti anak pasti menjadi pintar hanya karena ibunya pintar.
Tetapi ibu yang terus belajar sedang menciptakan suasana yang menghargai proses belajar di dalam keluarga.
Dan menurutku, itu sangat berharga.


Pintar Juga Berarti Tidak Mudah Dibohongi

Di zaman sekarang, informasi datang begitu cepat.
Setiap hari kita melihat berita, video, iklan, tips kesehatan, investasi, promosi produk, bahkan berbagai macam nasihat kehidupan di media sosial.

Tidak semuanya benar.

Karena itu perempuan perlu memiliki kebiasaan untuk mencari tahu dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Hal ini juga penting ketika kita sudah menjadi ibu.
Sebab informasi yang kita percaya kadang bukan hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada keluarga dan anak-anak.


Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal.

Kita hanya perlu mau belajar.
Kalau tidak tahu, cari tahu.
Kalau ragu, bertanya.
Kalau menemukan informasi yang berbeda, bandingkan.

Menurutku, perempuan yang mau mengatakan “aku belum tahu, tapi aku mau belajar” justru menunjukkan bahwa dirinya sedang bertumbuh.


Menjadi Ibu Bukan Berarti Berhenti Belajar

Aku juga melihat bahwa banyak perempuan yang setelah menikah dan memiliki anak merasa kehidupan belajarnya selesai.

Padahal justru ketika menjadi ibu, banyak sekali hal baru yang harus dipelajari.

Tentang anak.
Tentang keluarga.
Tentang keuangan.
Tentang teknologi.
Tentang pendidikan.
Tentang dunia yang terus berubah.

Anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman ketika kita tumbuh.
Karena itu, kita pun perlu terus memperbarui pengetahuan.
Bukan supaya bisa menjadi ibu yang sempurna.
Aku sendiri tidak percaya ada ibu yang benar-benar sempurna.

Tetapi setidaknya kita bisa menjadi ibu yang mau belajar dan bersedia berkembang bersama anak-anak kita.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita berpikir belajar harus selalu dilakukan melalui kursus, pelatihan, atau pendidikan formal.
Padahal tidak selalu begitu.

Membaca beberapa halaman buku sebelum tidur juga belajar.
Membaca artikel yang bermanfaat juga belajar.
Mendengarkan podcast yang menambah wawasan juga belajar.
Mengikuti kursus gratis di internet juga belajar.
Belajar menggunakan teknologi baru juga belajar.
Bahkan mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak kita mengerti adalah bentuk belajar.

Jadi kalau hari ini kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru, mungkin sebenarnya kita hanya perlu mengubah cara pandang.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar.


Tidak Perlu Menjadi Pintar dalam Segala Hal

Ada satu hal lagi yang menurutku penting.
Kita tidak harus mengetahui semuanya.
Tidak perlu merasa minder ketika ada orang yang lebih pintar dalam bidang tertentu.
Setiap orang punya bidangnya masing-masing.
Ada perempuan yang pintar mengelola bisnis.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang hebat menulis.
Ada yang memahami teknologi.
Ada yang memiliki kemampuan mengurus keluarga dengan luar biasa.
Ada yang punya kepedulian besar terhadap lingkungan.
Ada yang mungkin tidak punya pendidikan tinggi, tetapi memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya.

Jadi menurutku, menjadi perempuan pintar bukan perlombaan.
Kita tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.
Cukup menjadi perempuan yang hari ini mau belajar sedikit lebih banyak daripada kemarin.


Perempuan Tidak Harus Punya Gelar Tinggi untuk Menjadi Berharga

Aku ingin mengatakan ini terutama kepada perempuan yang mungkin pernah merasa minder karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan tinggi memang sesuatu yang baik, tetapi gelar bukan satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan.

Jangan merasa hidupmu berhenti hanya karena kamu tidak memiliki gelar sarjana.
Kalau masih ada keinginan untuk belajar, lanjutkan.
Baca buku.
Belajar dari internet.
Ikuti kelas yang kamu mampu.
Pelajari keterampilan baru.
Bertanya kepada orang yang lebih tahu.
Dan jangan takut memulai dari nol.
Karena belajar bukan hanya tentang mendapatkan selembar ijazah.

Belajar adalah tentang membuat diri kita terus bertumbuh.


Karena Perempuan Punya Hak untuk Terus Bertumbuh

Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa belajar adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.
Ketika kita belajar, kita sedang memberikan kesempatan kepada diri kita untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Kita menjadi lebih percaya diri.
Lebih berani mengambil keputusan.
Lebih terbuka terhadap perubahan.
Dan mungkin yang paling penting, kita tidak merasa bahwa hidup kita harus berhenti hanya karena usia bertambah.

Perempuan boleh belajar di usia berapa pun.
Tidak peduli sudah menikah atau belum.
Sudah menjadi ibu atau belum.
Sudah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
Punya gelar tinggi atau tidak.
Kesempatan untuk belajar selalu terbuka.


Jadi, Mengapa Perempuan Harus Pintar?

Buatku, jawabannya sederhana.
Bukan untuk menandingi siapa-siapa.

Perempuan perlu pintar agar mampu memahami kehidupannya sendiri.
Agar tidak mudah dibohongi.
Agar berani mengambil keputusan.
Agar bisa mengikuti perubahan zaman.
Agar bisa mendampingi orang-orang yang disayanginya.

Dan bagi seorang ibu, agar ia bisa menjadi contoh bahwa belajar tidak pernah mengenal kata selesai.
Karena anak-anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat yang kita berikan.
Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan.
Mereka bisa melihat bagaimana ibu mereka membaca, belajar, mencari tahu, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Dan mungkin tanpa kita sadari, dari situlah mereka belajar satu hal penting:
bahwa menjadi pintar bukan tentang mengetahui semuanya, tetapi tentang tidak pernah berhenti ingin tahu.

Jadi, kalau hari ini merasa pendidikan formal belum tinggi, jangan merasa semuanya sudah terlambat.
Kita masih bisa belajar.

Kalau dulu tidak punya kesempatan membaca banyak buku, sekarang mungkin bisa mulai dari satu buku.
Kalau dulu tidak sempat belajar teknologi, sekarang bisa mencoba sedikit demi sedikit.
Kalau dulu tidak punya kesempatan kuliah, bukan berarti perjalanan belajar kita harus berhenti.

Sebab pada akhirnya, menjadi perempuan pintar bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kita punya, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar.

Dan menurutku, perempuan yang mau terus belajar bukan hanya sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Ia juga sedang memberikan contoh kepada generasi setelahnya bahwa perempuan boleh terus bertumbuh, di usia berapa pun.

Tidak harus sempurna. Tidak harus tahu semuanya. Cukup terus belajar.

Karena belajar memang tak harus menunggu gelar.




“Kok sekarang belanja segini cuma dapat sedikit, ya?”

Kalau kamu seorang ibu rumah tangga, mungkin kalimat ini sudah tidak asing lagi.
Harga beras, telur, sayur, minyak, kebutuhan mandi, sampai berbagai kebutuhan kecil lainnya terasa semakin mahal. Belum lagi kalau tiba-tiba ada kebutuhan keluarga yang datang di luar rencana.
Kita pun mulai berhitung lebih sering.
Mana yang harus dibeli, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

In this economy, menjadi ibu rumah tangga memang membutuhkan banyak akal.
Tapi ada satu hal yang menurutku juga penting untuk dibicarakan: bagaimana kita tetap waras dan bahagia ketika keadaan ekonomi sedang tidak mudah?
Karena mengurus rumah tangga bukan hanya soal bagaimana uang cukup sampai akhir bulan.
Kita juga perlu memastikan bahwa orang yang mengurus semuanya, yaitu ibu, tetap baik-baik saja.


Tidak Perlu Merasa Bersalah Ketika Uang Belanja Cepat Habis

Kadang kita sudah merasa mengatur uang sebaik mungkin.
Sudah membuat daftar belanja. Sudah memilih barang yang lebih murah. Sudah berusaha tidak membeli sesuatu yang tidak perlu.
Tetapi ketika sampai di kasir, total belanja tetap membuat kita menarik napas panjang.

Kalau mengalaminya, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.
Bukan berarti kita tidak pandai mengatur keuangan rumah tangga.
Memang ada banyak kebutuhan yang harganya berubah. Yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan diri semampunya.
Kita tidak harus menjadi ibu rumah tangga yang selalu sempurna dalam mengatur semuanya.

Cukup menjadi ibu yang terus berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuan.


Hidup Hemat Bukan Berarti Tidak Boleh Bahagia

Ketika harga kebutuhan makin mahal, berhemat memang menjadi pilihan yang masuk akal.

Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana.
Membuat daftar belanja, memasak dari bahan yang tersedia di rumah, membawa bekal, mengurangi makanan yang terbuang, atau berpikir ulang sebelum membeli sesuatu.

Tetapi hemat bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup.
Sesekali membeli buku, menikmati kopi atau teh kesukaan di rumah, membeli skincare yang memang dibutuhkan, atau membeli makanan yang kita sukai juga tidak salah.

Selama sesuai kemampuan.

Karena hidup hemat seharusnya membuat kita lebih tenang, bukan membuat kita merasa tidak boleh bahagia.


Jangan Lupa Menjaga Kesehatan

Ada satu kebiasaan yang sering dilakukan ibu rumah tangga: mendahulukan semua orang dan menempatkan diri sendiri paling belakang.

Anak sudah makan, suami sudah makan, pekerjaan rumah selesai, baru kemudian kita ingat bahwa sejak tadi belum makan dengan benar.
Atau tubuh sudah lelah, tetapi kita masih memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan.
Padahal kita juga punya batas.

Menjaga kesehatan tidak harus selalu mahal.

Makan cukup, minum air putih, tidur dan beristirahat ketika ada kesempatan, serta meluangkan sedikit waktu untuk bergerak adalah bentuk perhatian sederhana kepada diri sendiri.

Ibu yang sehat juga merupakan bagian penting dari keluarga yang sehat.

Jadi, merawat diri bukan tindakan egois.


Tidak Perlu Membandingkan Kehidupan Kita dengan Orang Lain

Media sosial kadang membuat hidup orang lain terlihat begitu sempurna.

Ada yang makan di restoran, liburan, membeli barang baru, merenovasi rumah, atau sekadar menunjukkan belanja mingguannya.
Tanpa sadar kita mulai membandingkan.

Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di balik kehidupan orang lain.
Setiap keluarga memiliki kondisi, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.

Jadi, tidak apa-apa kalau saat ini prioritas kita adalah memastikan kebutuhan rumah terpenuhi.

Tidak apa-apa kalau belum bisa liburan.
Tidak apa-apa kalau belum bisa membeli barang yang sedang diinginkan.

Hidup sederhana bukan berarti hidup kita lebih rendah dari orang lain.


Ibu Rumah Tangga Juga Butuh Waktu untuk Diri Sendiri

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti seluruh waktu kita harus diberikan kepada keluarga.

Kita tetap seorang perempuan.

Kita punya kesukaan, impian, rasa ingin tahu, dan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia.
Mungkin kita suka membaca.
Mungkin senang menulis, berkebun, memasak, membuat kerajinan, menonton drama, berjalan pagi, atau sekadar duduk menikmati teh dalam suasana tenang.

Tidak harus mahal.
Tidak harus pergi jauh.

Yang penting ada waktu ketika kita bisa berhenti sebentar dan berkata,

“Sekarang aku mau menikmati waktuku.”

Karena istirahat bukan berarti malas.
Dan menikmati sesuatu bukan berarti boros.


Tetap Belajar dan Bertumbuh

Menjadi ibu rumah tangga juga bukan berarti kita berhenti belajar.
Kalau ada waktu dan kesempatan, kita bisa mempelajari hal-hal baru.
Tidak harus mengikuti kursus mahal.
Membaca buku, menonton video pembelajaran, mengikuti komunitas, belajar dari internet, atau mencoba keterampilan baru juga bisa menjadi cara untuk terus bertumbuh.
Belajar menulis, membuat konten, memasak, berkebun, menggunakan media sosial, atau mengembangkan hobi yang selama ini kita sukai.

Siapa tahu, sesuatu yang awalnya hanya dilakukan untuk mengisi waktu suatu hari bisa menjadi peluang baru.

Tetapi tidak perlu menjadikan ini sebagai tekanan baru.

Belajar juga boleh dilakukan pelan-pelan.

Tidak ada kata terlambat untuk bertumbuh.


Bahagia Tidak Harus Mahal

Mungkin ini bagian yang paling ingin aku ingatkan kepada diri sendiri.

Kita memang membutuhkan uang untuk menjalani kehidupan.
Tetapi tidak semua kebahagiaan harus dibeli dengan uang.

Secangkir teh hangat di sore hari.
Makan bersama keluarga.
Membaca beberapa halaman buku.
Menonton drama favorit setelah pekerjaan selesai.
Mengobrol dengan pasangan.
Mendengar cerita anak.
Atau sekadar duduk sebentar menikmati rumah yang sedang tenang.

Semuanya sederhana.

Tetapi bukankah kebahagiaan memang sering datang dari hal-hal kecil yang tidak kita rencanakan?

Jadi, jangan menunggu punya banyak uang untuk merasa bahagia.

Kita boleh bahagia hari ini, dengan apa yang kita punya.


In This Economy, Jangan Lupa Menjaga Diri

Kita mungkin tidak bisa mengendalikan harga beras.
Tidak bisa menentukan harga telur atau sayuran.
Tidak bisa membuat semua kebutuhan menjadi murah.

Tetapi kita masih bisa belajar mengatur hal-hal yang ada dalam kendali kita.
Mengatur pengeluaran semampunya.
Mengurangi pemborosan.
Menjaga kesehatan.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri.
Memberi waktu untuk beristirahat.

Dan yang paling penting, memberi izin kepada diri sendiri untuk tetap bahagia.

Menjadi ibu rumah tangga di tengah harga kebutuhan yang makin mahal bukan tentang siapa yang paling pintar berhemat.
Kadang, ini juga tentang bagaimana kita tetap bisa menjalani hari tanpa kehilangan diri sendiri.

Jadi kalau hari ini belanja terasa lebih mahal dari biasanya, tarik napas sebentar.
Tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus.
Kita sedang berusaha.
Dan itu sudah cukup baik.

In this economy, mungkin kita memang harus lebih pintar mengatur uang.
Tapi jangan lupa, kita juga perlu pintar menjaga hati 💜


sumber foto: cakrawala.co


Saat melihat berita tentang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, hati kita mungkin ikut terasa sesak.
Melihat hutan terbakar, asap mengepul, masyarakat terdampak, dan membayangkan satwa liar yang kehilangan habitatnya tentu membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Kemudian muncul pikiran, “Aku kan tidak berada di lokasi. Apa yang bisa aku lakukan?”

Tidak semua orang bisa datang langsung ke lokasi karhutla. Tidak semua orang bisa menjadi relawan pemadam kebakaran atau ikut dalam proses penyelamatan satwa.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan dari rumah untuk ikut menjaga lingkungan dan membantu ketika karhutla terjadi.


Karhutla Bukan Hanya Masalah Mereka yang Tinggal di Sekitar Hutan

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan wilayah yang terbakar.
Asapnya bisa menyebar ke wilayah lain. Kualitas udara dapat terganggu. Ekosistem rusak dan satwa liar kehilangan habitatnya.
Bagi satwa, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di sanalah mereka mencari makanan, menemukan air, berlindung, berkembang biak, dan membesarkan anak-anaknya.

Ketika habitat terbakar, sebagian satwa mungkin mati atau terluka. Sebagian lainnya berusaha melarikan diri dan dapat muncul di perkebunan, permukiman, bahkan jalan raya.
Karena itu, karhutla sebenarnya menjadi persoalan yang menyangkut kita semua.

Lalu, kalau kita tidak berada di lokasi, apa yang bisa dilakukan?

1. Jangan Ikut Menyebarkan Informasi yang Belum Jelas

Saat terjadi karhutla, media sosial biasanya dipenuhi foto, video, dan informasi tentang kebakaran.
Keinginan untuk segera membagikan informasi memang wajar. Apalagi kalau kita merasa sedang membantu menyebarkan kabar.

Tapi sebaiknya berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Apakah sumbernya jelas?
Apakah foto atau videonya memang berasal dari lokasi dan kejadian yang sedang berlangsung?
Apakah informasinya berasal dari pihak yang dapat dipercaya?

Jangan sampai niat kita membantu justru membuat informasi yang keliru semakin menyebar.
Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi juga merupakan bentuk kepedulian.


2. Gunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Informasi yang Bermanfaat

Media sosial tidak selalu harus menjadi tempat untuk melihat kabar buruk.
Kita juga bisa menggunakannya untuk membantu.

Bagikan informasi dari sumber resmi mengenai kondisi karhutla, kualitas udara, imbauan keselamatan, informasi penanganan satwa, atau cara melaporkan kejadian kebakaran.

Satu unggahan mungkin terlihat kecil.
Jika informasi yang benar sampai kepada orang yang membutuhkannya, tentu manfaatnya menjadi lebih besar.

Jadi, kalau kita belum bisa turun ke lapangan, kita masih bisa membantu dari layar ponsel kita.


3. Jangan Mengganggu Satwa Liar yang Keluar dari Habitatnya

Ini juga penting banget, lho.
Ketika habitatnya terbakar, satwa liar mungkin keluar untuk menyelamatkan diri.

Kalau suatu saat kita menemukan satwa liar di sekitar permukiman atau tempat lain yang bukan habitatnya, jangan langsung mengejar, menangkap, atau mengerumuninya.
Satwa tersebut kemungkinan sedang dalam kondisi stres dan ketakutan.
Apalagi jika satwa mengalami luka.

Jangan mencoba menjadi pahlawan dengan menangkap atau memberikan makanan sembarangan.

Jika kondisinya membutuhkan pertolongan, lebih baik menghubungi petugas atau pihak berwenang yang menangani satwa liar.

Kita membantu bukan dengan membuat satwa semakin panik, tetapi dengan memberikan kesempatan kepada pihak yang tepat untuk menanganinya.


4. Jangan Menjadikan Satwa yang Sedang Ketakutan sebagai Konten

Di zaman media sosial seperti sekarang, hampir semua kejadian bisa menjadi konten.
Termasuk ketika ada satwa liar yang keluar dari habitatnya.

Tapi mari belajar bertanya kepada diri sendiri:
Apakah satwa itu benar-benar membutuhkan kita untuk merekamnya?
Mungkin kita ingin mendapatkan foto yang bagus.
Mungkin videonya terlihat menarik.

Namun bagi satwa tersebut, situasinya mungkin sedang sangat menakutkan.
Jadi, sebisa mungkin jangan mengejar, menyentuh, atau mengerumuni satwa hanya demi mendapatkan foto dan video.

Kepedulian terhadap satwa juga berarti tahu kapan harus menjaga jarak.


5. Dukung Bantuan yang Kredibel

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke lokasi karhutla.
Tetapi ketika ada lembaga atau organisasi terpercaya yang membuka bantuan untuk penanganan bencana, penyelamatan satwa, atau pemulihan lingkungan, kita bisa ikut berkontribusi sesuai kemampuan.

Tidak harus dalam jumlah besar.
Bantuan kecil dari banyak orang dapat menjadi sesuatu yang berarti.
Namun tetap berhati-hati.
Pastikan penggalangan dana atau bantuan tersebut memiliki informasi yang jelas dan berasal dari pihak yang dapat dipercaya.

Jangan sampai kepedulian kita justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


6. Jangan Membakar Sampah atau Lahan Sembarangan

Kalau berbicara tentang apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah karhutla, sebenarnya kita bisa mulai dari hal yang sangat dekat.

Jangan membakar sesuatu sembarangan.
Terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan risiko kebakaran meningkat.
Api yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Karena itu, menjaga lingkungan dari rumah bukan sesuatu yang sepele.
Mencegah terjadinya kebakaran juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap hutan dan satwa liar.


7. Tetap Peduli Setelah Api Padam

Ada satu hal yang sering terjadi ketika sebuah bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.
Perhatian kita perlahan beralih ke hal lain.

Padahal setelah api padam, bukan berarti semuanya kembali seperti semula.
Hutan membutuhkan waktu untuk pulih.
Vegetasi perlu tumbuh kembali.
Sumber makanan dan air bagi satwa perlu tersedia.
Habitat yang rusak juga membutuhkan proses pemulihan.
Kepedulian terhadap karhutla sebaiknya tidak hanya muncul ketika kita melihat asap dan api di layar televisi atau media sosial.

Kita juga bisa terus mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, penghijauan, pemulihan habitat, dan perlindungan satwa liar.


8. Mulai Menjaga Lingkungan dari Sekitar Kita

Mungkin kita merasa apa yang dilakukan di rumah tidak ada hubungannya dengan hutan yang letaknya jauh.

Padahal menjaga lingkungan memang sebaiknya dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.
• Mengurangi sampah.
• Tidak membakar sampah sembarangan.
• Nerawat pohon yang sudah tumbuh.
• Menanam tanaman.
• Menghemat penggunaan sumber daya.
• Mengajak anak mengenal dan mencintai alam.

Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat besar.
Tetapi bukankah perubahan memang sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali?


Kita Tidak Harus Berada di Garis Depan untuk Peduli

Ketika karhutla terjadi, ada orang-orang yang berada di garis depan.
Ada petugas yang berusaha memadamkan api.
Ada masyarakat sekitar yang terdampak sekaligus membantu.
Ada relawan yang turun ke lapangan.
Ada pihak yang menangani satwa liar.
Dan ada kita yang mungkin hanya bisa melihat dari jauh.

Peran kita memang berbeda.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak berarti.
Kita bisa membantu dengan menyebarkan informasi yang benar.
Kita bisa tidak menyebarkan hoaks.
Kita bisa melaporkan jika menemukan kejadian yang membutuhkan perhatian.
Kita bisa membantu melalui lembaga yang terpercaya.
Kita bisa menjaga lingkungan dari rumah.
Dan yang tidak kalah penting, kita bisa terus peduli bahkan ketika berita tentang karhutla sudah mulai menghilang dari media sosial.


Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mungkin kita tidak bisa datang ke lokasi karhutla.
Mungkin kita tidak bisa memadamkan api dengan tangan sendiri.
Mungkin kita juga tidak bisa menyelamatkan semua satwa yang kehilangan habitatnya.
Tetapi kita tetap bisa melakukan sesuatu.
Tidak harus selalu besar.
Tidak harus selalu terlihat.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjadi relawan di garis depan.
Tidak ikut merusak, mencegah kebakaran, menyebarkan informasi yang benar, menghormati satwa liar, dan membantu sesuai kemampuan juga merupakan bentuk kepedulian.
Sebab ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar hutan.

Kita semua berada di bumi yang sama.
Dan pada akhirnya, bumi adalah rumah kita bersama.
Rumah yang tentu akan lebih nyaman jika kita semua mau ikut menjaganya.



Selama ini, ketika mendengar istilah self love, yang terlintas di pikiran mungkin adalah merawat diri, membeli sesuatu yang disukai, pergi liburan, menikmati me time, atau sekadar punya waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat hati senang.
Semua itu memang bagian dari mencintai diri sendiri.

Tapi ternyata, ada satu bentuk self love yang sering terlupakan: memilih lingkungan pertemanan yang positif.
Sebab, siapa saja yang berada di sekitar kita sedikit banyak akan memengaruhi cara kita berpikir, merasa, bahkan memandang diri sendiri.

Ada teman yang setelah diajak ngobrol membuat kita merasa lebih ringan. Ada juga lingkungan yang tanpa sadar justru membuat kita sering merasa lelah secara emosional.

Dari situlah aku mulai memahami bahwa menjaga diri bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri, tetapi juga tentang siapa yang kita izinkan untuk dekat dengan kita.


Self Love Bukan Hanya Tentang Me Time

Self love sering kali dianggap sebagai bentuk memanjakan diri.
Tidak ada yang salah dengan itu. Kita memang perlu memberikan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, merawat diri, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru.

Namun, mencintai diri sendiri juga berarti berani mengatakan, “Aku tidak ingin terus berada di lingkungan yang membuatku merasa tidak nyaman.”

Kadang kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga perasaan sendiri.
Takut dianggap sombong. Takut dibilang berubah. Takut mengecewakan teman.

Padahal, menjaga jarak dari lingkungan yang tidak sehat tidak selalu berarti memutuskan hubungan atau memusuhi seseorang.
Terkadang kita hanya perlu membuat batasan.


Lingkungan Pertemanan Bisa Memengaruhi Kita

Pernahkah kamu merasa baik-baik saja sebelum bertemu seseorang, tetapi setelah mengobrol dengannya justru menjadi kepikiran?
Mungkin karena pembicaraannya selalu berisi gosip, membandingkan kehidupan, mengomentari kekurangan orang lain, atau membuat kita merasa pencapaian kita tidak ada artinya.

Kalau hanya sesekali, mungkin kita bisa menganggapnya sebagai hal biasa.
Tetapi jika terus terjadi, lingkungan seperti ini bisa membuat kita perlahan kehilangan rasa nyaman terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, berada di lingkungan pertemanan yang positif biasanya membuat kita merasa lebih bebas menjadi diri sendiri.
Tidak harus selalu sepemikiran. Tidak harus selalu setuju.
Tetapi ada rasa saling menghargai.
Ketika kita sedang berhasil, mereka ikut senang. Ketika kita sedang mengalami kesulitan, mereka tidak buru-buru menghakimi.
Dan yang paling menyenangkan, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya agar diterima.


Seperti Apa Pertemanan yang Positif?

Pertemanan yang positif bukan berarti setiap hari harus dipenuhi obrolan serius atau kata-kata motivasi.
Teman yang positif juga bisa diajak tertawa karena hal-hal sederhana.
Yang membedakan adalah bagaimana kita merasa setelah berada bersama mereka.

Beberapa cirinya antara lain:

1. Kita bisa menjadi diri sendiri
Tidak perlu terus-menerus menjaga image atau takut salah bicara.

2. Saling mendukung, bukan saling menjatuhkan
Teman yang baik tidak merasa tersaingi ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik dalam hidup.

3. Bisa memberikan kritik dengan cara yang baik
Pertemanan yang sehat bukan berarti selalu membenarkan kita. Teman yang baik juga bisa mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan, tetapi tanpa merendahkan.

4. Tidak menjadikan kehidupan sebagai perlombaan
Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Pertemanan yang sehat tidak membuat kita terus membandingkan rumah, pekerjaan, keluarga, penampilan, atau pencapaian.

5. Menghargai batasan
Kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang. Teman yang baik akan memahami bahwa setiap orang memiliki kehidupan dan masalah masing-masing.


Semakin Dewasa, Lingkaran Pertemanan Bisa Semakin Kecil

Mungkin dulu kita merasa bangga kalau punya banyak teman.
Semakin bertambah usia, pandangan itu bisa berubah.
Kita mulai sadar bahwa memiliki banyak teman tidak selalu berarti memiliki banyak hubungan yang berkualitas.

Kadang justru kita merasa lebih nyaman dengan beberapa orang yang benar-benar tulus dibandingkan berada di tengah banyak orang tetapi merasa sendirian.
Menurutku, itu bukan sesuatu yang perlu disesali.

Lingkaran pertemanan yang semakin kecil bukan berarti kita menjadi antisosial atau sombong.
Bisa jadi, kita hanya semakin memahami apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kita mulai lebih menghargai ketenangan daripada drama.
Lebih memilih percakapan yang bermakna daripada gosip.
Lebih menikmati teman yang bisa membuat kita menjadi diri sendiri daripada lingkungan yang menuntut kita untuk selalu terlihat sempurna.


Memilih Pertemanan Bukan Berarti Memusuhi

Ada satu hal yang menurutku juga penting.
Memilih lingkungan pertemanan yang positif bukan berarti kita harus memusuhi orang-orang yang memiliki energi atau cara berpikir berbeda.

Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran.
Ada hubungan yang cukup kita jalani dengan batasan tertentu.
Ada orang yang tetap kita sapa ketika bertemu, tetapi tidak lagi menjadi tempat untuk berbagi cerita pribadi.
Ada juga pertemanan yang memang perlahan menjauh karena kesibukan dan perubahan kehidupan.
Dan itu adalah hal yang wajar.

Tidak semua orang harus tinggal di lingkaran terdekat kita.
Kita boleh menghargai seseorang tanpa harus selalu dekat dengannya.


Jangan Takut Memilih Lingkungan yang Membuat Kita Bertumbuh

Menurutku, salah satu tanda kita mulai mencintai diri sendiri adalah ketika kita tidak lagi merasa harus diterima oleh semua orang.
Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai kita.
Akan selalu ada orang yang menganggap kita terlalu pendiam, terlalu banyak bicara, terlalu sederhana, terlalu ambisius, atau bahkan terlalu berbeda.
Tidak apa-apa.
Yang penting adalah kita tahu siapa diri kita dan lingkungan seperti apa yang membuat kita bisa bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.

Lingkungan yang baik tidak selalu membuat hidup kita sempurna.
Tetapi setidaknya, kita merasa aman untuk bercerita, nyaman untuk menjadi diri sendiri, dan mendapatkan energi positif setelah menghabiskan waktu bersama mereka.


Memilih Pertemanan Positif adalah Bentuk Self Love

Pada akhirnya, self love bukan hanya tentang me time, skincare, liburan, atau membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Self love juga tentang berani menjaga batasan, menghargai diri sendiri, dan memilih lingkungan yang sehat.

Kita tidak harus memiliki banyak teman.
Kita hanya membutuhkan orang-orang yang bisa saling menghargai, saling mendukung, dan tetap memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Karena hidup sudah cukup penuh dengan berbagai persoalan.

Rasanya kita tidak perlu menambah beban dengan terus berada di lingkungan yang membuat kita kehilangan rasa percaya diri atau merasa tidak cukup baik.
Memilih pertemanan yang positif bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain.
Bisa jadi, itu adalah salah satu cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri:

“Aku berharga, dan aku pantas berada di lingkungan yang sehat.”

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk self love yang paling sederhana, tetapi juga paling berarti 💜



Menjelang 50 tahun, aku mulai menyadari bahwa merawat kulit wajah ternyata punya tantangan sendiri.
Apalagi kalau kulit wajah masih cenderung berminyak.

Di satu sisi, wajah masih mudah terlihat mengilap dan berminyak. Tetapi di sisi lain, kulit mulai mengalami perubahan karena usia. Kadang terasa lebih kering, kusam, tidak sekenyal dulu, dan mulai muncul flek atau garis-garis halus.

Nah, di sinilah aku merasa perawatan kulit menjelang 50 tahun tidak bisa lagi disamakan dengan ketika masih berusia 20 atau 30 tahun.
Bukan berarti kita harus menggunakan lebih banyak skincare.
Justru sebaliknya.

Menurutku, semakin bertambah usia, kita perlu semakin bijak memilih skincare yang memang dibutuhkan kulit.
Tidak perlu mengikuti semua skincare yang sedang viral. Tidak perlu memiliki banyak serum hanya karena melihat rekomendasi orang lain.

------------------------------
Baca juga: Review Sabun Cair K Natural White Jeju Lemon: Antibakteri, Mencerahkan, dan Super Segar!
------------------------------

Untuk kulit berminyak menjelang 50 tahun, menurutku ada tiga skincare yang layak menjadi prioritas: moisturizer, sunscreen, dan serum.


1. Moisturizer: Kulit Berminyak Tetap Butuh Pelembap

Salah satu kesalahan yang mungkin pernah dilakukan pemilik kulit berminyak adalah menganggap bahwa kulit yang mudah berminyak tidak membutuhkan pelembap.
Padahal, kulit berminyak tetap membutuhkan hidrasi.
Yang perlu diperhatikan adalah memilih moisturizer dengan tekstur dan formula yang nyaman untuk kulit berminyak.

Aku sendiri lebih suka pelembap yang ringan, tidak terasa lengket dan tidak membuat wajah semakin terasa berat.


Salah satu produk yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Perfect Bright Moisturizer Bright + Oil Control SPF 30 PA+++.
Produk ini ditujukan untuk kulit normal hingga berminyak dan mengandung Zinc yang membantu mengontrol minyak. Di dalamnya juga terdapat SPF 30 PA+++.
Meski begitu, karena aku ingin mendapatkan perlindungan matahari yang lebih optimal, aku tetap menggunakan sunscreen khusus setelah moisturizer.

Menurutku, menemukan moisturizer yang cocok untuk kulit berminyak cukup penting.
Sebab kalau pelembap terasa terlalu berat, kita bisa menjadi malas menggunakannya.
Dan skincare yang paling bagus pun tidak akan banyak berarti kalau hanya disimpan di rak.


2. Sunscreen: Jangan Karena Kulit Berminyak Lalu Melewatkannya

Kalau ada satu skincare yang menurutku semakin penting menjelang usia 50 tahun, sunscreen adalah salah satunya.

Sering kali kita lebih sibuk mencari produk untuk mengatasi flek, kulit kusam, atau garis halus.
Padahal, melindungi kulit dari paparan sinar matahari juga merupakan bagian penting dari perawatan kulit.

Bagi pemilik kulit berminyak, tantangannya biasanya adalah mencari sunscreen yang terasa nyaman.
Aku tentu tidak ingin memakai sunscreen yang membuat wajah terasa semakin lengket atau seperti memakai lapisan tebal di atas kulit.


Salah satu pilihan yang menarik adalah Wardah UV Shield Airy Smooth Sunscreen Serum SPF 50 PA++++.
Sunscreen ini memiliki tekstur watery dan ringan dengan hasil akhir yang lebih smooth, sehingga bisa menjadi pilihan bagi pemilik kulit yang tidak menyukai sunscreen berat.

Untukku, sunscreen yang nyaman digunakan adalah nilai plus.
Karena pada akhirnya, bukan hanya soal memilih SPF yang tinggi, tetapi juga bagaimana membuat sunscreen menjadi kebiasaan sehari-hari.

Gunakan pada pagi hari dan aplikasikan ulang ketika memang diperlukan, terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan.

------------------------------
Baca juga: 7 Tips Menghilangkan Kantung Mata
------------------------------


3. Serum: Tidak Perlu Banyak, Pilih yang Sesuai Kebutuhan

Nah, kalau moisturizer dan sunscreen sudah menjadi bagian dari rutinitas, kita bisa menambahkan serum.

Tetapi aku tidak merasa bahwa menjelang 50 tahun kita harus mempunyai banyak serum.
Justru menurutku, satu serum yang sesuai dengan kebutuhan kulit jauh lebih masuk akal daripada memiliki banyak serum tetapi bingung kapan menggunakannya.

Kulit menjelang 50 tahun mungkin mulai menghadapi beberapa masalah seperti kusam, warna kulit yang tidak merata, noda atau flek yang mulai terlihat.


Salah satu serum yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Lightening 5% Niacinamide Serum Ampoule.
Kandungan niacinamide cukup populer digunakan dalam skincare untuk membantu merawat tampilan kulit agar terlihat lebih cerah dan merata, sekaligus mendukung perawatan skin barrier.

Namun sekali lagi, serum bukan berarti wajib untuk semua orang.
Kalau kulitmu sudah nyaman dengan cleanser, moisturizer, dan sunscreen, itu pun sudah merupakan rutinitas dasar yang baik.
Serum adalah tambahan ketika kita memang ingin memberikan perhatian lebih pada masalah kulit tertentu.


Kenapa Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun Perlu Perhatian Khusus?

Mungkin ada yang berpikir, “Bukankah kulit berminyak justru menguntungkan karena tidak mudah keriput?”
Ada sedikit benarnya bahwa kondisi kulit setiap orang berbeda dan tanda penuaan tidak hanya ditentukan oleh jenis kulit.

Jadi, jangan menganggap kulit berminyak berarti bebas dari masalah penuaan.

Kulit berminyak tetap bisa mengalami:
• Flek hitam
• Kulit kusam
• Garis-garis halus
• Tekstur kulit yang berubah
• Kehilangan kelembapan
• Kulit terlihat kurang kenyal

Karena itu, fokus perawatannya bukan membuat wajah menjadi sekering mungkin, tetapi menjaga keseimbangan kulit.
Kita tetap ingin mengontrol minyak tanpa mengabaikan kelembapan.
Dan kita ingin merawat kulit tanpa membuat rutinitas skincare menjadi terlalu rumit.

Rutinitas Skincare Sederhana untuk Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun

Kalau dibuat sederhana, sebenarnya rutinitasnya tidak perlu panjang.

• Pagi
Cleanser → Moisturizer → Sunscreen
• Malam
Cleanser → Serum → Moisturizer

Sudah, hanya itu.
Kalau ingin menambahkan produk lain, lakukan secara bertahap dan lihat bagaimana kulit meresponsnya.
Tidak perlu memasukkan banyak produk sekaligus.
Dengan begitu, kalau ternyata ada produk yang tidak cocok, kita juga lebih mudah mengetahui produk mana yang menjadi penyebabnya.


Menjelang 50 Tahun, Aku Tidak Ingin Melawan Usia

Ada satu hal yang semakin aku pahami menjelang 50 tahun.
Aku tidak bisa menghentikan waktu.
Garis halus mungkin akan datang.
Flek mungkin muncul.
Kulit juga tidak akan sama seperti ketika aku berusia 20 atau 30 tahun.
Dan itu tidak apa-apa.

------------------------------
Baca juga: Manfaat Menggunakan Serum Vitamin C untuk Usia 40 tahun ke atas
------------------------------

Menurutku, merawat wajah bukan berarti harus membuat diri terlihat jauh lebih muda.
Aku lebih suka melihat skincare sebagai salah satu bentuk self-care.

Cara sederhana untuk memberi perhatian kepada diri sendiri;
• Menggunakan moisturizer setelah membersihkan wajah.
• Mengoleskan sunscreen sebelum beraktivitas.
• Memakai serum ketika kulit memang membutuhkannya.

Tidak perlu berlebihan.
Tidak perlu mengikuti semua tren.
Yang penting kulit terasa nyaman dan kita konsisten merawatnya.

Karena menjelang 50 tahun, mungkin yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak skincare.
Tetapi semakin mengenal kulit kita sendiri.
Dan untuk kulit berminyak seperti kulitku, tiga hal sederhana ini sudah menjadi awal yang cukup baik:
Jaga kelembapan. Lindungi dari sinar matahari. Rawat sesuai kebutuhan.

Karena pada akhirnya, merawat wajah di usia menjelang 50 tahun bukan tentang ingin kembali menjadi 20 tahun.
Tetapi tentang menerima perubahan, sambil tetap memberikan yang terbaik untuk diri sendiri 💜





Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini


Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

Motivasi Harian

Motivasi Harian

Copywriting & Content

Copywriting & Content

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • Ketika Karhutla Terjadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Ini Cara Sederhana Membantu dari Rumah
  • In This Economy: Cara Ibu Rumah Tangga Tetap Waras dan Bahagia di Tengah Harga Kebutuhan yang Makin Mahal
  • Pengumuman 2nd Giveaway Enny Mamito
  • Ganti Cara Belajar Lebih Menyenangkan dengan Zenius Education
  • Senangnya Jadi "Tukang Ojek"

Kategori

BTS 5 Buku 29 Dian Sastro & Nicholas Saputra 4 Drama Stories 37 Enid Blyton 15 Fiksi 15 Film 21 Indonesia-ku 36 Info & Tips 81 Jalan-jalan 25 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 74 Keuangan 5 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Lingkungan Alam 27 Lomba 30 Musik 17 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 25 Parenting 8 Pendidikan 4 Perempuan 16 Quotes 5 Religi 21 Resep 23 Review 130 Satwa 22 Sejarah 6 Self Love 17 Teknologi 19

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes