Dulu, kalau pergi ke mana-mana, rasanya cukup membawa dompet, uang tunai, dan mungkin selembar catatan kecil berisi nomor telepon penting.
Kalau sekarang?
Rasanya hampir semua ada di dalam ponsel.
Mau membayar makanan, tinggal scan QRIS. Mau transfer uang, buka mobile banking. Mau membeli sesuatu, masuk ke marketplace. Mau memesan tiket perjalanan, buka aplikasi. Bahkan untuk berobat ke rumah sakit atau klinik tertentu, kita kadang perlu mengambil nomor antrean melalui aplikasi terlebih dahulu.
Belum lagi urusan sekolah anak, administrasi, pekerjaan, media sosial, sampai mencari informasi sehari-hari.
Kalau sekarang?
Rasanya hampir semua ada di dalam ponsel.
Mau membayar makanan, tinggal scan QRIS. Mau transfer uang, buka mobile banking. Mau membeli sesuatu, masuk ke marketplace. Mau memesan tiket perjalanan, buka aplikasi. Bahkan untuk berobat ke rumah sakit atau klinik tertentu, kita kadang perlu mengambil nomor antrean melalui aplikasi terlebih dahulu.
Belum lagi urusan sekolah anak, administrasi, pekerjaan, media sosial, sampai mencari informasi sehari-hari.
Hidup memang semakin dekat dengan dunia digital.
Dan di tengah perubahan itu, aku merasa perempuan juga perlu melek digital.
Bukan supaya kita terlihat modern. Bukan pula karena perempuan harus menguasai semua teknologi.
Tapi karena kemampuan menggunakan teknologi perlahan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Melek digital bukan berarti harus jago teknologi
Ketika mendengar istilah melek digital, mungkin ada yang langsung membayangkan sesuatu yang rumit.
Harus mengerti komputer. Harus bisa membuat website. Harus paham berbagai aplikasi. Harus mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Padahal menurutku tidak selalu begitu, lho.
Melek digital bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Tahu cara menggunakan mobile banking. Bisa melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Bisa mencari informasi di internet dan membedakan informasi yang masuk akal dengan berita yang belum tentu benar.
Tahu bagaimana membuat password yang aman. Tidak sembarangan memberikan kode OTP. Paham bahwa tidak semua pesan atau tautan yang masuk ke WhatsApp aman untuk diklik.
Bahkan berani mencoba aplikasi baru ketika memang membutuhkannya pun sudah menjadi bagian dari proses belajar.
Jadi, menurutku perempuan tidak perlu merasa minder hanya karena belum menguasai teknologi.
Kita boleh belajar pelan-pelan.
Yang penting jangan langsung menyerah hanya karena melihat sesuatu yang kelihatannya rumit.
Dulu bertanya kepada orang lain, sekarang kita bisa belajar sendiri
Tetapi di sisi lain, teknologi juga membuat kita harus terus belajar.
Ada saja aplikasi baru. Ada fitur baru. Ada cara pembayaran baru. Ada perubahan sistem yang membuat kita sempat berpikir, “Ini sekarang caranya bagaimana?”
Kadang memang bikin bingung.
Tetapi kalau setiap kali menemukan sesuatu yang baru kita langsung berkata, “Ah, aku gaptek,” lalu menyerahkan semuanya kepada orang lain, lama-lama kita akan semakin bergantung.
Padahal sebenarnya kita bisa belajar.
Bisa bertanya kepada anak.
Bisa bertanya kepada teman.
Bisa mencari tutorial di internet.
Bisa mencoba sendiri sambil membaca petunjuknya.
Tidak apa-apa kalau percobaan pertama belum berhasil.
Namanya juga belajar.
Menurutku, justru di sinilah pentingnya literasi digital bagi perempuan.
Bukan untuk membuat kita menjadi ahli teknologi, tetapi supaya kita cukup percaya diri untuk menggunakan teknologi yang memang kita perlukan.
Perempuan perlu mandiri dalam urusan digital
Bayangkan ketika sedang sendirian dan harus melakukan transfer uang.
Atau ketika harus membayar sesuatu menggunakan QRIS.
Atau ketika ingin mendaftar pemeriksaan ke dokter tetapi ternyata pendaftarannya dilakukan melalui aplikasi.
Kalau kita bisa melakukannya sendiri, tentu akan terasa lebih mudah.
Bukan berarti meminta bantuan orang lain itu salah.
Tentu saja tidak.
Ada kalanya kita memang membutuhkan bantuan.
Tetapi memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan teknologi membuat kita tidak selalu harus menunggu orang lain untuk membantu.
Menurutku, ini juga bagian dari kemandirian perempuan.
Mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya seorang diri.
Mandiri adalah ketika kita memiliki cukup pengetahuan dan keberanian untuk mengurus hal-hal yang memang bisa kita lakukan sendiri.
Termasuk urusan digital.
Jangan hanya belajar menggunakan teknologi, belajar juga melindungi diri
Ada satu hal yang menurutku tidak kalah penting.
Melek digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi.
Kita juga perlu tahu bagaimana melindungi diri ketika berada di dunia digital.
Penipuan online semakin beragam. Ada pesan yang mengatasnamakan bank, kurir, marketplace, bahkan orang yang kita kenal.
Ada tautan yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata berbahaya.
Ada orang yang meminta kode OTP dengan berbagai alasan.
Karena itu, kemampuan digital sebaiknya berjalan beriringan dengan kewaspadaan.
Jangan sembarangan memberikan password.
Jangan membagikan kode OTP.
Jangan mudah percaya pada pesan yang membuat kita panik dan meminta segera melakukan sesuatu.
Dan jangan malu untuk berhenti sejenak ketika merasa ada sesuatu yang mencurigakan.
Kadang, kemampuan mengatakan “tunggu dulu, aku cek” juga merupakan bagian dari melek digital.
Perempuan tidak harus mengikuti semua tren teknologi
Di sisi lain, aku juga merasa kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua perkembangan teknologi.
Setiap hari ada saja sesuatu yang baru.
Aplikasi baru.
Tren baru.
Istilah baru.
Teknologi baru.
Kalau semuanya ingin diikuti, mungkin kita justru akan lelah.
Menurutku, yang lebih penting adalah memahami teknologi yang memang bersentuhan dengan kehidupan kita.
Kalau kita menggunakan mobile banking, pelajari cara menggunakannya dengan aman.
Kalau sering berbelanja online, pelajari cara bertransaksi dengan aman.
Kalau aktif di media sosial, pahami soal privasi dan keamanan akun.
Kalau menggunakan AI untuk membantu pekerjaan atau mencari ide, pahami juga bagaimana menggunakannya secara bijak.
Tidak harus tahu semuanya.
Cukup tahu apa yang kita butuhkan.
Belajar teknologi juga bisa dilakukan pelan-pelan
Aku percaya setiap perempuan punya kecepatan belajar yang berbeda.
Ada yang sejak awal sudah akrab dengan teknologi.
Ada yang tumbuh ketika internet belum seperti sekarang.
Ada pula yang baru mulai mengenal berbagai aplikasi setelah kebutuhan sehari-hari membuatnya harus belajar.
Tidak ada yang perlu dibandingkan.
Kita hanya perlu mulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Misalnya, hari ini belajar menggunakan QRIS.
Besok belajar mobile banking.
Lain waktu belajar mengatur keamanan akun media sosial.
Pelan-pelan saja.
Karena belajar teknologi bukan perlombaan.
Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling cepat menguasai semuanya.
Yang penting kita tidak berhenti belajar.
Perempuan boleh gaptek, tetapi jangan takut belajar
Pada akhirnya, aku tidak ingin mengatakan bahwa perempuan tidak boleh gaptek.
Menurutku, tidak tahu sesuatu itu bukan sebuah kesalahan.
Kita semua pernah menjadi pemula.
Aku pun masih sering menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak aku pahami.
Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.
Daripada berkata,
“Aku memang gaptek.”
mungkin kita bisa menggantinya dengan,
“Aku belum bisa, tapi aku bisa belajar.”
Kalimatnya sederhana, tetapi rasanya berbeda.
Ada keberanian di sana.
Ada kemauan untuk mencoba.
Dan ada kesadaran bahwa dunia akan terus berubah, sementara kita pun punya kesempatan untuk terus bertumbuh.
Karena menjadi perempuan yang melek digital bukan berarti harus menjadi perempuan yang paling pintar teknologi.
Cukup menjadi perempuan yang mau belajar, berani mencoba, dan tahu bagaimana menjaga diri di dunia digital.
Sebab hari ini teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Ia ada di tangan kita.
Di dalam dompet digital kita.
Di rekening kita.
Di pekerjaan kita.
Di sekolah anak-anak kita.
Di layanan kesehatan yang kita gunakan.
Cukup menjadi perempuan yang mau belajar, berani mencoba, dan tahu bagaimana menjaga diri di dunia digital.
Sebab hari ini teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Ia ada di tangan kita.
Di dalam dompet digital kita.
Di rekening kita.
Di pekerjaan kita.
Di sekolah anak-anak kita.
Di layanan kesehatan yang kita gunakan.
Bahkan mungkin di banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan tanpa kita sadari.
Jadi, kalau ada teknologi baru yang hari ini masih terasa membingungkan, tidak apa-apa.
Kita tidak harus langsung bisa.
Pelan-pelan saja. Belajar sedikit demi sedikit.
Karena menjadi perempuan yang terus belajar, termasuk belajar melek digital, adalah salah satu cara untuk tetap bertumbuh bersama zaman tanpa kehilangan diri sendiri.






