Catatan Mamito
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
sumber foto: cakrawala.co


Saat melihat berita tentang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, hati kita mungkin ikut terasa sesak.
Melihat hutan terbakar, asap mengepul, masyarakat terdampak, dan membayangkan satwa liar yang kehilangan habitatnya tentu membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Kemudian muncul pikiran, “Aku kan tidak berada di lokasi. Apa yang bisa aku lakukan?”

Tidak semua orang bisa datang langsung ke lokasi karhutla. Tidak semua orang bisa menjadi relawan pemadam kebakaran atau ikut dalam proses penyelamatan satwa.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan dari rumah untuk ikut menjaga lingkungan dan membantu ketika karhutla terjadi.


Karhutla Bukan Hanya Masalah Mereka yang Tinggal di Sekitar Hutan

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan wilayah yang terbakar.
Asapnya bisa menyebar ke wilayah lain. Kualitas udara dapat terganggu. Ekosistem rusak dan satwa liar kehilangan habitatnya.
Bagi satwa, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di sanalah mereka mencari makanan, menemukan air, berlindung, berkembang biak, dan membesarkan anak-anaknya.

Ketika habitat terbakar, sebagian satwa mungkin mati atau terluka. Sebagian lainnya berusaha melarikan diri dan dapat muncul di perkebunan, permukiman, bahkan jalan raya.
Karena itu, karhutla sebenarnya menjadi persoalan yang menyangkut kita semua.

Lalu, kalau kita tidak berada di lokasi, apa yang bisa dilakukan?

1. Jangan Ikut Menyebarkan Informasi yang Belum Jelas

Saat terjadi karhutla, media sosial biasanya dipenuhi foto, video, dan informasi tentang kebakaran.
Keinginan untuk segera membagikan informasi memang wajar. Apalagi kalau kita merasa sedang membantu menyebarkan kabar.

Tapi sebaiknya berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Apakah sumbernya jelas?
Apakah foto atau videonya memang berasal dari lokasi dan kejadian yang sedang berlangsung?
Apakah informasinya berasal dari pihak yang dapat dipercaya?

Jangan sampai niat kita membantu justru membuat informasi yang keliru semakin menyebar.
Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi juga merupakan bentuk kepedulian.


2. Gunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Informasi yang Bermanfaat

Media sosial tidak selalu harus menjadi tempat untuk melihat kabar buruk.
Kita juga bisa menggunakannya untuk membantu.

Bagikan informasi dari sumber resmi mengenai kondisi karhutla, kualitas udara, imbauan keselamatan, informasi penanganan satwa, atau cara melaporkan kejadian kebakaran.

Satu unggahan mungkin terlihat kecil.
Jika informasi yang benar sampai kepada orang yang membutuhkannya, tentu manfaatnya menjadi lebih besar.

Jadi, kalau kita belum bisa turun ke lapangan, kita masih bisa membantu dari layar ponsel kita.


3. Jangan Mengganggu Satwa Liar yang Keluar dari Habitatnya

Ini juga penting banget, lho.
Ketika habitatnya terbakar, satwa liar mungkin keluar untuk menyelamatkan diri.

Kalau suatu saat kita menemukan satwa liar di sekitar permukiman atau tempat lain yang bukan habitatnya, jangan langsung mengejar, menangkap, atau mengerumuninya.
Satwa tersebut kemungkinan sedang dalam kondisi stres dan ketakutan.
Apalagi jika satwa mengalami luka.

Jangan mencoba menjadi pahlawan dengan menangkap atau memberikan makanan sembarangan.

Jika kondisinya membutuhkan pertolongan, lebih baik menghubungi petugas atau pihak berwenang yang menangani satwa liar.

Kita membantu bukan dengan membuat satwa semakin panik, tetapi dengan memberikan kesempatan kepada pihak yang tepat untuk menanganinya.


4. Jangan Menjadikan Satwa yang Sedang Ketakutan sebagai Konten

Di zaman media sosial seperti sekarang, hampir semua kejadian bisa menjadi konten.
Termasuk ketika ada satwa liar yang keluar dari habitatnya.

Tapi mari belajar bertanya kepada diri sendiri:
Apakah satwa itu benar-benar membutuhkan kita untuk merekamnya?
Mungkin kita ingin mendapatkan foto yang bagus.
Mungkin videonya terlihat menarik.

Namun bagi satwa tersebut, situasinya mungkin sedang sangat menakutkan.
Jadi, sebisa mungkin jangan mengejar, menyentuh, atau mengerumuni satwa hanya demi mendapatkan foto dan video.

Kepedulian terhadap satwa juga berarti tahu kapan harus menjaga jarak.


5. Dukung Bantuan yang Kredibel

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke lokasi karhutla.
Tetapi ketika ada lembaga atau organisasi terpercaya yang membuka bantuan untuk penanganan bencana, penyelamatan satwa, atau pemulihan lingkungan, kita bisa ikut berkontribusi sesuai kemampuan.

Tidak harus dalam jumlah besar.
Bantuan kecil dari banyak orang dapat menjadi sesuatu yang berarti.
Namun tetap berhati-hati.
Pastikan penggalangan dana atau bantuan tersebut memiliki informasi yang jelas dan berasal dari pihak yang dapat dipercaya.

Jangan sampai kepedulian kita justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


6. Jangan Membakar Sampah atau Lahan Sembarangan

Kalau berbicara tentang apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah karhutla, sebenarnya kita bisa mulai dari hal yang sangat dekat.

Jangan membakar sesuatu sembarangan.
Terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan risiko kebakaran meningkat.
Api yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Karena itu, menjaga lingkungan dari rumah bukan sesuatu yang sepele.
Mencegah terjadinya kebakaran juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap hutan dan satwa liar.


7. Tetap Peduli Setelah Api Padam

Ada satu hal yang sering terjadi ketika sebuah bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.
Perhatian kita perlahan beralih ke hal lain.

Padahal setelah api padam, bukan berarti semuanya kembali seperti semula.
Hutan membutuhkan waktu untuk pulih.
Vegetasi perlu tumbuh kembali.
Sumber makanan dan air bagi satwa perlu tersedia.
Habitat yang rusak juga membutuhkan proses pemulihan.
Kepedulian terhadap karhutla sebaiknya tidak hanya muncul ketika kita melihat asap dan api di layar televisi atau media sosial.

Kita juga bisa terus mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, penghijauan, pemulihan habitat, dan perlindungan satwa liar.


8. Mulai Menjaga Lingkungan dari Sekitar Kita

Mungkin kita merasa apa yang dilakukan di rumah tidak ada hubungannya dengan hutan yang letaknya jauh.

Padahal menjaga lingkungan memang sebaiknya dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.
• Mengurangi sampah.
• Tidak membakar sampah sembarangan.
• Nerawat pohon yang sudah tumbuh.
• Menanam tanaman.
• Menghemat penggunaan sumber daya.
• Mengajak anak mengenal dan mencintai alam.

Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat besar.
Tetapi bukankah perubahan memang sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali?


Kita Tidak Harus Berada di Garis Depan untuk Peduli

Ketika karhutla terjadi, ada orang-orang yang berada di garis depan.
Ada petugas yang berusaha memadamkan api.
Ada masyarakat sekitar yang terdampak sekaligus membantu.
Ada relawan yang turun ke lapangan.
Ada pihak yang menangani satwa liar.
Dan ada kita yang mungkin hanya bisa melihat dari jauh.

Peran kita memang berbeda.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak berarti.
Kita bisa membantu dengan menyebarkan informasi yang benar.
Kita bisa tidak menyebarkan hoaks.
Kita bisa melaporkan jika menemukan kejadian yang membutuhkan perhatian.
Kita bisa membantu melalui lembaga yang terpercaya.
Kita bisa menjaga lingkungan dari rumah.
Dan yang tidak kalah penting, kita bisa terus peduli bahkan ketika berita tentang karhutla sudah mulai menghilang dari media sosial.


Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mungkin kita tidak bisa datang ke lokasi karhutla.
Mungkin kita tidak bisa memadamkan api dengan tangan sendiri.
Mungkin kita juga tidak bisa menyelamatkan semua satwa yang kehilangan habitatnya.
Tetapi kita tetap bisa melakukan sesuatu.
Tidak harus selalu besar.
Tidak harus selalu terlihat.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjadi relawan di garis depan.
Tidak ikut merusak, mencegah kebakaran, menyebarkan informasi yang benar, menghormati satwa liar, dan membantu sesuai kemampuan juga merupakan bentuk kepedulian.
Sebab ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar hutan.

Kita semua berada di bumi yang sama.
Dan pada akhirnya, bumi adalah rumah kita bersama.
Rumah yang tentu akan lebih nyaman jika kita semua mau ikut menjaganya.



Selama ini, ketika mendengar istilah self love, yang terlintas di pikiran mungkin adalah merawat diri, membeli sesuatu yang disukai, pergi liburan, menikmati me time, atau sekadar punya waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat hati senang.
Semua itu memang bagian dari mencintai diri sendiri.

Tapi ternyata, ada satu bentuk self love yang sering terlupakan: memilih lingkungan pertemanan yang positif.
Sebab, siapa saja yang berada di sekitar kita sedikit banyak akan memengaruhi cara kita berpikir, merasa, bahkan memandang diri sendiri.

Ada teman yang setelah diajak ngobrol membuat kita merasa lebih ringan. Ada juga lingkungan yang tanpa sadar justru membuat kita sering merasa lelah secara emosional.

Dari situlah aku mulai memahami bahwa menjaga diri bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri, tetapi juga tentang siapa yang kita izinkan untuk dekat dengan kita.


Self Love Bukan Hanya Tentang Me Time

Self love sering kali dianggap sebagai bentuk memanjakan diri.
Tidak ada yang salah dengan itu. Kita memang perlu memberikan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, merawat diri, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru.

Namun, mencintai diri sendiri juga berarti berani mengatakan, “Aku tidak ingin terus berada di lingkungan yang membuatku merasa tidak nyaman.”

Kadang kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga perasaan sendiri.
Takut dianggap sombong. Takut dibilang berubah. Takut mengecewakan teman.

Padahal, menjaga jarak dari lingkungan yang tidak sehat tidak selalu berarti memutuskan hubungan atau memusuhi seseorang.
Terkadang kita hanya perlu membuat batasan.


Lingkungan Pertemanan Bisa Memengaruhi Kita

Pernahkah kamu merasa baik-baik saja sebelum bertemu seseorang, tetapi setelah mengobrol dengannya justru menjadi kepikiran?
Mungkin karena pembicaraannya selalu berisi gosip, membandingkan kehidupan, mengomentari kekurangan orang lain, atau membuat kita merasa pencapaian kita tidak ada artinya.

Kalau hanya sesekali, mungkin kita bisa menganggapnya sebagai hal biasa.
Tetapi jika terus terjadi, lingkungan seperti ini bisa membuat kita perlahan kehilangan rasa nyaman terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, berada di lingkungan pertemanan yang positif biasanya membuat kita merasa lebih bebas menjadi diri sendiri.
Tidak harus selalu sepemikiran. Tidak harus selalu setuju.
Tetapi ada rasa saling menghargai.
Ketika kita sedang berhasil, mereka ikut senang. Ketika kita sedang mengalami kesulitan, mereka tidak buru-buru menghakimi.
Dan yang paling menyenangkan, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya agar diterima.


Seperti Apa Pertemanan yang Positif?

Pertemanan yang positif bukan berarti setiap hari harus dipenuhi obrolan serius atau kata-kata motivasi.
Teman yang positif juga bisa diajak tertawa karena hal-hal sederhana.
Yang membedakan adalah bagaimana kita merasa setelah berada bersama mereka.

Beberapa cirinya antara lain:

1. Kita bisa menjadi diri sendiri
Tidak perlu terus-menerus menjaga image atau takut salah bicara.

2. Saling mendukung, bukan saling menjatuhkan
Teman yang baik tidak merasa tersaingi ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik dalam hidup.

3. Bisa memberikan kritik dengan cara yang baik
Pertemanan yang sehat bukan berarti selalu membenarkan kita. Teman yang baik juga bisa mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan, tetapi tanpa merendahkan.

4. Tidak menjadikan kehidupan sebagai perlombaan
Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Pertemanan yang sehat tidak membuat kita terus membandingkan rumah, pekerjaan, keluarga, penampilan, atau pencapaian.

5. Menghargai batasan
Kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang. Teman yang baik akan memahami bahwa setiap orang memiliki kehidupan dan masalah masing-masing.


Semakin Dewasa, Lingkaran Pertemanan Bisa Semakin Kecil

Mungkin dulu kita merasa bangga kalau punya banyak teman.
Semakin bertambah usia, pandangan itu bisa berubah.
Kita mulai sadar bahwa memiliki banyak teman tidak selalu berarti memiliki banyak hubungan yang berkualitas.

Kadang justru kita merasa lebih nyaman dengan beberapa orang yang benar-benar tulus dibandingkan berada di tengah banyak orang tetapi merasa sendirian.
Menurutku, itu bukan sesuatu yang perlu disesali.

Lingkaran pertemanan yang semakin kecil bukan berarti kita menjadi antisosial atau sombong.
Bisa jadi, kita hanya semakin memahami apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kita mulai lebih menghargai ketenangan daripada drama.
Lebih memilih percakapan yang bermakna daripada gosip.
Lebih menikmati teman yang bisa membuat kita menjadi diri sendiri daripada lingkungan yang menuntut kita untuk selalu terlihat sempurna.


Memilih Pertemanan Bukan Berarti Memusuhi

Ada satu hal yang menurutku juga penting.
Memilih lingkungan pertemanan yang positif bukan berarti kita harus memusuhi orang-orang yang memiliki energi atau cara berpikir berbeda.

Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran.
Ada hubungan yang cukup kita jalani dengan batasan tertentu.
Ada orang yang tetap kita sapa ketika bertemu, tetapi tidak lagi menjadi tempat untuk berbagi cerita pribadi.
Ada juga pertemanan yang memang perlahan menjauh karena kesibukan dan perubahan kehidupan.
Dan itu adalah hal yang wajar.

Tidak semua orang harus tinggal di lingkaran terdekat kita.
Kita boleh menghargai seseorang tanpa harus selalu dekat dengannya.


Jangan Takut Memilih Lingkungan yang Membuat Kita Bertumbuh

Menurutku, salah satu tanda kita mulai mencintai diri sendiri adalah ketika kita tidak lagi merasa harus diterima oleh semua orang.
Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai kita.
Akan selalu ada orang yang menganggap kita terlalu pendiam, terlalu banyak bicara, terlalu sederhana, terlalu ambisius, atau bahkan terlalu berbeda.
Tidak apa-apa.
Yang penting adalah kita tahu siapa diri kita dan lingkungan seperti apa yang membuat kita bisa bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.

Lingkungan yang baik tidak selalu membuat hidup kita sempurna.
Tetapi setidaknya, kita merasa aman untuk bercerita, nyaman untuk menjadi diri sendiri, dan mendapatkan energi positif setelah menghabiskan waktu bersama mereka.


Memilih Pertemanan Positif adalah Bentuk Self Love

Pada akhirnya, self love bukan hanya tentang me time, skincare, liburan, atau membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Self love juga tentang berani menjaga batasan, menghargai diri sendiri, dan memilih lingkungan yang sehat.

Kita tidak harus memiliki banyak teman.
Kita hanya membutuhkan orang-orang yang bisa saling menghargai, saling mendukung, dan tetap memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Karena hidup sudah cukup penuh dengan berbagai persoalan.

Rasanya kita tidak perlu menambah beban dengan terus berada di lingkungan yang membuat kita kehilangan rasa percaya diri atau merasa tidak cukup baik.
Memilih pertemanan yang positif bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain.
Bisa jadi, itu adalah salah satu cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri:

“Aku berharga, dan aku pantas berada di lingkungan yang sehat.”

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk self love yang paling sederhana, tetapi juga paling berarti 💜



Menjelang 50 tahun, aku mulai menyadari bahwa merawat kulit wajah ternyata punya tantangan sendiri.
Apalagi kalau kulit wajah masih cenderung berminyak.

Di satu sisi, wajah masih mudah terlihat mengilap dan berminyak. Tetapi di sisi lain, kulit mulai mengalami perubahan karena usia. Kadang terasa lebih kering, kusam, tidak sekenyal dulu, dan mulai muncul flek atau garis-garis halus.

Nah, di sinilah aku merasa perawatan kulit menjelang 50 tahun tidak bisa lagi disamakan dengan ketika masih berusia 20 atau 30 tahun.
Bukan berarti kita harus menggunakan lebih banyak skincare.
Justru sebaliknya.

Menurutku, semakin bertambah usia, kita perlu semakin bijak memilih skincare yang memang dibutuhkan kulit.
Tidak perlu mengikuti semua skincare yang sedang viral. Tidak perlu memiliki banyak serum hanya karena melihat rekomendasi orang lain.

------------------------------
Baca juga: Review Sabun Cair K Natural White Jeju Lemon: Antibakteri, Mencerahkan, dan Super Segar!
------------------------------

Untuk kulit berminyak menjelang 50 tahun, menurutku ada tiga skincare yang layak menjadi prioritas: moisturizer, sunscreen, dan serum.


1. Moisturizer: Kulit Berminyak Tetap Butuh Pelembap

Salah satu kesalahan yang mungkin pernah dilakukan pemilik kulit berminyak adalah menganggap bahwa kulit yang mudah berminyak tidak membutuhkan pelembap.
Padahal, kulit berminyak tetap membutuhkan hidrasi.
Yang perlu diperhatikan adalah memilih moisturizer dengan tekstur dan formula yang nyaman untuk kulit berminyak.

Aku sendiri lebih suka pelembap yang ringan, tidak terasa lengket dan tidak membuat wajah semakin terasa berat.


Salah satu produk yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Perfect Bright Moisturizer Bright + Oil Control SPF 30 PA+++.
Produk ini ditujukan untuk kulit normal hingga berminyak dan mengandung Zinc yang membantu mengontrol minyak. Di dalamnya juga terdapat SPF 30 PA+++.
Meski begitu, karena aku ingin mendapatkan perlindungan matahari yang lebih optimal, aku tetap menggunakan sunscreen khusus setelah moisturizer.

Menurutku, menemukan moisturizer yang cocok untuk kulit berminyak cukup penting.
Sebab kalau pelembap terasa terlalu berat, kita bisa menjadi malas menggunakannya.
Dan skincare yang paling bagus pun tidak akan banyak berarti kalau hanya disimpan di rak.


2. Sunscreen: Jangan Karena Kulit Berminyak Lalu Melewatkannya

Kalau ada satu skincare yang menurutku semakin penting menjelang usia 50 tahun, sunscreen adalah salah satunya.

Sering kali kita lebih sibuk mencari produk untuk mengatasi flek, kulit kusam, atau garis halus.
Padahal, melindungi kulit dari paparan sinar matahari juga merupakan bagian penting dari perawatan kulit.

Bagi pemilik kulit berminyak, tantangannya biasanya adalah mencari sunscreen yang terasa nyaman.
Aku tentu tidak ingin memakai sunscreen yang membuat wajah terasa semakin lengket atau seperti memakai lapisan tebal di atas kulit.


Salah satu pilihan yang menarik adalah Wardah UV Shield Airy Smooth Sunscreen Serum SPF 50 PA++++.
Sunscreen ini memiliki tekstur watery dan ringan dengan hasil akhir yang lebih smooth, sehingga bisa menjadi pilihan bagi pemilik kulit yang tidak menyukai sunscreen berat.

Untukku, sunscreen yang nyaman digunakan adalah nilai plus.
Karena pada akhirnya, bukan hanya soal memilih SPF yang tinggi, tetapi juga bagaimana membuat sunscreen menjadi kebiasaan sehari-hari.

Gunakan pada pagi hari dan aplikasikan ulang ketika memang diperlukan, terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan.

------------------------------
Baca juga: 7 Tips Menghilangkan Kantung Mata
------------------------------


3. Serum: Tidak Perlu Banyak, Pilih yang Sesuai Kebutuhan

Nah, kalau moisturizer dan sunscreen sudah menjadi bagian dari rutinitas, kita bisa menambahkan serum.

Tetapi aku tidak merasa bahwa menjelang 50 tahun kita harus mempunyai banyak serum.
Justru menurutku, satu serum yang sesuai dengan kebutuhan kulit jauh lebih masuk akal daripada memiliki banyak serum tetapi bingung kapan menggunakannya.

Kulit menjelang 50 tahun mungkin mulai menghadapi beberapa masalah seperti kusam, warna kulit yang tidak merata, noda atau flek yang mulai terlihat.


Salah satu serum yang bisa dipertimbangkan adalah Wardah Lightening 5% Niacinamide Serum Ampoule.
Kandungan niacinamide cukup populer digunakan dalam skincare untuk membantu merawat tampilan kulit agar terlihat lebih cerah dan merata, sekaligus mendukung perawatan skin barrier.

Namun sekali lagi, serum bukan berarti wajib untuk semua orang.
Kalau kulitmu sudah nyaman dengan cleanser, moisturizer, dan sunscreen, itu pun sudah merupakan rutinitas dasar yang baik.
Serum adalah tambahan ketika kita memang ingin memberikan perhatian lebih pada masalah kulit tertentu.


Kenapa Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun Perlu Perhatian Khusus?

Mungkin ada yang berpikir, “Bukankah kulit berminyak justru menguntungkan karena tidak mudah keriput?”
Ada sedikit benarnya bahwa kondisi kulit setiap orang berbeda dan tanda penuaan tidak hanya ditentukan oleh jenis kulit.

Jadi, jangan menganggap kulit berminyak berarti bebas dari masalah penuaan.

Kulit berminyak tetap bisa mengalami:
• Flek hitam
• Kulit kusam
• Garis-garis halus
• Tekstur kulit yang berubah
• Kehilangan kelembapan
• Kulit terlihat kurang kenyal

Karena itu, fokus perawatannya bukan membuat wajah menjadi sekering mungkin, tetapi menjaga keseimbangan kulit.
Kita tetap ingin mengontrol minyak tanpa mengabaikan kelembapan.
Dan kita ingin merawat kulit tanpa membuat rutinitas skincare menjadi terlalu rumit.

Rutinitas Skincare Sederhana untuk Kulit Berminyak Menjelang 50 Tahun

Kalau dibuat sederhana, sebenarnya rutinitasnya tidak perlu panjang.

• Pagi
Cleanser → Moisturizer → Sunscreen
• Malam
Cleanser → Serum → Moisturizer

Sudah, hanya itu.
Kalau ingin menambahkan produk lain, lakukan secara bertahap dan lihat bagaimana kulit meresponsnya.
Tidak perlu memasukkan banyak produk sekaligus.
Dengan begitu, kalau ternyata ada produk yang tidak cocok, kita juga lebih mudah mengetahui produk mana yang menjadi penyebabnya.


Menjelang 50 Tahun, Aku Tidak Ingin Melawan Usia

Ada satu hal yang semakin aku pahami menjelang 50 tahun.
Aku tidak bisa menghentikan waktu.
Garis halus mungkin akan datang.
Flek mungkin muncul.
Kulit juga tidak akan sama seperti ketika aku berusia 20 atau 30 tahun.
Dan itu tidak apa-apa.

------------------------------
Baca juga: Manfaat Menggunakan Serum Vitamin C untuk Usia 40 tahun ke atas
------------------------------

Menurutku, merawat wajah bukan berarti harus membuat diri terlihat jauh lebih muda.
Aku lebih suka melihat skincare sebagai salah satu bentuk self-care.

Cara sederhana untuk memberi perhatian kepada diri sendiri;
• Menggunakan moisturizer setelah membersihkan wajah.
• Mengoleskan sunscreen sebelum beraktivitas.
• Memakai serum ketika kulit memang membutuhkannya.

Tidak perlu berlebihan.
Tidak perlu mengikuti semua tren.
Yang penting kulit terasa nyaman dan kita konsisten merawatnya.

Karena menjelang 50 tahun, mungkin yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak skincare.
Tetapi semakin mengenal kulit kita sendiri.
Dan untuk kulit berminyak seperti kulitku, tiga hal sederhana ini sudah menjadi awal yang cukup baik:
Jaga kelembapan. Lindungi dari sinar matahari. Rawat sesuai kebutuhan.

Karena pada akhirnya, merawat wajah di usia menjelang 50 tahun bukan tentang ingin kembali menjadi 20 tahun.
Tetapi tentang menerima perubahan, sambil tetap memberikan yang terbaik untuk diri sendiri 💜






Ada kalanya kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru.

“Sudah umur segini, masih mau belajar?”
“Memangnya masih bisa?”

Pertanyaan seperti itu mungkin pernah terlintas di benak banyak perempuan. Terlebih ketika usia bertambah, kesibukan semakin banyak, dan perhatian lebih banyak tercurah untuk keluarga.

Padahal, perempuan tidak pernah terlambat untuk belajar.
Belajar tidak memiliki batas usia. Kita tidak harus kembali ke bangku sekolah atau mendapatkan gelar baru untuk disebut sedang belajar. Membaca buku, mengikuti kursus, belajar menggunakan teknologi, mencoba keterampilan baru, bahkan belajar memahami diri sendiri juga merupakan bagian dari proses belajar.


Belajar Tidak Berhenti Setelah Lulus Sekolah

Kita sering menganggap pendidikan selesai ketika sudah mendapatkan ijazah.
Setelah lulus sekolah atau kuliah, kita bekerja, menikah, mengurus rumah tangga, membesarkan anak, dan menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

Tanpa sadar, rutinitas membuat kita berhenti bertanya:

“Apa lagi yang ingin aku pelajari?”

Padahal kehidupan terus berubah.
Teknologi berkembang. Cara bekerja berubah. Informasi semakin mudah didapatkan. Hal-hal yang dulu tidak kita kenal sekarang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itulah, belajar sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.


Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai

Mungkin saat usia masih muda kita punya banyak kesempatan untuk belajar, tetapi belum tahu apa yang ingin kita lakukan.
Ketika usia bertambah, kita justru mulai mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Kita tahu apa yang kita sukai. Kita tahu kemampuan yang ingin dikembangkan. Kita juga mulai memahami hal-hal yang selama ini ingin kita coba tetapi selalu tertunda.
Jadi, kalau hari ini seorang perempuan berusia 40, 50, bahkan 60 tahun ingin belajar sesuatu yang baru, mengapa tidak?

Tidak perlu membandingkan diri dengan mereka yang sudah memulainya sejak muda.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Lebih baik memulai sekarang daripada terus menunggu sampai akhirnya tidak pernah mencoba sama sekali.


Belajar di Usia Dewasa Memang Berbeda

Belajar ketika sudah dewasa mungkin tidak sama dengan ketika kita masih sekolah.
Dulu kita belajar karena ada tugas, ujian, atau tuntutan dari orang tua dan sekolah.

Sekarang kita bisa belajar karena memang ingin.
Ingin bisa membuat konten.
Ingin belajar menulis.
Ingin memahami media sosial.
Ingin belajar menggunakan aplikasi baru.
Ingin membuka usaha kecil-kecilan.
Ingin belajar bahasa asing.
Atau mungkin sekadar ingin membaca buku dan memahami sesuatu yang selama ini membuat penasaran.

Tidak harus besar.

Satu pengetahuan baru yang kita dapatkan hari ini tetap merupakan sebuah kemajuan.


Perempuan Boleh Punya Ruang untuk Bertumbuh

Menjadi istri dan ibu bukan berarti seorang perempuan harus berhenti berkembang.

Kita boleh mencintai keluarga sekaligus tetap memiliki mimpi.
Kita boleh sibuk mengurus rumah tetapi tetap menyediakan waktu untuk membaca.
Kita boleh menjadi ibu rumah tangga sekaligus belajar keterampilan yang mungkin suatu hari bisa menjadi pekerjaan atau sumber penghasilan.
Kita juga boleh memiliki kehidupan yang terus bertumbuh meskipun usia tidak lagi muda.

Karena menjadi perempuan bukan hanya tentang menjalankan peran untuk orang lain. Kita juga tetap memiliki diri sendiri yang perlu dirawat dan dikembangkan.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita membayangkan belajar harus membutuhkan banyak waktu dan biaya.
Padahal tidak selalu demikian.

Kita bisa memulainya dari 15–30 menit sehari.
Membaca beberapa halaman buku.
Menonton video pembelajaran.
Mencoba aplikasi baru.
Mengikuti kelas gratis.
Mencatat sesuatu yang baru kita pahami.

Bahkan bertanya kepada orang lain yang lebih memahami suatu hal juga merupakan proses belajar.
Yang terpenting bukan seberapa cepat kita menguasainya, tetapi kemauan untuk terus mencoba.


Jangan Takut Merasa “Ketinggalan”

Salah satu hal yang sering membuat perempuan dewasa ragu untuk belajar adalah perasaan bahwa dirinya sudah tertinggal jauh.
Melihat orang lain sudah mahir menggunakan teknologi, sukses menjalankan bisnis, produktif membuat konten, atau memiliki berbagai keterampilan terkadang membuat kita berpikir:
“Kenapa aku baru mulai sekarang?”

Daripada terus memikirkan hal itu, lebih baik bertanya:
“Apa yang bisa aku pelajari mulai hari ini?”
Kita tidak perlu mengejar kehidupan orang lain.
Kita hanya perlu menjadi sedikit lebih baik dibanding diri kita yang kemarin.


Pendidikan dan Belajar Membuat Perempuan Terus Bertumbuh

Pendidikan memberikan pengetahuan, tetapi proses belajar membuat kita terus bertumbuh.
Dengan belajar, kita menjadi lebih terbuka terhadap perubahan. Kita lebih percaya diri menghadapi hal-hal baru dan tidak mudah merasa takut ketika dunia berubah.

Bagi seorang perempuan, pengetahuan juga dapat menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
Itulah sebabnya pentingnya pendidikan bagi perempuan tidak berhenti ketika seseorang sudah menyelesaikan sekolah atau kuliah.
Belajar dapat berlangsung sepanjang hidup.


Tidak Harus Menunggu Momen yang Tepat

Sering kali kita mengatakan:
“Nanti kalau anak sudah besar.”
“Nanti kalau punya waktu.”
“Nanti kalau keadaan sudah lebih baik.”
“Nanti kalau sudah tidak sibuk.”
Masalahnya, “nanti” bisa berlangsung sangat lama.

Kalau ada sesuatu yang ingin dipelajari, mungkin kita tidak perlu menunggu semuanya sempurna.
Mulailah dari apa yang ada.
Mulailah dari kemampuan yang kita punya.
Mulailah dari waktu yang tersedia.
Tidak perlu langsung hebat.
Yang penting mulai.


Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar

Pada akhirnya, belajar bukan tentang usia.
Bukan tentang siapa yang lebih cepat.
Bukan juga tentang siapa yang paling banyak memiliki gelar.
Belajar adalah tentang keinginan untuk terus tumbuh dan membuka diri terhadap hal-hal baru.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa ingin belajar sesuatu, jangan terlalu sibuk memikirkan apakah kamu sudah terlambat.
Barangkali memang waktunya baru sekarang.
Dan tidak apa-apa.
Karena setiap perempuan memiliki perjalanan masing-masing.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, selama kita masih memiliki keinginan untuk mencoba.
Mungkin kita tidak bisa kembali menjadi perempuan berusia 20 tahun.
Tetapi kita masih bisa menjadi perempuan berusia 40, 50, atau 60 tahun yang terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan.
Dan menurutku, itu adalah salah satu bentuk keberanian yang indah.


"Kita tidak akan menjadi lebih bersinar hanya karena berhasil meredupkan cahaya perempuan lain. Justru ketika kita saling menerangi, dunia akan menjadi lebih indah."

Beberapa waktu terakhir, aku sering memperhatikan satu hal. Baik di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial, tidak sedikit perempuan yang justru lebih mudah mengomentari, membandingkan, bahkan menjatuhkan perempuan lain.

Ada yang mengomentari penampilan. Ada yang meremehkan usaha kecil yang baru dirintis. Ada pula yang sinis ketika melihat perempuan lain berhasil meraih impiannya.

Jujur, aku sering bertanya dalam hati, mengapa kita begitu sulit ikut bahagia melihat perempuan lain bersinar?
Padahal hidup sudah cukup penuh tantangan. Mengapa kita masih harus saling menjatuhkan?

------------------------------
Baca juga: Pentingnya Ibu Rumah Tangga Mencintai Diri Sendiri di Tengah Padatnya Rutinitas
------------------------------

Aku menulis artikel ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, tulisan ini menjadi pengingat untuk diriku sendiri bahwa kita selalu punya pilihan: menjadi perempuan yang saling menjatuhkan atau menjadi perempuan yang saling menguatkan.


Ketika Perempuan Merasa Harus Bersaing

Menurutku, tidak ada perempuan yang terlahir untuk saling membenci. Banyak sikap negatif justru lahir dari rasa tidak percaya diri, pengalaman hidup, atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Media sosial juga sering membuat kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. 
Saat melihat orang lain sukses, memiliki bisnis yang berkembang, keluarga yang terlihat harmonis, atau karier yang terus naik, tanpa sadar kita mulai bertanya, "Kenapa hidupku belum seperti itu?"
Kalau perasaan itu tidak dikelola, rasa kagum bisa berubah menjadi iri. Dan iri hati sering kali muncul dalam bentuk komentar yang menyakitkan atau sikap yang meremehkan.
Padahal, kesuksesan perempuan lain tidak pernah mengurangi kesempatan kita untuk sukses juga.


Woman Support Woman, Lebih dari Sekadar Tren

Belakangan ini istilah woman support woman semakin sering terdengar. Sayangnya, menurutku maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar menuliskannya sebagai caption di media sosial.

Woman support woman berarti sesama perempuan saling mendukung, saling menghargai, dan saling menguatkan tanpa harus merasa tersaingi.
Bukan berarti kita harus selalu sepakat dalam segala hal. Kita tetap boleh memiliki pendapat yang berbeda. Namun, kita bisa menyampaikannya dengan cara yang baik, tanpa merendahkan atau mempermalukan.

Karena setiap perempuan sedang berjuang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang sedang membangun usaha dari nol. Ada yang sedang belajar menjadi ibu. Ada yang sedang berusaha bangkit setelah gagal. Ada pula yang diam-diam sedang berjuang menghadapi masalah yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.


Aku Pernah Merasakan Indahnya Woman Support Woman

Kalau ada satu hal yang membuatku tetap bertahan di dunia blogging hingga hari ini, salah satunya adalah karena aku bertemu banyak perempuan hebat.

Sudah lebih dari belasan tahun aku menjadi blogger. Selama perjalanan itu, aku mengenal banyak perempuan yang tidak pelit berbagi ilmu, saling menyemangati, bahkan membuka jalan agar teman-temannya juga bisa berkembang.

Ada yang dengan sabar mengajarkan hal-hal baru. Ada yang membagikan informasi lomba blog atau peluang kerja sama. Ada yang sekadar mengirim pesan singkat, "Wah keren mbak, semangat ya!"
Mungkin bagi mereka itu hal sederhana. Tapi bagiku, dukungan kecil seperti itu sangat berarti.

Pengalaman itu membuatku percaya bahwa woman support woman bukan sekadar slogan. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana dukungan dari sesama perempuan bisa membuat seseorang lebih percaya diri untuk terus berkarya.

Karena itu, setiap kali melihat perempuan lain memulai usaha, menulis buku, membangun bisnis, membangun komunitas, atau berani mengejar mimpinya, aku ingin ikut memberikan semangat.

------------------------------
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental Perempuan dengan Menulis
------------------------------

Aku percaya, tidak ada ruginya mendukung perempuan lain. Justru ketika kita saling menguatkan, kita sedang menciptakan lingkungan yang lebih hangat untuk bertumbuh bersama.


Dukungan Kecil Bisa Memberikan Dampak Besar

Aku percaya, menjadi perempuan yang mendukung perempuan lain sebenarnya tidak sulit.

Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana.
Memberikan pujian yang tulus.

• Mengucapkan selamat atas pencapaian teman.
• Membagikan usaha atau karya perempuan lain.
• Tidak ikut bergosip atau menyebarkan komentar negatif.
• Memberikan semangat ketika ada teman yang sedang berada di titik terendah hidupnya.
• Tidak pelit memberi apresiasi.

Mungkin bagi kita itu hanya tindakan kecil. Namun bagi orang lain, dukungan sederhana itu bisa menjadi alasan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri.


Aku Ingin Menjadi Perempuan yang Ikut Bersinar Bersama

Semakin bertambah usia, aku justru semakin sadar bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan.
Aku senang melihat semakin banyak perempuan yang berani berkarya, membangun bisnis, menulis, menjadi kreator konten, atau mengejar impian yang selama ini tertunda.

Kalau ada perempuan lain yang berhasil, aku ingin belajar ikut bertepuk tangan.
Karena aku percaya, cahaya orang lain tidak akan membuat cahayaku redup.

Sebaliknya, ketika kita saling mendukung, semakin banyak perempuan yang berani melangkah. Dan bukankah itu jauh lebih indah daripada saling menjatuhkan?


Mari Menjadi Perempuan yang Saling Menguatkan

Kalau hari ini kita bisa memilih antara menghakimi atau memberi semangat, aku berharap kita memilih memberi semangat.

Kalau hari ini kita bisa memilih antara iri atau ikut bahagia, semoga kita belajar untuk ikut merayakan keberhasilan perempuan lain.
Karena dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak perempuan yang saling bersaing.
Dunia membutuhkan lebih banyak perempuan yang saling menghargai, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Semoga setelah menulis dan membaca tulisan ini, kita tidak lagi sibuk bertanya, "Mengapa dia bisa?", tetapi mulai bertanya, "Apa yang bisa kulakukan untuk ikut mendukungnya?"

Aku percaya, dukungan kecil yang kita berikan mungkin terlihat biasa bagi kita. Namun, bagi orang lain, dukungan itu bisa menjadi alasan untuk kembali percaya pada dirinya sendiri, berani memulai, atau tetap bertahan di tengah perjalanan yang tidak mudah.

Sebagai perempuan, kita sama-sama memiliki cerita, perjuangan, dan luka yang mungkin tidak terlihat. Karena itu, alangkah indahnya jika kita saling merangkul, bukan saling menjatuhkan. Saling memberi ruang untuk bertumbuh, bukan saling berlomba menjadi yang paling hebat.

Aku juga masih terus belajar menjadi perempuan yang mampu ikut bahagia melihat perempuan lain bersinar. Bukan karena aku selalu berhasil melakukannya, tetapi karena aku yakin dunia akan menjadi tempat yang lebih hangat ketika kita memilih saling menguatkan.

------------------------------
Baca juga: Support System Seorang Emak Blogger
------------------------------

Bagiku, cantik bukan hanya tentang penampilan. Cantik adalah tentang hati yang lapang, yang tidak takut melihat perempuan lain sukses, yang tulus memberi apresiasi, dan yang percaya bahwa rezeki, kesempatan, dan kebahagiaan setiap orang sudah memiliki jalannya masing-masing.

Kalau suatu hari nanti ada seseorang yang merasa lebih percaya diri karena dukungan kecil yang kuberikan, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.
Karena pada akhirnya, perempuan yang saling mendukung akan melahirkan lebih banyak perempuan hebat. Dan dunia selalu membutuhkan lebih banyak kebaikan seperti itu 💜

Bagaimana menurutmu?
Pernahkah kamu merasakan dukungan dari sesama perempuan? Atau justru pernah mengalami pengalaman yang membuatmu merasa dijatuhkan?

Yuk, ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu, ceritamu bisa menjadi penguat bagi perempuan lain yang sedang membaca artikel ini.





Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini


Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

Motivasi Harian

Motivasi Harian

Copywriting & Content

Copywriting & Content

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • Giveaway Tebak Foto
  • Mata Kering Bisa Bikin Drama, Atasi dengan Insto Dry Eyes Saja!
  • Woman Support Woman: Mengapa Sesama Perempuan Perlu Saling Mendukung?
  • Menjelang 50 Tahun dengan Kulit Berminyak, Ini 3 Skincare yang Penting
  • Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar

Kategori

BTS 5 Buku 29 Dian Sastro & Nicholas Saputra 4 Drama Stories 37 Enid Blyton 15 Fiksi 15 Film 21 Indonesia-ku 36 Info & Tips 81 Jalan-jalan 25 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 74 Keuangan 5 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Lingkungan Alam 27 Lomba 30 Musik 17 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 25 Parenting 8 Pendidikan 3 Perempuan 14 Quotes 5 Religi 21 Resep 23 Review 130 Satwa 22 Sejarah 6 Self Love 16 Teknologi 19

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes