Selama ini, ketika mendengar istilah self love, yang terlintas di pikiran mungkin adalah merawat diri, membeli sesuatu yang disukai, pergi liburan, menikmati me time, atau sekadar punya waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat hati senang.
Semua itu memang bagian dari mencintai diri sendiri.
Semua itu memang bagian dari mencintai diri sendiri.
Tapi ternyata, ada satu bentuk self love yang sering terlupakan: memilih lingkungan pertemanan yang positif.
Sebab, siapa saja yang berada di sekitar kita sedikit banyak akan memengaruhi cara kita berpikir, merasa, bahkan memandang diri sendiri.
Ada teman yang setelah diajak ngobrol membuat kita merasa lebih ringan. Ada juga lingkungan yang tanpa sadar justru membuat kita sering merasa lelah secara emosional.
Dari situlah aku mulai memahami bahwa menjaga diri bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri, tetapi juga tentang siapa yang kita izinkan untuk dekat dengan kita.
Self Love Bukan Hanya Tentang Me Time
Self love sering kali dianggap sebagai bentuk memanjakan diri.
Tidak ada yang salah dengan itu. Kita memang perlu memberikan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, merawat diri, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru.
Namun, mencintai diri sendiri juga berarti berani mengatakan, “Aku tidak ingin terus berada di lingkungan yang membuatku merasa tidak nyaman.”
Kadang kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga perasaan sendiri.
Takut dianggap sombong. Takut dibilang berubah. Takut mengecewakan teman.
Padahal, menjaga jarak dari lingkungan yang tidak sehat tidak selalu berarti memutuskan hubungan atau memusuhi seseorang.
Terkadang kita hanya perlu membuat batasan.
Lingkungan Pertemanan Bisa Memengaruhi Kita
Pernahkah kamu merasa baik-baik saja sebelum bertemu seseorang, tetapi setelah mengobrol dengannya justru menjadi kepikiran?
Mungkin karena pembicaraannya selalu berisi gosip, membandingkan kehidupan, mengomentari kekurangan orang lain, atau membuat kita merasa pencapaian kita tidak ada artinya.
Kalau hanya sesekali, mungkin kita bisa menganggapnya sebagai hal biasa.
Tetapi jika terus terjadi, lingkungan seperti ini bisa membuat kita perlahan kehilangan rasa nyaman terhadap diri sendiri.
Sebaliknya, berada di lingkungan pertemanan yang positif biasanya membuat kita merasa lebih bebas menjadi diri sendiri.
Tidak harus selalu sepemikiran. Tidak harus selalu setuju.
Tetapi ada rasa saling menghargai.
Ketika kita sedang berhasil, mereka ikut senang. Ketika kita sedang mengalami kesulitan, mereka tidak buru-buru menghakimi.
Dan yang paling menyenangkan, kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya agar diterima.
Seperti Apa Pertemanan yang Positif?
Teman yang positif juga bisa diajak tertawa karena hal-hal sederhana.
Yang membedakan adalah bagaimana kita merasa setelah berada bersama mereka.
Beberapa cirinya antara lain:
1. Kita bisa menjadi diri sendiri
Tidak perlu terus-menerus menjaga image atau takut salah bicara.
2. Saling mendukung, bukan saling menjatuhkan
Teman yang baik tidak merasa tersaingi ketika kita mendapatkan sesuatu yang baik dalam hidup.3. Bisa memberikan kritik dengan cara yang baik
Pertemanan yang sehat bukan berarti selalu membenarkan kita. Teman yang baik juga bisa mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan, tetapi tanpa merendahkan.4. Tidak menjadikan kehidupan sebagai perlombaan
Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Pertemanan yang sehat tidak membuat kita terus membandingkan rumah, pekerjaan, keluarga, penampilan, atau pencapaian.5. Menghargai batasan
Kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang. Teman yang baik akan memahami bahwa setiap orang memiliki kehidupan dan masalah masing-masing.
Semakin Dewasa, Lingkaran Pertemanan Bisa Semakin Kecil
Mungkin dulu kita merasa bangga kalau punya banyak teman.
Semakin bertambah usia, pandangan itu bisa berubah.
Kita mulai sadar bahwa memiliki banyak teman tidak selalu berarti memiliki banyak hubungan yang berkualitas.
Kadang justru kita merasa lebih nyaman dengan beberapa orang yang benar-benar tulus dibandingkan berada di tengah banyak orang tetapi merasa sendirian.
Menurutku, itu bukan sesuatu yang perlu disesali.
Lingkaran pertemanan yang semakin kecil bukan berarti kita menjadi antisosial atau sombong.
Bisa jadi, kita hanya semakin memahami apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan.
Kita mulai lebih menghargai ketenangan daripada drama.
Lebih memilih percakapan yang bermakna daripada gosip.
Lebih menikmati teman yang bisa membuat kita menjadi diri sendiri daripada lingkungan yang menuntut kita untuk selalu terlihat sempurna.
Memilih Pertemanan Bukan Berarti Memusuhi
Ada satu hal yang menurutku juga penting.
Memilih lingkungan pertemanan yang positif bukan berarti kita harus memusuhi orang-orang yang memiliki energi atau cara berpikir berbeda.
Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran.
Ada hubungan yang cukup kita jalani dengan batasan tertentu.
Ada orang yang tetap kita sapa ketika bertemu, tetapi tidak lagi menjadi tempat untuk berbagi cerita pribadi.
Ada juga pertemanan yang memang perlahan menjauh karena kesibukan dan perubahan kehidupan.
Dan itu adalah hal yang wajar.
Tidak semua orang harus tinggal di lingkaran terdekat kita.
Kita boleh menghargai seseorang tanpa harus selalu dekat dengannya.
Jangan Takut Memilih Lingkungan yang Membuat Kita Bertumbuh
Menurutku, salah satu tanda kita mulai mencintai diri sendiri adalah ketika kita tidak lagi merasa harus diterima oleh semua orang.
Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai kita.
Akan selalu ada orang yang menganggap kita terlalu pendiam, terlalu banyak bicara, terlalu sederhana, terlalu ambisius, atau bahkan terlalu berbeda.
Tidak apa-apa.
Yang penting adalah kita tahu siapa diri kita dan lingkungan seperti apa yang membuat kita bisa bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.
Lingkungan yang baik tidak selalu membuat hidup kita sempurna.
Tetapi setidaknya, kita merasa aman untuk bercerita, nyaman untuk menjadi diri sendiri, dan mendapatkan energi positif setelah menghabiskan waktu bersama mereka.
Memilih Pertemanan Positif adalah Bentuk Self Love
Pada akhirnya, self love bukan hanya tentang me time, skincare, liburan, atau membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Self love juga tentang berani menjaga batasan, menghargai diri sendiri, dan memilih lingkungan yang sehat.
Kita tidak harus memiliki banyak teman.
Kita hanya membutuhkan orang-orang yang bisa saling menghargai, saling mendukung, dan tetap memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Karena hidup sudah cukup penuh dengan berbagai persoalan.
Rasanya kita tidak perlu menambah beban dengan terus berada di lingkungan yang membuat kita kehilangan rasa percaya diri atau merasa tidak cukup baik.
Memilih pertemanan yang positif bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain.
Bisa jadi, itu adalah salah satu cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri:
“Aku berharga, dan aku pantas berada di lingkungan yang sehat.”



0 comments
Terima kasih sudah berkunjung :)
Jangan lupa tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Semua komentar yang masuk dimoderasi, komentar spam dan link hidup tidak akan ditampilkan.
Terima kasih.