Ketika Karhutla Terjadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Ini Cara Sederhana Membantu dari Rumah

sumber foto: cakrawala.co


Saat melihat berita tentang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, hati kita mungkin ikut terasa sesak.
Melihat hutan terbakar, asap mengepul, masyarakat terdampak, dan membayangkan satwa liar yang kehilangan habitatnya tentu membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Kemudian muncul pikiran, “Aku kan tidak berada di lokasi. Apa yang bisa aku lakukan?”

Tidak semua orang bisa datang langsung ke lokasi karhutla. Tidak semua orang bisa menjadi relawan pemadam kebakaran atau ikut dalam proses penyelamatan satwa.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan dari rumah untuk ikut menjaga lingkungan dan membantu ketika karhutla terjadi.


Karhutla Bukan Hanya Masalah Mereka yang Tinggal di Sekitar Hutan

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan wilayah yang terbakar.
Asapnya bisa menyebar ke wilayah lain. Kualitas udara dapat terganggu. Ekosistem rusak dan satwa liar kehilangan habitatnya.
Bagi satwa, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di sanalah mereka mencari makanan, menemukan air, berlindung, berkembang biak, dan membesarkan anak-anaknya.

Ketika habitat terbakar, sebagian satwa mungkin mati atau terluka. Sebagian lainnya berusaha melarikan diri dan dapat muncul di perkebunan, permukiman, bahkan jalan raya.
Karena itu, karhutla sebenarnya menjadi persoalan yang menyangkut kita semua.

Lalu, kalau kita tidak berada di lokasi, apa yang bisa dilakukan?

1. Jangan Ikut Menyebarkan Informasi yang Belum Jelas

Saat terjadi karhutla, media sosial biasanya dipenuhi foto, video, dan informasi tentang kebakaran.
Keinginan untuk segera membagikan informasi memang wajar. Apalagi kalau kita merasa sedang membantu menyebarkan kabar.

Tapi sebaiknya berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Apakah sumbernya jelas?
Apakah foto atau videonya memang berasal dari lokasi dan kejadian yang sedang berlangsung?
Apakah informasinya berasal dari pihak yang dapat dipercaya?

Jangan sampai niat kita membantu justru membuat informasi yang keliru semakin menyebar.
Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi juga merupakan bentuk kepedulian.


2. Gunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Informasi yang Bermanfaat

Media sosial tidak selalu harus menjadi tempat untuk melihat kabar buruk.
Kita juga bisa menggunakannya untuk membantu.

Bagikan informasi dari sumber resmi mengenai kondisi karhutla, kualitas udara, imbauan keselamatan, informasi penanganan satwa, atau cara melaporkan kejadian kebakaran.

Satu unggahan mungkin terlihat kecil.
Jika informasi yang benar sampai kepada orang yang membutuhkannya, tentu manfaatnya menjadi lebih besar.

Jadi, kalau kita belum bisa turun ke lapangan, kita masih bisa membantu dari layar ponsel kita.


3. Jangan Mengganggu Satwa Liar yang Keluar dari Habitatnya

Ini juga penting banget, lho.
Ketika habitatnya terbakar, satwa liar mungkin keluar untuk menyelamatkan diri.

Kalau suatu saat kita menemukan satwa liar di sekitar permukiman atau tempat lain yang bukan habitatnya, jangan langsung mengejar, menangkap, atau mengerumuninya.
Satwa tersebut kemungkinan sedang dalam kondisi stres dan ketakutan.
Apalagi jika satwa mengalami luka.

Jangan mencoba menjadi pahlawan dengan menangkap atau memberikan makanan sembarangan.

Jika kondisinya membutuhkan pertolongan, lebih baik menghubungi petugas atau pihak berwenang yang menangani satwa liar.

Kita membantu bukan dengan membuat satwa semakin panik, tetapi dengan memberikan kesempatan kepada pihak yang tepat untuk menanganinya.


4. Jangan Menjadikan Satwa yang Sedang Ketakutan sebagai Konten

Di zaman media sosial seperti sekarang, hampir semua kejadian bisa menjadi konten.
Termasuk ketika ada satwa liar yang keluar dari habitatnya.

Tapi mari belajar bertanya kepada diri sendiri:
Apakah satwa itu benar-benar membutuhkan kita untuk merekamnya?
Mungkin kita ingin mendapatkan foto yang bagus.
Mungkin videonya terlihat menarik.

Namun bagi satwa tersebut, situasinya mungkin sedang sangat menakutkan.
Jadi, sebisa mungkin jangan mengejar, menyentuh, atau mengerumuni satwa hanya demi mendapatkan foto dan video.

Kepedulian terhadap satwa juga berarti tahu kapan harus menjaga jarak.


5. Dukung Bantuan yang Kredibel

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke lokasi karhutla.
Tetapi ketika ada lembaga atau organisasi terpercaya yang membuka bantuan untuk penanganan bencana, penyelamatan satwa, atau pemulihan lingkungan, kita bisa ikut berkontribusi sesuai kemampuan.

Tidak harus dalam jumlah besar.
Bantuan kecil dari banyak orang dapat menjadi sesuatu yang berarti.
Namun tetap berhati-hati.
Pastikan penggalangan dana atau bantuan tersebut memiliki informasi yang jelas dan berasal dari pihak yang dapat dipercaya.

Jangan sampai kepedulian kita justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


6. Jangan Membakar Sampah atau Lahan Sembarangan

Kalau berbicara tentang apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah karhutla, sebenarnya kita bisa mulai dari hal yang sangat dekat.

Jangan membakar sesuatu sembarangan.
Terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan risiko kebakaran meningkat.
Api yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Karena itu, menjaga lingkungan dari rumah bukan sesuatu yang sepele.
Mencegah terjadinya kebakaran juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap hutan dan satwa liar.


7. Tetap Peduli Setelah Api Padam

Ada satu hal yang sering terjadi ketika sebuah bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.
Perhatian kita perlahan beralih ke hal lain.

Padahal setelah api padam, bukan berarti semuanya kembali seperti semula.
Hutan membutuhkan waktu untuk pulih.
Vegetasi perlu tumbuh kembali.
Sumber makanan dan air bagi satwa perlu tersedia.
Habitat yang rusak juga membutuhkan proses pemulihan.
Kepedulian terhadap karhutla sebaiknya tidak hanya muncul ketika kita melihat asap dan api di layar televisi atau media sosial.

Kita juga bisa terus mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, penghijauan, pemulihan habitat, dan perlindungan satwa liar.


8. Mulai Menjaga Lingkungan dari Sekitar Kita

Mungkin kita merasa apa yang dilakukan di rumah tidak ada hubungannya dengan hutan yang letaknya jauh.

Padahal menjaga lingkungan memang sebaiknya dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.
• Mengurangi sampah.
• Tidak membakar sampah sembarangan.
• Nerawat pohon yang sudah tumbuh.
• Menanam tanaman.
• Menghemat penggunaan sumber daya.
• Mengajak anak mengenal dan mencintai alam.

Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat besar.
Tetapi bukankah perubahan memang sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali?


Kita Tidak Harus Berada di Garis Depan untuk Peduli

Ketika karhutla terjadi, ada orang-orang yang berada di garis depan.
Ada petugas yang berusaha memadamkan api.
Ada masyarakat sekitar yang terdampak sekaligus membantu.
Ada relawan yang turun ke lapangan.
Ada pihak yang menangani satwa liar.
Dan ada kita yang mungkin hanya bisa melihat dari jauh.

Peran kita memang berbeda.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak berarti.
Kita bisa membantu dengan menyebarkan informasi yang benar.
Kita bisa tidak menyebarkan hoaks.
Kita bisa melaporkan jika menemukan kejadian yang membutuhkan perhatian.
Kita bisa membantu melalui lembaga yang terpercaya.
Kita bisa menjaga lingkungan dari rumah.
Dan yang tidak kalah penting, kita bisa terus peduli bahkan ketika berita tentang karhutla sudah mulai menghilang dari media sosial.


Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mungkin kita tidak bisa datang ke lokasi karhutla.
Mungkin kita tidak bisa memadamkan api dengan tangan sendiri.
Mungkin kita juga tidak bisa menyelamatkan semua satwa yang kehilangan habitatnya.
Tetapi kita tetap bisa melakukan sesuatu.
Tidak harus selalu besar.
Tidak harus selalu terlihat.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjadi relawan di garis depan.
Tidak ikut merusak, mencegah kebakaran, menyebarkan informasi yang benar, menghormati satwa liar, dan membantu sesuai kemampuan juga merupakan bentuk kepedulian.
Sebab ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar hutan.

Kita semua berada di bumi yang sama.
Dan pada akhirnya, bumi adalah rumah kita bersama.
Rumah yang tentu akan lebih nyaman jika kita semua mau ikut menjaganya.


0 comments

Terima kasih sudah berkunjung :)
Jangan lupa tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Semua komentar yang masuk dimoderasi, komentar spam dan link hidup tidak akan ditampilkan.
Terima kasih.