Minggu, 28 Juli 2013

Pak Tino Sidin



Tino Sidin (lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925 – meninggal di Jakarta, 29 Desember 1995 pada umur 70 tahun) adalah seorang pelukis dan guru gambar yang terkenal dengan acaranya di stasiun TVRI era 80-an, yaitu Gemar Menggambar. Dalam acara ini "pak Tino" mengajar anak-anak bahwa menggambar itu mudah, dan merupakan perpaduan dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung. Pada akhir setiap acara beliau menunjukkan gambar-gambar yang dikirim oleh pemirsanya dan kemudian menambahkan komentar yang sangat dikenal, "Bagus!"

Mengingat almarhum pelukis Tino Sidin sudah tentu banyak yang tertarik untuk mengetahui karyanya. Karena selama ini almarhum lebih dikenal sebagai penyayang anak-anak, sehingga ketika mengasuh Program Gemar Menggambar di TVRI pada masanya tidak pernah ada lukisan anak-anak yang dinilai jelek, semuanya bagus.

Di balik kemurahan hatinya, ternyata pelukis pemurah ini juga masih meninggalkan karyanya, paling tidak seperti yang dipamerkan dalam sebuah pameran seni rupa di Kota Malang. Sejumlah 14 karya Tino Sidin memberi semangat baru dalam dunia seni rupa di Malang yang belakangan ini berkembang lebih baik dengan ditandai banyak berdirinya galeri-galeri seni rupa.
Pameran itu diselenggarakan Yayasan Bani Malik Fadjar (BMF) di Sanggar Seni Rupa BMF Malang, 19 hingga 24 Agustus nanti. Dosen Fakultas Sastra Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) Mistaram sebagai kurator lukisan dalam pameran tersebut, mengatakan, Tino Sidin memiliki kekuatan dalam menggoreskan lukisan sketsa.

SOSOK Tino Sidin dengan ketegasan goresan lukisan sketsa itu, sebenarnya lebih diagungkan karena komitmennya terhadap upaya menumbuhkan kegemaran melukis pada anak-anak. Ia telah dikenal publik melalui Program Gemar Menggambar di Stasiun TVRI Yogyakarta pada mulanya (1976-1978), dan dilanjutkan di TVRI Jakarta untuk program serupa hingga beberapa tahun.
Entah sampai berapa ribu kali Tino Sidin selalu berkata "Bagus", setiap kali memuji sebuah lukisan anak-anak yang dikirimkan kepadanya dalam membawakan Program Gemar menggambar di TVRI. Seolah baginya di dunia ini tak ada lukisan anak-anak yang buruk. Dunia pujian untuk sebuah keindahan polos dari karya anak-anak telah ia kumandangkan.
Itulah yang sulit didapat sekarang. Belum terlihat ada orang yang ambil peduli dengan anak-anak seperti Tino Sidin ini melalui media dunia lukis.

Tino Sidin yang tumbuh dalam wahana seni rupa di Yogyakarta, lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925. Ia tutup usia tepat pada usia sekitar 70 tahun, yaitu 29 Desember 1995 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Namun, ia memilih untuk dimakamkan di Pemakaman Kwaron, Desa Ngestiharjo, Bantul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Sebab, pemakaman itu terletak tak jauh dari keluarganya yang menetap di Kampung Kadipiro yang berada di Yogyakarta bagian barat.
Kecintaan dan kelembutan dalam dunia pujian dengan anak-anak yang diwujudkan dalam wahana mengumandangkan kegemaran melukis itu, ternyata didasari oleh latar belakang yang bertolak belakang. Latar belakang pada masa-masa revolusi kemerdekaan telah membuat Tino Sidin ikut berjuang dalam situasi kekerasan yang jauh berbeda dengan masa-masa kedekatannya dengan anak-anak melalui seni lukis.
Tino Sidin pernah ikut bertempur dalam perang revolusi kemerdekaan dengan menjadi anggota Polisi Tentara Divisi Gajah Dua Tebingtinggi (1945). Dan, sebelumnya (1944-1945) ia memegang jabatan Kepala Bagian Poster Kantor Penerangan Jepang di Tebingtinggi.

Selanjutnya, masa-masa pergerakan revolusi setelah kemerdekaan, Tino Sidin tidak hanya bertahan di tanah kelahirannya saja. Pada tahun 1946 hingga 1949 ia bergabung menjadi anggota Tentara Pelajar Brigade 17 Yogyakarta mempertahankan kemerdekaan RI. Hingga pada akhirnya, ia hidup dalam romantika yang berjauhan dengan dunia kekerasan, yaitu dunia seni lukis.
Apalagi ia bersentuhan erat dengan dunia anak-anak yang ia dorong agar gemar melukis. Kini, sangat dibutuhkan Tino Sidin-Tino Sidin dari generasi yang ada untuk mengikuti jejaknya, agar dunia pujian anak-anak melalui dunia seni lukis mampu membentuk karakter yang bermoral untuk memberi nuansa keindahan di segala bidang.


*sumber: wikipedia


(pindahan dari blogku Inspirasi)



4 komentar:

  1. saya pernah sekali kirim gambar pake pensil dikirim ke acara pak Tino Sidin. ditayangkaaan. walahhh, rasane banggaaaa banget dibilang "bagus".

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah gambarnya pernah dimuat di acr pak tino sidin yaa..aku jg pengen bgt wkt itu..tp gk ngerti gmn caranya :))

      Hapus
  2. wah, jadi ingat jaman SD yg cumannya nonton TVRI yang hitam putih. Yg paling teringat dari Pak Tino Sidin ada topi dan kacamatanya yg khas :)

    BalasHapus
  3. Dulu saya salah satu penggemar Pak Tino Sidin, Mbak. Senang banget mendengar komentar-komentarnya terhadap gambar-gambar yg dia terima dari seluruh Indonesia.Aura pendidikan dari suaranya kental banget :)

    BalasHapus

* maaf untuk komentar berbau SARA & Pornoaksi akan dihapus..
Terimakasih sudah memberikan komentar yang baik :)