Catatan Mamito
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Canva


“In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.”

Belakangan ini aku semakin sering berpikir bahwa menjalani hidup ternyata juga perlu belajar menyesuaikan diri.
Harga berbagai kebutuhan semakin terasa mahal. Ada banyak hal yang dulu bisa dilakukan tanpa terlalu banyak berpikir, sekarang mungkin harus dipertimbangkan kembali.

Mau makan di luar, melihat kondisi dompet dulu.
Mau membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan, bertanya pada diri sendiri: memang butuh atau hanya sedang ingin?
Mau jalan-jalan, tentu perlu melihat anggaran.
Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Hanya saja, mungkin cara kita menikmatinya perlu sedikit berubah.
Dan menurutku, itu bukan sesuatu yang harus disesali.

Justru dari sana aku belajar bahwa bahagia ternyata tidak selalu membutuhkan banyak uang.


In This Economy, Kita Tetap Boleh Bahagia

Istilah in this economy belakangan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada banyak keputusan kecil yang akhirnya membuat kita berpikir lebih panjang sebelum mengeluarkan uang.
Tetapi aku tidak ingin in this economy hanya dimaknai sebagai alasan untuk mengeluh tentang harga-harga yang semakin mahal.

Aku ingin melihatnya dari sisi yang berbeda.
Kalau memang sekarang kita harus lebih berhati-hati dengan uang, mungkin ini juga saatnya belajar membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang sebenarnya hanya kita inginkan.

Bukan berarti harus menjadi pelit.
Bukan pula berarti tidak boleh sesekali memberikan sesuatu untuk diri sendiri.
Kita tetap boleh membeli buku yang sudah lama diincar. Tetap boleh makan makanan favorit. Tetap boleh pergi jalan-jalan ketika memang ada rezekinya.
Hanya saja, semuanya dilakukan sesuai kemampuan.
Karena menurutku, menikmati hidup tidak harus selalu identik dengan mengeluarkan banyak uang.


Ternyata Banyak Kebahagiaan yang Tidak Ada di Keranjang Belanja

Aku pernah berpikir bahwa membahagiakan diri sendiri berarti sesekali membeli sesuatu.
Dan memang, tidak ada salahnya.
Ada rasa senang ketika akhirnya bisa membeli barang yang sudah lama diinginkan. Ada kepuasan ketika bisa menikmati sesuatu dari hasil kerja keras sendiri.
Tetapi semakin ke sini, aku merasa kebahagiaan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar sesuatu yang bisa dimasukkan ke keranjang belanja.

Ada rasa bahagia ketika pagi bisa berjalan dengan tenang.
Ketika bisa menikmati secangkir teh atau kopi di rumah.
Ketika menemukan buku lama yang ternyata masih menyenangkan untuk dibaca.
Ketika bisa duduk santai sambil mendengarkan lagu yang disukai.
Ketika menonton drama favorit setelah menyelesaikan pekerjaan.
Ketika bisa ngobrol dan bercanda bersama keluarga.
Atau ketika bisa berjalan-jalan sederhana tanpa harus pergi jauh.

Hal-hal seperti itu mungkin terlihat biasa.
Tetapi justru dari hal-hal biasa itulah sering kali muncul rasa bahagia yang paling tulus.


Menikmati Apa yang Sudah Kita Punya

Kadang-kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang belum kita punya.
Melihat orang lain membeli sesuatu yang baru.
Melihat orang lain pergi liburan.
Melihat rumah orang lain yang terlihat lebih bagus.
Melihat gaya hidup orang lain di media sosial.
Tanpa sadar, kita kemudian membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan yang hanya kita lihat dari layar.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di baliknya.

Karena itu, aku belajar untuk lebih sering melihat apa yang sudah ada di depan mata.

Ada buku-buku yang belum selesai dibaca.
Ada film atau drama yang belum sempat ditonton.
Ada resep sederhana yang bisa dicoba di rumah.
Ada keluarga yang bisa diajak ngobrol.
Ada teman yang bisa dihubungi.
Ada hobi yang masih bisa dilakukan.
Ada waktu untuk menulis.
Dan ada banyak hal kecil lainnya yang sebenarnya sudah cukup untuk membuat hari terasa menyenangkan.

Mungkin kita hanya perlu lebih peka untuk menyadarinya.


Self-Love Tidak Harus Selalu Berupa Belanja

Aku juga semakin percaya bahwa self-love tidak harus selalu berarti membeli sesuatu untuk diri sendiri.

Merawat diri bisa sesederhana memberikan tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Berjalan kaki untuk menikmati udara pagi.
Membaca beberapa halaman buku.
Menulis ketika hati sedang ingin bercerita.
Mengurangi waktu melihat media sosial ketika mulai merasa terlalu banyak membandingkan diri.
Berkumpul dengan orang-orang yang membuat kita nyaman.
Atau sekadar memberikan diri sendiri waktu untuk menikmati secangkir minuman hangat tanpa terburu-buru.

Tentu saja, membeli sesuatu yang kita sukai juga boleh menjadi salah satu bentuk apresiasi kepada diri sendiri.
Tetapi jangan sampai kita merasa harus mengeluarkan uang agar bisa merasa bahagia.
Karena kalau setiap rasa lelah selalu kita jawab dengan belanja, mungkin yang perlu kita cari bukan barang baru, tetapi cara lain untuk beristirahat dan menghargai diri sendiri.


Tidak Apa-Apa Menjalani Hidup Sesuai Kemampuan

Ada masa ketika kita bisa membeli sesuatu tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Ada pula masa ketika kita harus lebih berhati-hati.

Menurutku, keduanya sama-sama bagian dari kehidupan.

Tidak perlu merasa rendah diri ketika saat ini kita belum bisa mengikuti gaya hidup orang lain.
Tidak perlu memaksakan liburan kalau memang belum ada anggarannya.
Tidak perlu membeli barang baru kalau yang lama masih bisa digunakan.
Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena kita memilih hidup lebih sederhana.

Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Yang penting adalah bagaimana kita bisa menjalani kehidupan dengan kemampuan yang kita punya, sambil tetap berusaha memperbaiki keadaan sedikit demi sedikit.


Bahagia dalam Versi yang Lebih Sederhana

Mungkin hidup yang semakin mahal justru mengajarkan kita sesuatu yang selama ini sering terlupakan.
Bahwa bahagia tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.

Kadang bahagia ada di pagi yang tenang.
Di makanan sederhana yang disantap bersama keluarga.
Di buku yang menemani waktu luang.
Di lagu favorit yang tiba-tiba terdengar dari playlist.
Di drama yang membuat kita tersenyum sendiri.
Di percakapan kecil yang membuat hati terasa hangat.
Atau di rasa lega ketika kita berhasil melewati satu hari dengan baik.

Semua itu mungkin tidak mahal.

Tetapi nilainya tidak bisa diukur hanya dengan uang.


In This Economy, Tetap Nikmati Hidup

Aku tidak ingin hidup hanya diisi dengan kekhawatiran tentang uang.
Tetapi aku juga tidak ingin menikmati hidup dengan cara yang membuat kondisi keuangan berantakan.
Mungkin yang perlu kita cari adalah keseimbangan.
Tetap bijak mengelola uang, tetapi tidak lupa menikmati kehidupan.
Tetap punya keinginan, tetapi tahu kapan harus menunggu.
Tetap boleh membeli sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak merasa harus memiliki semuanya.
Tetap punya mimpi untuk hidup lebih baik, tetapi tidak lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki hari ini.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang bisa kita beli.

Ada banyak hal yang jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang: waktu bersama keluarga, kesehatan, hubungan yang baik, kesempatan untuk melakukan hal yang kita sukai, dan ketenangan hati.

Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang berada di fase harus lebih berhati-hati dengan pengeluaran, tidak apa-apa.
Kita tetap boleh bahagia.
Tetap boleh menikmati hidup.
Tetap boleh punya mimpi.

Hanya saja, mungkin sekarang kita belajar menikmatinya dengan cara yang lebih sederhana.

"In this economy, kita tetap boleh menikmati hidup. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Cukup sesuai kemampuan dan membuat hati merasa cukup.” 

Karena mungkin, merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Merasa cukup adalah belajar menghargai kebahagiaan yang sudah ada, sambil tetap berjalan menuju kehidupan yang kita inginkan.




Dulu, kalau pergi ke mana-mana, rasanya cukup membawa dompet, uang tunai, dan mungkin selembar catatan kecil berisi nomor telepon penting.
Kalau sekarang?
Rasanya hampir semua ada di dalam ponsel.
Mau membayar makanan, tinggal scan QRIS. Mau transfer uang, buka mobile banking. Mau membeli sesuatu, masuk ke marketplace. Mau memesan tiket perjalanan, buka aplikasi. Bahkan untuk berobat ke rumah sakit atau klinik tertentu, kita kadang perlu mengambil nomor antrean melalui aplikasi terlebih dahulu.
Belum lagi urusan sekolah anak, administrasi, pekerjaan, media sosial, sampai mencari informasi sehari-hari.

Hidup memang semakin dekat dengan dunia digital.
Dan di tengah perubahan itu, aku merasa perempuan juga perlu melek digital.
Bukan supaya kita terlihat modern. Bukan pula karena perempuan harus menguasai semua teknologi.
Tapi karena kemampuan menggunakan teknologi perlahan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Melek digital bukan berarti harus jago teknologi

Ketika mendengar istilah melek digital, mungkin ada yang langsung membayangkan sesuatu yang rumit.
Harus mengerti komputer. Harus bisa membuat website. Harus paham berbagai aplikasi. Harus mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Padahal menurutku tidak selalu begitu, lho.

Melek digital bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
Tahu cara menggunakan mobile banking. Bisa melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Bisa mencari informasi di internet dan membedakan informasi yang masuk akal dengan berita yang belum tentu benar.
Tahu bagaimana membuat password yang aman. Tidak sembarangan memberikan kode OTP. Paham bahwa tidak semua pesan atau tautan yang masuk ke WhatsApp aman untuk diklik.
Bahkan berani mencoba aplikasi baru ketika memang membutuhkannya pun sudah menjadi bagian dari proses belajar.

Jadi, menurutku perempuan tidak perlu merasa minder hanya karena belum menguasai teknologi.
Kita boleh belajar pelan-pelan.
Yang penting jangan langsung menyerah hanya karena melihat sesuatu yang kelihatannya rumit.


Dulu bertanya kepada orang lain, sekarang kita bisa belajar sendiri

Aku sendiri merasakan bahwa perkembangan teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah.
Tetapi di sisi lain, teknologi juga membuat kita harus terus belajar.
Ada saja aplikasi baru. Ada fitur baru. Ada cara pembayaran baru. Ada perubahan sistem yang membuat kita sempat berpikir, “Ini sekarang caranya bagaimana?”
Kadang memang bikin bingung.

Tetapi kalau setiap kali menemukan sesuatu yang baru kita langsung berkata, “Ah, aku gaptek,” lalu menyerahkan semuanya kepada orang lain, lama-lama kita akan semakin bergantung.

Padahal sebenarnya kita bisa belajar.
Bisa bertanya kepada anak.
Bisa bertanya kepada teman.
Bisa mencari tutorial di internet.
Bisa mencoba sendiri sambil membaca petunjuknya.
Tidak apa-apa kalau percobaan pertama belum berhasil.
Namanya juga belajar.

Menurutku, justru di sinilah pentingnya literasi digital bagi perempuan.
Bukan untuk membuat kita menjadi ahli teknologi, tetapi supaya kita cukup percaya diri untuk menggunakan teknologi yang memang kita perlukan.


Perempuan perlu mandiri dalam urusan digital

Bayangkan ketika sedang sendirian dan harus melakukan transfer uang.
Atau ketika harus membayar sesuatu menggunakan QRIS.
Atau ketika ingin mendaftar pemeriksaan ke dokter tetapi ternyata pendaftarannya dilakukan melalui aplikasi.

Kalau kita bisa melakukannya sendiri, tentu akan terasa lebih mudah.
Bukan berarti meminta bantuan orang lain itu salah.
Tentu saja tidak.
Ada kalanya kita memang membutuhkan bantuan.
Tetapi memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan teknologi membuat kita tidak selalu harus menunggu orang lain untuk membantu.

Menurutku, ini juga bagian dari kemandirian perempuan.
Mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya seorang diri.
Mandiri adalah ketika kita memiliki cukup pengetahuan dan keberanian untuk mengurus hal-hal yang memang bisa kita lakukan sendiri.
Termasuk urusan digital.


Jangan hanya belajar menggunakan teknologi, belajar juga melindungi diri

Ada satu hal yang menurutku tidak kalah penting.
Melek digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi.
Kita juga perlu tahu bagaimana melindungi diri ketika berada di dunia digital.

Penipuan online semakin beragam. Ada pesan yang mengatasnamakan bank, kurir, marketplace, bahkan orang yang kita kenal.
Ada tautan yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata berbahaya.
Ada orang yang meminta kode OTP dengan berbagai alasan.
Karena itu, kemampuan digital sebaiknya berjalan beriringan dengan kewaspadaan.
Jangan sembarangan memberikan password.
Jangan membagikan kode OTP.
Jangan mudah percaya pada pesan yang membuat kita panik dan meminta segera melakukan sesuatu.
Dan jangan malu untuk berhenti sejenak ketika merasa ada sesuatu yang mencurigakan.

Kadang, kemampuan mengatakan “tunggu dulu, aku cek” juga merupakan bagian dari melek digital.


Perempuan tidak harus mengikuti semua tren teknologi

Di sisi lain, aku juga merasa kita tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua perkembangan teknologi.

Setiap hari ada saja sesuatu yang baru.
Aplikasi baru.
Tren baru.
Istilah baru.
Teknologi baru.
Kalau semuanya ingin diikuti, mungkin kita justru akan lelah.

Menurutku, yang lebih penting adalah memahami teknologi yang memang bersentuhan dengan kehidupan kita.
Kalau kita menggunakan mobile banking, pelajari cara menggunakannya dengan aman.

Kalau sering berbelanja online, pelajari cara bertransaksi dengan aman.
Kalau aktif di media sosial, pahami soal privasi dan keamanan akun.
Kalau menggunakan AI untuk membantu pekerjaan atau mencari ide, pahami juga bagaimana menggunakannya secara bijak.
Tidak harus tahu semuanya.
Cukup tahu apa yang kita butuhkan.


Belajar teknologi juga bisa dilakukan pelan-pelan

Aku percaya setiap perempuan punya kecepatan belajar yang berbeda.
Ada yang sejak awal sudah akrab dengan teknologi.
Ada yang tumbuh ketika internet belum seperti sekarang.
Ada pula yang baru mulai mengenal berbagai aplikasi setelah kebutuhan sehari-hari membuatnya harus belajar.
Tidak ada yang perlu dibandingkan.
Kita hanya perlu mulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Misalnya, hari ini belajar menggunakan QRIS.
Besok belajar mobile banking.
Lain waktu belajar mengatur keamanan akun media sosial.
Pelan-pelan saja.
Karena belajar teknologi bukan perlombaan.
Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling cepat menguasai semuanya.
Yang penting kita tidak berhenti belajar.


Perempuan boleh gaptek, tetapi jangan takut belajar

Pada akhirnya, aku tidak ingin mengatakan bahwa perempuan tidak boleh gaptek.
Menurutku, tidak tahu sesuatu itu bukan sebuah kesalahan.
Kita semua pernah menjadi pemula.
Aku pun masih sering menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak aku pahami.

Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya.
Daripada berkata,
“Aku memang gaptek.”
mungkin kita bisa menggantinya dengan,
“Aku belum bisa, tapi aku bisa belajar.”
Kalimatnya sederhana, tetapi rasanya berbeda.
Ada keberanian di sana.
Ada kemauan untuk mencoba.
Dan ada kesadaran bahwa dunia akan terus berubah, sementara kita pun punya kesempatan untuk terus bertumbuh.

Karena menjadi perempuan yang melek digital bukan berarti harus menjadi perempuan yang paling pintar teknologi.
Cukup menjadi perempuan yang mau belajar, berani mencoba, dan tahu bagaimana menjaga diri di dunia digital.
Sebab hari ini teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan kita.
Ia ada di tangan kita.
Di dalam dompet digital kita.
Di rekening kita.
Di pekerjaan kita.
Di sekolah anak-anak kita.
Di layanan kesehatan yang kita gunakan.

Bahkan mungkin di banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan tanpa kita sadari.
Jadi, kalau ada teknologi baru yang hari ini masih terasa membingungkan, tidak apa-apa.
Kita tidak harus langsung bisa.
Pelan-pelan saja. Belajar sedikit demi sedikit.
Karena menjadi perempuan yang terus belajar, termasuk belajar melek digital, adalah salah satu cara untuk tetap bertumbuh bersama zaman tanpa kehilangan diri sendiri.



Ada satu hal yang semakin aku pahami seiring bertambahnya usia: perempuan harus pintar.

Bukan pintar untuk mengalahkan laki-laki.
Bukan juga untuk terlihat lebih hebat dari perempuan lain.
Apalagi untuk membuktikan bahwa perempuan harus memiliki pendidikan tinggi agar dianggap berharga.

Menurutku, bukan itu maksudnya.

Perempuan perlu pintar karena hidup terus berubah. Dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan kita jalani beberapa tahun ke depan.
Karena itu, menurutku perempuan perlu terus belajar.

Belajar tak harus menunggu gelar.


Pintar Tidak Selalu Berarti Punya Pendidikan Tinggi

Aku percaya pendidikan formal itu penting. Kesempatan untuk sekolah dan kuliah setinggi mungkin tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Tetapi tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama.

Ada yang hanya bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA. Ada yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi. Ada yang harus berhenti sekolah karena keadaan keluarga.
Apakah setelah itu mereka tidak bisa menjadi perempuan pintar?
Tentu saja tidak.

Menurutku, pintar bukan hanya tentang berapa banyak gelar yang kita punya.
Pintar juga berarti mau belajar, mau mencari tahu, mampu berpikir sebelum mengambil keputusan, dan tidak mudah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar.

Perempuan yang tidak kuliah pun bisa menjadi perempuan yang banyak belajar.
Bisa belajar dari buku.
Dari pengalaman.
Dari orang lain.
Dari internet.
Dari kesalahan.
Bahkan dari kehidupan sehari-hari.

------------------------------
Baca juga: Perempuan Tidak Pernah Terlambat untuk Belajar
------------------------------


Mengapa Perempuan Harus Terus Belajar?

Karena hidup tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau kuliah.
Justru setelah itu, kita akan bertemu dengan begitu banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Bagaimana mengatur keuangan.
Bagaimana memahami dunia digital.
Bagaimana menghadapi perubahan.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana mendampingi anak.
Bagaimana menjaga diri.
Bagaimana mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit.
Dan masih banyak lagi.

Dunia juga terus berubah.
Apa yang kita pelajari sepuluh atau dua puluh tahun lalu belum tentu cukup untuk menghadapi kehidupan hari ini.

Karena itu, perempuan harus terus belajar bukan karena kita tidak cukup pintar, tetapi karena kehidupan selalu memberi kita hal baru untuk dipelajari.


Perempuan Pintar, Anak-anak pun Mendapat Manfaatnya

Ada alasan lain mengapa menurutku perempuan perlu terus belajar, terutama bagi perempuan yang sudah menjadi ibu.

Karena pengetahuan yang kita miliki tidak berhenti pada diri kita sendiri.

Anak-anak juga bisa merasakan manfaatnya.
Seorang ibu tidak harus memiliki gelar panjang untuk menjadi ibu yang berwawasan. Tetapi ketika seorang ibu memiliki kebiasaan membaca, bertanya, mencari tahu, dan mau belajar, kebiasaan itu bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Anak melihat ibunya membaca buku.
Anak melihat ibunya belajar menggunakan teknologi.
Anak melihat ibunya mencari informasi sebelum mempercayainya.
Anak melihat ibunya berani mencoba sesuatu yang baru meskipun awalnya tidak bisa.

Tanpa banyak kata, sebenarnya ibu sedang menunjukkan kepada anak bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan.

Menurutku, inilah salah satu alasan penting mengapa perempuan perlu pintar.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga karena ia bisa menjadi salah satu lingkungan belajar pertama bagi anak-anaknya.


"Karena Ia Akan Menjadi Ibu"

Aku teringat sebuah quote dari Dian Sastrowardoyo:

“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula.”

Aku memahami quote ini sebagai sebuah pengingat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Namun, bagiku, pendidikan tidak harus berhenti pada pendidikan formal.
Tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan untuk kuliah tinggi. Tetapi setiap perempuan tetap bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan.

Dan satu hal yang menurutku perlu digarisbawahi: kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan ibunya.
Anak tumbuh dari banyak hal. Ada pola asuh, lingkungan, pendidikan, pengalaman, kesempatan, karakter, dan banyak faktor lainnya.

Jadi aku tidak ingin menjadikan kalimat tersebut sebagai beban bagi perempuan.
Seorang ibu tidak harus menjadi "sempurna" atau selalu tahu segala sesuatu agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

Yang penting adalah kemauannya untuk terus belajar.
Karena ibu yang mau belajar akan lebih terbuka untuk belajar bersama anaknya.


Ibu yang Mau Belajar Bisa Menjadi Contoh bagi Anak

Aku percaya anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang kita katakan.

Kita bisa berkali-kali mengatakan kepada anak, “Kamu harus rajin membaca.”
Tetapi ketika anak melihat ibunya sendiri tidak pernah menyentuh buku, pesan itu mungkin terasa berbeda.
Sebaliknya, ketika anak melihat ibunya menikmati membaca, belajar sesuatu, mencoba hal baru, atau berdiskusi tentang berbagai hal, anak mendapatkan contoh nyata.

Bukan berarti anak pasti menjadi pintar hanya karena ibunya pintar.
Tetapi ibu yang terus belajar sedang menciptakan suasana yang menghargai proses belajar di dalam keluarga.
Dan menurutku, itu sangat berharga.

------------------------------
Baca juga: Woman Support Woman: Mengapa Sesama Perempuan Perlu Saling Mendukung?
------------------------------


Pintar Juga Berarti Tidak Mudah Dibohongi

Di zaman sekarang, informasi datang begitu cepat.
Setiap hari kita melihat berita, video, iklan, tips kesehatan, investasi, promosi produk, bahkan berbagai macam nasihat kehidupan di media sosial.

Tidak semuanya benar.

Karena itu perempuan perlu memiliki kebiasaan untuk mencari tahu dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Hal ini juga penting ketika kita sudah menjadi ibu.
Sebab informasi yang kita percaya kadang bukan hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada keluarga dan anak-anak.


Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal.

Kita hanya perlu mau belajar.
Kalau tidak tahu, cari tahu.
Kalau ragu, bertanya.
Kalau menemukan informasi yang berbeda, bandingkan.

Menurutku, perempuan yang mau mengatakan “aku belum tahu, tapi aku mau belajar” justru menunjukkan bahwa dirinya sedang bertumbuh.


Menjadi Ibu Bukan Berarti Berhenti Belajar

Aku juga melihat bahwa banyak perempuan yang setelah menikah dan memiliki anak merasa kehidupan belajarnya selesai.

Padahal justru ketika menjadi ibu, banyak sekali hal baru yang harus dipelajari.

Tentang anak.
Tentang keluarga.
Tentang keuangan.
Tentang teknologi.
Tentang pendidikan.
Tentang dunia yang terus berubah.

Anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman ketika kita tumbuh.
Karena itu, kita pun perlu terus memperbarui pengetahuan.
Bukan supaya bisa menjadi ibu yang sempurna.
Aku sendiri tidak percaya ada ibu yang benar-benar sempurna.

Tetapi setidaknya kita bisa menjadi ibu yang mau belajar dan bersedia berkembang bersama anak-anak kita.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita berpikir belajar harus selalu dilakukan melalui kursus, pelatihan, atau pendidikan formal.
Padahal tidak selalu begitu.

Membaca beberapa halaman buku sebelum tidur juga belajar.
Membaca artikel yang bermanfaat juga belajar.
Mendengarkan podcast yang menambah wawasan juga belajar.
Mengikuti kursus gratis di internet juga belajar.
Belajar menggunakan teknologi baru juga belajar.
Bahkan mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak kita mengerti adalah bentuk belajar.

Jadi kalau hari ini kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru, mungkin sebenarnya kita hanya perlu mengubah cara pandang.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar.


Tidak Perlu Menjadi Pintar dalam Segala Hal

Ada satu hal lagi yang menurutku penting.
Kita tidak harus mengetahui semuanya.
Tidak perlu merasa minder ketika ada orang yang lebih pintar dalam bidang tertentu.
Setiap orang punya bidangnya masing-masing.
Ada perempuan yang pintar mengelola bisnis.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang hebat menulis.
Ada yang memahami teknologi.
Ada yang memiliki kemampuan mengurus keluarga dengan luar biasa.
Ada yang punya kepedulian besar terhadap lingkungan.
Ada yang mungkin tidak punya pendidikan tinggi, tetapi memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya.

Jadi menurutku, menjadi perempuan pintar bukan perlombaan.
Kita tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.
Cukup menjadi perempuan yang hari ini mau belajar sedikit lebih banyak daripada kemarin.


Perempuan Tidak Harus Punya Gelar Tinggi untuk Menjadi Berharga

Aku ingin mengatakan ini terutama kepada perempuan yang mungkin pernah merasa minder karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan tinggi memang sesuatu yang baik, tetapi gelar bukan satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan.

Jangan merasa hidupmu berhenti hanya karena kamu tidak memiliki gelar sarjana.
Kalau masih ada keinginan untuk belajar, lanjutkan.
Baca buku.
Belajar dari internet.
Ikuti kelas yang kamu mampu.
Pelajari keterampilan baru.
Bertanya kepada orang yang lebih tahu.
Dan jangan takut memulai dari nol.
Karena belajar bukan hanya tentang mendapatkan selembar ijazah.

Belajar adalah tentang membuat diri kita terus bertumbuh.

------------------------------
Baca juga: Pentingnya Ibu Rumah Tangga Mencintai Diri Sendiri di Tengah Padatnya Rutinitas
------------------------------

Karena Perempuan Punya Hak untuk Terus Bertumbuh

Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa belajar adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.
Ketika kita belajar, kita sedang memberikan kesempatan kepada diri kita untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Kita menjadi lebih percaya diri.
Lebih berani mengambil keputusan.
Lebih terbuka terhadap perubahan.
Dan mungkin yang paling penting, kita tidak merasa bahwa hidup kita harus berhenti hanya karena usia bertambah.

Perempuan boleh belajar di usia berapa pun.
Tidak peduli sudah menikah atau belum.
Sudah menjadi ibu atau belum.
Sudah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
Punya gelar tinggi atau tidak.
Kesempatan untuk belajar selalu terbuka.


Jadi, Mengapa Perempuan Harus Pintar?

Buatku, jawabannya sederhana.
Bukan untuk menandingi siapa-siapa.

Perempuan perlu pintar agar mampu memahami kehidupannya sendiri.
Agar tidak mudah dibohongi.
Agar berani mengambil keputusan.
Agar bisa mengikuti perubahan zaman.
Agar bisa mendampingi orang-orang yang disayanginya.

Dan bagi seorang ibu, agar ia bisa menjadi contoh bahwa belajar tidak pernah mengenal kata selesai.
Karena anak-anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat yang kita berikan.
Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan.
Mereka bisa melihat bagaimana ibu mereka membaca, belajar, mencari tahu, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Dan mungkin tanpa kita sadari, dari situlah mereka belajar satu hal penting:
bahwa menjadi pintar bukan tentang mengetahui semuanya, tetapi tentang tidak pernah berhenti ingin tahu.

Jadi, kalau hari ini merasa pendidikan formal belum tinggi, jangan merasa semuanya sudah terlambat.
Kita masih bisa belajar.

Kalau dulu tidak punya kesempatan membaca banyak buku, sekarang mungkin bisa mulai dari satu buku.
Kalau dulu tidak sempat belajar teknologi, sekarang bisa mencoba sedikit demi sedikit.
Kalau dulu tidak punya kesempatan kuliah, bukan berarti perjalanan belajar kita harus berhenti.

Sebab pada akhirnya, menjadi perempuan pintar bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kita punya, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar.

Dan menurutku, perempuan yang mau terus belajar bukan hanya sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Ia juga sedang memberikan contoh kepada generasi setelahnya bahwa perempuan boleh terus bertumbuh, di usia berapa pun.

Tidak harus sempurna. Tidak harus tahu semuanya. Cukup terus belajar.

Karena belajar memang tak harus menunggu gelar.




“Kok sekarang belanja segini cuma dapat sedikit, ya?”

Kalau kamu seorang ibu rumah tangga, mungkin kalimat ini sudah tidak asing lagi.
Harga beras, telur, sayur, minyak, kebutuhan mandi, sampai berbagai kebutuhan kecil lainnya terasa semakin mahal. Belum lagi kalau tiba-tiba ada kebutuhan keluarga yang datang di luar rencana.
Kita pun mulai berhitung lebih sering.
Mana yang harus dibeli, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

In this economy, menjadi ibu rumah tangga memang membutuhkan banyak akal.
Tapi ada satu hal yang menurutku juga penting untuk dibicarakan: bagaimana kita tetap waras dan bahagia ketika keadaan ekonomi sedang tidak mudah?
Karena mengurus rumah tangga bukan hanya soal bagaimana uang cukup sampai akhir bulan.
Kita juga perlu memastikan bahwa orang yang mengurus semuanya, yaitu ibu, tetap baik-baik saja.


Tidak Perlu Merasa Bersalah Ketika Uang Belanja Cepat Habis

Kadang kita sudah merasa mengatur uang sebaik mungkin.
Sudah membuat daftar belanja. Sudah memilih barang yang lebih murah. Sudah berusaha tidak membeli sesuatu yang tidak perlu.
Tetapi ketika sampai di kasir, total belanja tetap membuat kita menarik napas panjang.

Kalau mengalaminya, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.
Bukan berarti kita tidak pandai mengatur keuangan rumah tangga.
Memang ada banyak kebutuhan yang harganya berubah. Yang bisa kita lakukan adalah menyesuaikan diri semampunya.
Kita tidak harus menjadi ibu rumah tangga yang selalu sempurna dalam mengatur semuanya.

Cukup menjadi ibu yang terus berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuan.


Hidup Hemat Bukan Berarti Tidak Boleh Bahagia

Ketika harga kebutuhan makin mahal, berhemat memang menjadi pilihan yang masuk akal.

Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana.
Membuat daftar belanja, memasak dari bahan yang tersedia di rumah, membawa bekal, mengurangi makanan yang terbuang, atau berpikir ulang sebelum membeli sesuatu.

Tetapi hemat bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup.
Sesekali membeli buku, menikmati kopi atau teh kesukaan di rumah, membeli skincare yang memang dibutuhkan, atau membeli makanan yang kita sukai juga tidak salah.

Selama sesuai kemampuan.

Karena hidup hemat seharusnya membuat kita lebih tenang, bukan membuat kita merasa tidak boleh bahagia.


Jangan Lupa Menjaga Kesehatan

Ada satu kebiasaan yang sering dilakukan ibu rumah tangga: mendahulukan semua orang dan menempatkan diri sendiri paling belakang.

Anak sudah makan, suami sudah makan, pekerjaan rumah selesai, baru kemudian kita ingat bahwa sejak tadi belum makan dengan benar.
Atau tubuh sudah lelah, tetapi kita masih memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan.
Padahal kita juga punya batas.

Menjaga kesehatan tidak harus selalu mahal.

Makan cukup, minum air putih, tidur dan beristirahat ketika ada kesempatan, serta meluangkan sedikit waktu untuk bergerak adalah bentuk perhatian sederhana kepada diri sendiri.

Ibu yang sehat juga merupakan bagian penting dari keluarga yang sehat.

Jadi, merawat diri bukan tindakan egois.


Tidak Perlu Membandingkan Kehidupan Kita dengan Orang Lain

Media sosial kadang membuat hidup orang lain terlihat begitu sempurna.

Ada yang makan di restoran, liburan, membeli barang baru, merenovasi rumah, atau sekadar menunjukkan belanja mingguannya.
Tanpa sadar kita mulai membandingkan.

Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap di balik kehidupan orang lain.
Setiap keluarga memiliki kondisi, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.

Jadi, tidak apa-apa kalau saat ini prioritas kita adalah memastikan kebutuhan rumah terpenuhi.

Tidak apa-apa kalau belum bisa liburan.
Tidak apa-apa kalau belum bisa membeli barang yang sedang diinginkan.

Hidup sederhana bukan berarti hidup kita lebih rendah dari orang lain.


Ibu Rumah Tangga Juga Butuh Waktu untuk Diri Sendiri

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti seluruh waktu kita harus diberikan kepada keluarga.

Kita tetap seorang perempuan.

Kita punya kesukaan, impian, rasa ingin tahu, dan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia.
Mungkin kita suka membaca.
Mungkin senang menulis, berkebun, memasak, membuat kerajinan, menonton drama, berjalan pagi, atau sekadar duduk menikmati teh dalam suasana tenang.

Tidak harus mahal.
Tidak harus pergi jauh.

Yang penting ada waktu ketika kita bisa berhenti sebentar dan berkata,

“Sekarang aku mau menikmati waktuku.”

Karena istirahat bukan berarti malas.
Dan menikmati sesuatu bukan berarti boros.


Tetap Belajar dan Bertumbuh

Menjadi ibu rumah tangga juga bukan berarti kita berhenti belajar.
Kalau ada waktu dan kesempatan, kita bisa mempelajari hal-hal baru.
Tidak harus mengikuti kursus mahal.
Membaca buku, menonton video pembelajaran, mengikuti komunitas, belajar dari internet, atau mencoba keterampilan baru juga bisa menjadi cara untuk terus bertumbuh.
Belajar menulis, membuat konten, memasak, berkebun, menggunakan media sosial, atau mengembangkan hobi yang selama ini kita sukai.

Siapa tahu, sesuatu yang awalnya hanya dilakukan untuk mengisi waktu suatu hari bisa menjadi peluang baru.

Tetapi tidak perlu menjadikan ini sebagai tekanan baru.

Belajar juga boleh dilakukan pelan-pelan.

Tidak ada kata terlambat untuk bertumbuh.


Bahagia Tidak Harus Mahal

Mungkin ini bagian yang paling ingin aku ingatkan kepada diri sendiri.

Kita memang membutuhkan uang untuk menjalani kehidupan.
Tetapi tidak semua kebahagiaan harus dibeli dengan uang.

Secangkir teh hangat di sore hari.
Makan bersama keluarga.
Membaca beberapa halaman buku.
Menonton drama favorit setelah pekerjaan selesai.
Mengobrol dengan pasangan.
Mendengar cerita anak.
Atau sekadar duduk sebentar menikmati rumah yang sedang tenang.

Semuanya sederhana.

Tetapi bukankah kebahagiaan memang sering datang dari hal-hal kecil yang tidak kita rencanakan?

Jadi, jangan menunggu punya banyak uang untuk merasa bahagia.

Kita boleh bahagia hari ini, dengan apa yang kita punya.


In This Economy, Jangan Lupa Menjaga Diri

Kita mungkin tidak bisa mengendalikan harga beras.
Tidak bisa menentukan harga telur atau sayuran.
Tidak bisa membuat semua kebutuhan menjadi murah.

Tetapi kita masih bisa belajar mengatur hal-hal yang ada dalam kendali kita.
Mengatur pengeluaran semampunya.
Mengurangi pemborosan.
Menjaga kesehatan.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri.
Memberi waktu untuk beristirahat.

Dan yang paling penting, memberi izin kepada diri sendiri untuk tetap bahagia.

Menjadi ibu rumah tangga di tengah harga kebutuhan yang makin mahal bukan tentang siapa yang paling pintar berhemat.
Kadang, ini juga tentang bagaimana kita tetap bisa menjalani hari tanpa kehilangan diri sendiri.

Jadi kalau hari ini belanja terasa lebih mahal dari biasanya, tarik napas sebentar.
Tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus.
Kita sedang berusaha.
Dan itu sudah cukup baik.

In this economy, mungkin kita memang harus lebih pintar mengatur uang.
Tapi jangan lupa, kita juga perlu pintar menjaga hati 💜


sumber foto: cakrawala.co


Saat melihat berita tentang kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, hati kita mungkin ikut terasa sesak.
Melihat hutan terbakar, asap mengepul, masyarakat terdampak, dan membayangkan satwa liar yang kehilangan habitatnya tentu membuat kita ingin melakukan sesuatu.

Kemudian muncul pikiran, “Aku kan tidak berada di lokasi. Apa yang bisa aku lakukan?”

Tidak semua orang bisa datang langsung ke lokasi karhutla. Tidak semua orang bisa menjadi relawan pemadam kebakaran atau ikut dalam proses penyelamatan satwa.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan dari rumah untuk ikut menjaga lingkungan dan membantu ketika karhutla terjadi.


Karhutla Bukan Hanya Masalah Mereka yang Tinggal di Sekitar Hutan

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan wilayah yang terbakar.
Asapnya bisa menyebar ke wilayah lain. Kualitas udara dapat terganggu. Ekosistem rusak dan satwa liar kehilangan habitatnya.
Bagi satwa, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di sanalah mereka mencari makanan, menemukan air, berlindung, berkembang biak, dan membesarkan anak-anaknya.

Ketika habitat terbakar, sebagian satwa mungkin mati atau terluka. Sebagian lainnya berusaha melarikan diri dan dapat muncul di perkebunan, permukiman, bahkan jalan raya.
Karena itu, karhutla sebenarnya menjadi persoalan yang menyangkut kita semua.

Lalu, kalau kita tidak berada di lokasi, apa yang bisa dilakukan?

1. Jangan Ikut Menyebarkan Informasi yang Belum Jelas

Saat terjadi karhutla, media sosial biasanya dipenuhi foto, video, dan informasi tentang kebakaran.
Keinginan untuk segera membagikan informasi memang wajar. Apalagi kalau kita merasa sedang membantu menyebarkan kabar.

Tapi sebaiknya berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Apakah sumbernya jelas?
Apakah foto atau videonya memang berasal dari lokasi dan kejadian yang sedang berlangsung?
Apakah informasinya berasal dari pihak yang dapat dipercaya?

Jangan sampai niat kita membantu justru membuat informasi yang keliru semakin menyebar.
Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi juga merupakan bentuk kepedulian.


2. Gunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Informasi yang Bermanfaat

Media sosial tidak selalu harus menjadi tempat untuk melihat kabar buruk.
Kita juga bisa menggunakannya untuk membantu.

Bagikan informasi dari sumber resmi mengenai kondisi karhutla, kualitas udara, imbauan keselamatan, informasi penanganan satwa, atau cara melaporkan kejadian kebakaran.

Satu unggahan mungkin terlihat kecil.
Jika informasi yang benar sampai kepada orang yang membutuhkannya, tentu manfaatnya menjadi lebih besar.

Jadi, kalau kita belum bisa turun ke lapangan, kita masih bisa membantu dari layar ponsel kita.


3. Jangan Mengganggu Satwa Liar yang Keluar dari Habitatnya

Ini juga penting banget, lho.
Ketika habitatnya terbakar, satwa liar mungkin keluar untuk menyelamatkan diri.

Kalau suatu saat kita menemukan satwa liar di sekitar permukiman atau tempat lain yang bukan habitatnya, jangan langsung mengejar, menangkap, atau mengerumuninya.
Satwa tersebut kemungkinan sedang dalam kondisi stres dan ketakutan.
Apalagi jika satwa mengalami luka.

Jangan mencoba menjadi pahlawan dengan menangkap atau memberikan makanan sembarangan.

Jika kondisinya membutuhkan pertolongan, lebih baik menghubungi petugas atau pihak berwenang yang menangani satwa liar.

Kita membantu bukan dengan membuat satwa semakin panik, tetapi dengan memberikan kesempatan kepada pihak yang tepat untuk menanganinya.


4. Jangan Menjadikan Satwa yang Sedang Ketakutan sebagai Konten

Di zaman media sosial seperti sekarang, hampir semua kejadian bisa menjadi konten.
Termasuk ketika ada satwa liar yang keluar dari habitatnya.

Tapi mari belajar bertanya kepada diri sendiri:
Apakah satwa itu benar-benar membutuhkan kita untuk merekamnya?
Mungkin kita ingin mendapatkan foto yang bagus.
Mungkin videonya terlihat menarik.

Namun bagi satwa tersebut, situasinya mungkin sedang sangat menakutkan.
Jadi, sebisa mungkin jangan mengejar, menyentuh, atau mengerumuni satwa hanya demi mendapatkan foto dan video.

Kepedulian terhadap satwa juga berarti tahu kapan harus menjaga jarak.


5. Dukung Bantuan yang Kredibel

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke lokasi karhutla.
Tetapi ketika ada lembaga atau organisasi terpercaya yang membuka bantuan untuk penanganan bencana, penyelamatan satwa, atau pemulihan lingkungan, kita bisa ikut berkontribusi sesuai kemampuan.

Tidak harus dalam jumlah besar.
Bantuan kecil dari banyak orang dapat menjadi sesuatu yang berarti.
Namun tetap berhati-hati.
Pastikan penggalangan dana atau bantuan tersebut memiliki informasi yang jelas dan berasal dari pihak yang dapat dipercaya.

Jangan sampai kepedulian kita justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


6. Jangan Membakar Sampah atau Lahan Sembarangan

Kalau berbicara tentang apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah karhutla, sebenarnya kita bisa mulai dari hal yang sangat dekat.

Jangan membakar sesuatu sembarangan.
Terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan risiko kebakaran meningkat.
Api yang awalnya terlihat kecil bisa menjadi sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran kebakaran.

Karena itu, menjaga lingkungan dari rumah bukan sesuatu yang sepele.
Mencegah terjadinya kebakaran juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap hutan dan satwa liar.


7. Tetap Peduli Setelah Api Padam

Ada satu hal yang sering terjadi ketika sebuah bencana sudah tidak lagi menjadi berita utama.
Perhatian kita perlahan beralih ke hal lain.

Padahal setelah api padam, bukan berarti semuanya kembali seperti semula.
Hutan membutuhkan waktu untuk pulih.
Vegetasi perlu tumbuh kembali.
Sumber makanan dan air bagi satwa perlu tersedia.
Habitat yang rusak juga membutuhkan proses pemulihan.
Kepedulian terhadap karhutla sebaiknya tidak hanya muncul ketika kita melihat asap dan api di layar televisi atau media sosial.

Kita juga bisa terus mendukung kegiatan pelestarian lingkungan, penghijauan, pemulihan habitat, dan perlindungan satwa liar.


8. Mulai Menjaga Lingkungan dari Sekitar Kita

Mungkin kita merasa apa yang dilakukan di rumah tidak ada hubungannya dengan hutan yang letaknya jauh.

Padahal menjaga lingkungan memang sebaiknya dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.
• Mengurangi sampah.
• Tidak membakar sampah sembarangan.
• Nerawat pohon yang sudah tumbuh.
• Menanam tanaman.
• Menghemat penggunaan sumber daya.
• Mengajak anak mengenal dan mencintai alam.

Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat besar.
Tetapi bukankah perubahan memang sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali?


Kita Tidak Harus Berada di Garis Depan untuk Peduli

Ketika karhutla terjadi, ada orang-orang yang berada di garis depan.
Ada petugas yang berusaha memadamkan api.
Ada masyarakat sekitar yang terdampak sekaligus membantu.
Ada relawan yang turun ke lapangan.
Ada pihak yang menangani satwa liar.
Dan ada kita yang mungkin hanya bisa melihat dari jauh.

Peran kita memang berbeda.
Tetapi berbeda bukan berarti tidak berarti.
Kita bisa membantu dengan menyebarkan informasi yang benar.
Kita bisa tidak menyebarkan hoaks.
Kita bisa melaporkan jika menemukan kejadian yang membutuhkan perhatian.
Kita bisa membantu melalui lembaga yang terpercaya.
Kita bisa menjaga lingkungan dari rumah.
Dan yang tidak kalah penting, kita bisa terus peduli bahkan ketika berita tentang karhutla sudah mulai menghilang dari media sosial.


Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Bersama

Mungkin kita tidak bisa datang ke lokasi karhutla.
Mungkin kita tidak bisa memadamkan api dengan tangan sendiri.
Mungkin kita juga tidak bisa menyelamatkan semua satwa yang kehilangan habitatnya.
Tetapi kita tetap bisa melakukan sesuatu.
Tidak harus selalu besar.
Tidak harus selalu terlihat.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjadi relawan di garis depan.
Tidak ikut merusak, mencegah kebakaran, menyebarkan informasi yang benar, menghormati satwa liar, dan membantu sesuai kemampuan juga merupakan bentuk kepedulian.
Sebab ketika hutan terbakar, yang terdampak bukan hanya mereka yang tinggal di sekitar hutan.

Kita semua berada di bumi yang sama.
Dan pada akhirnya, bumi adalah rumah kita bersama.
Rumah yang tentu akan lebih nyaman jika kita semua mau ikut menjaganya.


Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini


Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

Motivasi Harian

Motivasi Harian

Copywriting & Content

Copywriting & Content

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • Giveaway Tebak Foto
  • 2nd Giveaway Enny Mamito
  • Ganti Cara Belajar Lebih Menyenangkan dengan Zenius Education
  • Belanja Obat Lebih Mudah dan Praktis di Apotek Online
  • Berbeda Jumlah Tanda Tanya, ternyata Beda Makna

Kategori

Buku 29 Drama Stories 37 Fiksi 15 Indonesia-ku 25 Info & Tips 80 Jalan-jalan 25 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 73 Keuangan 6 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Layar & Musik 40 Lingkungan & Satwa 35 Lomba 28 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 21 Parenting 8 Pendidikan 4 Perempuan 18 Quotes 5 Religi 21 Resep 23 Review 126 Sejarah 6 Self Love 18 Teknologi 20

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes