Catatan Mamito
  • Home
  • Tentang Aku


Sabtu, 24 Oktober 2026, aku berkesempatan mengikuti perjalanan ziarah wali bersama Majelis Taklim (MT) Al-Huda, kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalku.
Sejak pukul 06.00 WIB, kami sudah berkumpul untuk bersiap melakukan perjalanan. Sekitar pukul 06.30 WIB, bus yang kami tumpangi mulai berangkat menuju sejumlah tempat ziarah.

Bagiku, perjalanan ini bukan sekadar kesempatan untuk mengunjungi makam para ulama. Ada pengalaman baru, kesempatan untuk berdoa, dan kebersamaan dengan ibu-ibu jamaah pengajian yang menjadi bagian dari perjalanan ini.

Ada beberapa tempat yang menjadi tujuan ziarah kami. Setiap tempat memiliki cerita sejarah dan sosok ulama yang memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan Islam di Indonesia.

------------------------------
Baca juga: Ziarah Wali Bersama Teman-Teman SMA, Merawat Tradisi yang Sarat Makna dan Keberkahan
------------------------------


1. Ziarah ke Makam Syekh Ihsan Jampes, Kediri



Tujuan pertama dalam daftar perjalanan kami adalah makam Syekh Ihsan Jampes yang berada di wilayah Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Syekh Ihsan Jampes memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan. Beliau merupakan ulama besar dari Kediri yang dikenal luas melalui keilmuannya, terutama dalam bidang keislaman dan tasawuf.

Syekh Ihsan lahir sekitar tahun 1901. Sejak kecil, beliau telah mendapatkan pendidikan agama dan kemudian menimba ilmu di sejumlah pesantren. Pada tahun 1932, beliau dipercaya mengasuh Pesantren Jampes.

Salah satu karya beliau yang terkenal adalah Siraj ath-Thalibin, kitab yang menjelaskan karya Imam Al-Ghazali berjudul Minhaj al-Abidin. Karya ini membuat nama Syekh Ihsan dikenal hingga ke kalangan ulama di luar Indonesia.
Beliau wafat pada 16 September 1952 dan dimakamkan di makam keluarga di Desa Putih, Kediri.

Kisah hidup Syekh Ihsan mengingatkan kita bahwa ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, bahkan setelah seseorang meninggalkan dunia.


Dari perjalanan ziarah ini, aku juga ingin mengambil pelajaran tentang pentingnya terus belajar, memperdalam ilmu agama, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.


2. Ziarah ke Makam Gus Dur, Jombang

Tujuan berikutnya adalah makam KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Gus Dur dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4, tokoh bangsa, ulama, pemikir, dan sosok yang sangat dekat dengan perjuangan kemanusiaan, toleransi, serta kehidupan masyarakat yang beragam.


Gus Dur lahir pada 7 September 1940. Beliau adalah putra KH Abdul Wahid Hasyim dan cucu KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Selain dikenal melalui kiprahnya di dunia politik, beliau juga memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan, demokrasi, dan hubungan antarkelompok masyarakat.

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang. Sejak saat itu, makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Mengenang perjalanan hidup Gus Dur membuatku kembali berpikir tentang arti menjadi manusia yang bermanfaat. Perbedaan yang ada di tengah masyarakat tidak seharusnya membuat kita kehilangan rasa hormat kepada sesama.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup tokoh bangsa, termasuk bagaimana menjaga sikap, menghargai orang lain, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.


Selain berziarah ke makam Gus Dur, di kawasan wisata religi Tebuireng, Jombang, terdapat Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari atau yang dikenal dengan sebutan MINHA.
Letak museum ini masih berada dalam kawasan wisata religi Makam Gus Dur dan Pondok Pesantren Tebuireng. Jadi, museum ini menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk melengkapi perjalanan ziarah di kawasan tersebut.

Museum yang diresmikan pada 19 Desember 2018 ini menyimpan berbagai koleksi dan informasi tentang sejarah perkembangan Islam di Indonesia, perjuangan para ulama, serta kontribusi tokoh-tokoh Islam terhadap bangsa. Di dalamnya, pengunjung dapat mengenal sosok KH. Hasyim Asy'ari dan Gus Dur melalui berbagai informasi sejarah dan benda koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup mereka.


Oya ada sedikit cerita waktu berkunjung ke makam Gus Dur. Secara tak sengaja aku dan pak suami bertemu dengan sahabat pak suami yang sudah lama tak bertemu, Gus Kamal beserta keluarga (Pondok Pesantren As Sattar, Banyakan Kediri). Senang sekali bisa berjumpa walau hanya sebentar. Semoga selalu sehat dan dimudahkan semua urusan untuk Gus Kamal sekeluarga, aamiin..


Untuk teman-teman yang juga ingin berziarah ke makam Gus Dur, ziarah dibuka setiap hari, dibagi menjadi dua sesi.
• Sesi pagi pukul 08.00–15.00 WIB 
• Sesi malam pukul 20.00–03.00 WIB. 
Namun, ada jadwal khusus untuk hari Jumat, di mana makam dibuka pukul 08.00–11.00 WIB, tutup sementara, lalu buka kembali pukul 13.00–15.00 WIB.

------------------------------
Baca juga: Kompak dan Penuh Semangat, Grup Rebana Roudhohtul Jannah Juara 1 Lomba Hadroh Kelurahan Bandar Lor Kediri
------------------------------


3. Ziarah ke Makam Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura


Perjalanan ziarah kami juga mencakup makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
Beliau merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam tradisi pesantren.


Syaikhona Muhammad Kholil lahir di Bangkalan pada 1835. Sejak muda, beliau menuntut ilmu agama dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Makkah. Setelah kembali ke tanah air, beliau mengabdikan diri untuk mengajar dan membimbing para santri.

Nama beliau sangat dihormati karena banyak tokoh ulama yang pernah menimba ilmu kepadanya. Salah satu murid yang dikenal luas adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 1925. Makam beliau di Bangkalan hingga kini menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai daerah.


Mengingat perjalanan hidup beliau membuatku semakin menyadari betapa besar peran guru dan ulama dalam meneruskan ilmu agama dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ilmu yang diajarkan dengan ketulusan dapat terus hidup dan memberikan manfaat, bahkan ketika orang yang mengajarkannya sudah tiada.

Bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk belajar, tentu ada banyak hal yang bisa direnungkan dari perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu dan membimbing masyarakat.


4. Ziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya

Suarasurabaya.net

Tujuan ziarah lainnya adalah makam Sunan Ampel di kawasan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.
Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Nama aslinya adalah Raden Rahmat, yang juga dikenal sebagai Raden Rahmatullah.

Beliau diperkirakan lahir pada akhir abad ke-14 dan wafat pada 1481. Sunan Ampel dikenal melalui kegiatan dakwah dan pendidikan Islam yang berpusat di kawasan Ampel, Surabaya.

Salah satu peninggalan bersejarah yang berkaitan erat dengan beliau adalah Masjid Ampel, yang pembangunannya diperkirakan dimulai pada 1421. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan menjadi salah satu tujuan wisata religi yang terkenal di Jawa Timur.
Hingga sekarang, kompleks makam Sunan Ampel ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Selain berziarah, pengunjung juga dapat melihat kawasan masjid bersejarah dan lingkungan sekitarnya yang memiliki nilai sejarah panjang.

Mengunjungi tempat yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Sunan Ampel mengingatkan kita bahwa penyebaran ilmu dan ajaran agama membutuhkan kesungguhan serta kesabaran.
Perjalanan para ulama terdahulu tentu tidak selalu mudah. Namun, melalui pendidikan, keteladanan, dan dakwah, mereka meninggalkan warisan yang masih dapat kita pelajari hingga saat ini.

------------------------------
Baca juga: Pesona Pulau Tabuhan, Banyuwangi
------------------------------


5. Singgah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya


Selain berziarah ke makam para ulama, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya juga menjadi salah satu tujuan dalam perjalanan kami.
Masjid yang berada di kawasan Pagesangan, Surabaya, ini merupakan salah satu masjid terbesar dan paling dikenal di Indonesia. Bangunannya megah dengan kubah besar yang menjadi salah satu ciri khasnya.


Pembangunan Masjid Nasional Al-Akbar dimulai pada 4 Agustus 1995 dan diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000.
Keberadaan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah. Masjid Nasional Al-Akbar juga dikembangkan sebagai pusat kegiatan keislaman, pendidikan, kebudayaan, dan wisata religi.

Bagi pengunjung, kemegahan bangunan masjid menjadi daya tarik tersendiri. Namun, fungsi utamanya tetap sebagai tempat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Singgah di masjid dalam perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan perjalanan panjang, kita tetap perlu menyediakan waktu untuk beribadah.

Ada banyak cara untuk mengisi perjalanan dengan hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya adalah menjadikan perjalanan sebagai kesempatan untuk memperbanyak doa, bersyukur, dan mengingat kembali hal-hal penting dalam kehidupan.


Bukan Hanya tentang Tujuan, tetapi Juga Kebersamaan

Mengikuti ziarah wali bersama MT Al-Huda menjadi pengalaman tersendiri bagiku.
Sebagai salah satu jamaah pengajian ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalku, aku merasa senang bisa mengikuti kegiatan bersama seperti ini. Ada kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas sehari-hari sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan.


Perjalanan menggunakan bus, berkumpul sejak pagi, dan mengunjungi beberapa tempat dalam satu rangkaian kegiatan menjadi bagian dari pengalaman yang bisa dikenang.

Bagiku, kegiatan bersama jamaah pengajian tidak hanya berkaitan dengan pertemuan rutin untuk belajar agama. Ada pula kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan mengenal satu sama lain melalui kegiatan di luar pengajian.
Kebersamaan seperti ini terasa berarti karena kita bisa berbagi perjalanan dengan tujuan yang sama. Semoga hubungan baik yang terjalin tidak berhenti ketika perjalanan selesai, tetapi terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

------------------------------
Baca juga: Dari Sejuknya Perkebunan Teh Sirah Kencong ke Pantai Serit: Cerita Wisata Ibu-Ibu Rebana Roudhohtul Jannah di Blitar
------------------------------

Mengunjungi makam para ulama dan tokoh bangsa membuatku kembali melihat betapa panjang perjalanan ilmu, dakwah, dan pengabdian yang telah mereka tempuh.
Setiap tokoh memiliki kisah hidup yang berbeda. Ada yang dikenal melalui karya-karya keilmuannya, ada yang berperan dalam pendidikan pesantren, dan ada pula yang meninggalkan jejak melalui perjuangan kebangsaan serta dakwah Islam.


Aku juga bersyukur bisa mengikuti perjalanan ini bersama jamaah MT Al-Huda. Sebab, sebuah perjalanan bukan hanya tentang tempat yang kita datangi, tetapi juga tentang pengalaman yang kita jalani dan kebersamaan yang kita rasakan.

Semoga setiap langkah dalam perjalanan ini membawa kebaikan, menambah rasa syukur, dan menjadi pengingat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Sampai di sini dulu catatan perjalananku kali ini. Semoga suatu saat ada kesempatan untuk kembali melakukan perjalanan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menambah ilmu dan memperkaya pengalaman hidup.
Sebab, dari setiap perjalanan, selalu ada cerita yang bisa dikenang dan pelajaran yang bisa dibawa pulang.


-----------------------------------

Ucapan terima kasih:
Ketua MT Al-Huda, Ibu Rini Prayitno, Ibu Puji, Ibu Mugiarti, Bapak Safak sekeluarga, ibu-ibu MT Al-Huda & seluruh peserta ziarah semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan dan rezeki yang berlimpah untuk kita semua aamiin yaa Rabb




Aku suka nonton drama Korea yang tidak terlalu berat, tetapi tetap punya cerita menarik. Drama yang bisa membuat tertawa, tersenyum sendiri melihat adegan romantis, sekaligus penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Ada yang sama kayak aku gak?

Nah, drama Korea Take Charge of My Heart menjadi salah satu tontonan yang berhasil membuatku merasakan hal tersebut.
Tayang di Netflix pada 9 Oktober 2026, drama ini dibintangi Kim Young-kwang dan Chae Soo-bin. Mengusung genre komedi romantis dengan sentuhan fantasi, Take Charge of My Heart menawarkan cerita yang cukup unik.

Bayangin aja, ada seorang pewaris konglomerasi yang memiliki jantung buatan dengan baterai mulai melemah. Kemudian, ada seorang perempuan yang tubuhnya mampu mengeluarkan aliran listrik sehingga orang lain tidak bisa sembarangan menyentuhnya.
Bagaimana jadinya jika kedua orang dengan kondisi yang tidak biasa ini bertemu dan justru saling membutuhkan?
Premisnya saja sudah menarik, kan?

Drama ini terdiri dari 10 episode, jadi tidak terlalu panjang untuk diikuti. Buatku, jumlah episode seperti ini cukup pas untuk menikmati sebuah cerita tanpa harus berlama-lama menunggu akhir kisahnya.

Sepanjang nonton drama ini, aku sering dibuat ngakak karena tingkah para karakternya. Ceritanya memang banyak menghadirkan situasi absurd yang terasa kocak, tetapi tetap punya sisi romantis dan menghangatkan hati.

Oya, Take Charge of My Heart jadi drama Korea pertama Kim Young-kwang yang aku tonton. Kayaknya nanti bakal nonton drama cowok kelahiran tahun 1987 ini lainnya deh.

Trus seperti apa, sih jalan cerita dan kesanku terhadap Take Charge of My Heart? 

------------------------------
Baca juga: Review The Red Sleeve: Drama Korea Romantis dengan Ending yang Mengharukan
------------------------------


Sinopsis Drama Korea Take Charge of My Heart

Take Charge of My Heart menceritakan kisah Baek Ho-rang (Kim Young-kwang), seorang eksekutif di TS Resort sekaligus pewaris TS Group.
Sebagai pewaris konglomerasi, Ho-rang tidak hanya harus menghadapi berbagai persoalan dalam pekerjaannya. Ia juga berada di tengah persaingan untuk menentukan siapa yang akan memimpin perusahaan.


Namun, di balik kehidupannya yang terlihat mapan, Ho-rang menyimpan masalah yang jauh lebih serius.
Ia menggunakan jantung buatan, tetapi baterai pada jantung tersebut mulai melemah. Sementara itu, ia masih harus menunggu selama tiga bulan untuk menjalani operasi pemulihan berikutnya.
Situasi ini tentu membuat hidupnya tidak mudah. Di tengah persaingan perusahaan yang mengancam posisinya, ia juga harus memikirkan cara agar bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, ada Na Bo-bae (Chae Soo-bin), seorang penulis naskah drama yang memiliki kondisi tubuh tidak biasa.
Ketika masih kecil, Bo-bae pernah tersambar petir. Sejak saat itu, tubuhnya memiliki kemampuan memancarkan aliran listrik yang bisa membahayakan orang lain ketika terjadi kontak fisik.
Akibatnya, Bo-bae harus selalu mengenakan sarung tangan dan menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya.


Coba bayangin bagaimana rasanya tidak bisa menyentuh orang lain dengan bebas. Bahkan, kontak fisik sederhana yang sering dianggap biasa oleh kebanyakan orang menjadi sesuatu yang sulit baginya.
Kasihan banget, ya..

Di balik kebiasaannya menjaga jarak, Bo-bae sebenarnya juga ingin menjalani kehidupan normal. Ia ingin merasakan kedekatan dengan orang lain tanpa harus takut melukai mereka.
Takdir kemudian mempertemukan Ho-rang dan Bo-bae melalui sebuah insiden ciuman yang tidak disengaja.
Btw bagian ini kocak bangett.. 

Bo-bae tentu terkejut ketika mengetahui bahwa aliran listrik dari tubuhnya ternyata tidak melukai Ho-rang. Sebaliknya, Ho-rang melihat pertemuan tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk membantunya bertahan hidup selama tiga bulan ke depan, sampai tiba waktunya menjalani operasi.
Ho-rang kemudian menawarkan kontrak kerja sama kepada Bo-bae.

Dari sinilah cerita mereka dimulai. Hubungan yang awalnya didasari kebutuhan masing-masing perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal.
Ho-rang membutuhkan Bo-bae agar bisa bertahan hidup, sedangkan Bo-bae menemukan seseorang yang dapat membantunya menyelesaikan naskah yang ditulisnya.
Karena kondisi tersebut, mereka jadi sering menghabiskan waktu bersama. Perlahan, keduanya mulai merasakan kedekatan yang selama ini sulit mereka dapatkan.

Perjalanan mereka tentu tidak hanya berisi momen romantis. Ho-rang masih harus menghadapi persoalan perusahaan, sementara hubungan mereka juga berkembang melampaui kesepakatan awal.

------------------------------
Baca juga: Our Sticky Love: Jung Hae-in dan Cinta yang Tumbuh Perlahan, dengan Happy Ending
------------------------------

Di sinilah kisah komedi romantis dan fantasi dalam Take Charge of My Heart mulai terasa menarik.

1. Premis Ceritanya Unik dan Tidak Biasa

Menurutku, salah satu daya tarik utama Take Charge of My Heart adalah premis ceritanya.
Drama Korea dengan kisah pewaris konglomerasi memang bukan sesuatu yang benar-benar baru. Begitu pula dengan cerita tentang dua orang yang awalnya memiliki hubungan karena sebuah kesepakatan.

Drama Korea Take Charge of My Heart menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui kondisi kedua tokoh utamanya.
Ho-rang memiliki jantung buatan yang baterainya mulai melemah, sedangkan Bo-bae memiliki tubuh yang bisa mengeluarkan aliran listrik.
Keduanya memiliki kondisi yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi tidak mudah. Tapi sesuatu yang menjadi masalah bagi mereka justru menjadi alasan keduanya bisa saling membutuhkan.

Jalan ceritanya terasa unik sekaligus membuka banyak kesempatan untuk menghadirkan situasi kocak.
Bayangkan saja, hubungan romantis yang biasanya berkembang melalui tatapan mata, genggaman tangan, atau pelukan, dalam drama ini justru berhadapan dengan persoalan yang tidak biasa.
Ada batasan fisik yang harus mereka hadapi, tetapi ada pula keinginan untuk merasa dekat dengan seseorang.

Menurutku, perpaduan fantasi dan romansa seperti ini membuat Take Charge of My Heart memiliki daya tarik tersendiri.


2. Drama Romantis yang Sukses Bikin Aku Ngakak

Kalau ditanya apa yang paling aku nikmati saat menonton drama ini, jawabannya adalah adegan komedinya.
Aku benar-benar beberapa kali dibuat tertawa melihat situasi yang dialami Ho-rang dan Bo-bae.


Premis cerita yang sudah tidak biasa membuat interaksi mereka terasa berbeda. Situasi yang bagi orang lain mungkin sederhana justru bisa menjadi sesuatu yang rumit bagi keduanya.
Apalagi, hubungan mereka bermula dari insiden ciuman yang tidak disengaja. Kejadian tersebut menjadi awal dari situasi yang kemudian berkembang menjadi hubungan kerja sama sekaligus romansa.

Drama ini tidak selalu berusaha membuat penonton tegang dengan konflik yang berat. Sebaliknya, banyak adegan yang memanfaatkan situasi absurd dan respons spontan para karakternya untuk menghadirkan humor.

Buatku, inilah salah satu hal yang membuat drama ini menyenangkan untuk ditonton.
Aku bisa menikmati ceritanya tanpa harus terus-menerus merasa tegang. Ada momen ketika aku penasaran dengan persoalan yang dihadapi para karakter, tetapi ada pula saat-saat ketika tingkah mereka justru membuatku tertawa.

Kalau kamu sedang mencari tontonan yang bisa menghibur setelah menjalani aktivitas sehari-hari, drama ini bisa masuk daftar tontonanmu.


3. Romansa Ho-rang dan Bo-bae Bikin Gemas

Selain komedi, tentu saja ada kisah romantis yang menjadi bagian penting dari Take Charge of My Heart.
Awalnya, hubungan Ho-rang dan Bo-bae terbentuk karena kebutuhan masing-masing.
Ho-rang membutuhkan keberadaan Bo-bae agar bisa bertahan hidup sampai jadwal operasinya tiba. Sementara itu, Bo-bae akhirnya bertemu seseorang yang bisa menyentuhnya tanpa terkena sengatan listrik.
Hubungan mereka pun dimulai melalui sebuah kesepakatan.


Namun, seperti yang sering terjadi dalam cerita komedi romantis, kebersamaan perlahan menghadirkan perasaan yang tidak bisa selalu dijelaskan dengan logika.

Mereka mulai hadir dalam kehidupan satu sama lain, bukan hanya karena kesepakatan yang dibuat, tetapi juga karena perhatian dan kedekatan yang tumbuh di antara mereka.
Bagian ini terasa menarik karena hubungan mereka tidak langsung berpusat pada romansa. Ada kebutuhan yang mempertemukan mereka, situasi yang membuat mereka terus bersama, lalu perasaan yang perlahan berkembang.
Interaksi keduanya juga menghadirkan banyak momen menggemaskan.

Buatku, perpaduan antara adegan lucu dan romantis membuat hubungan mereka terasa lebih hidup. Kita tidak hanya disuguhi adegan manis, tetapi juga tingkah laku spontan yang mengundang tawa.
Kadang-kadang, memang menyenangkan menonton kisah cinta yang tidak selalu berjalan mulus, tetapi justru tumbuh dari situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

------------------------------
Baca juga: Review Drama China When I Fly Towards You: Sinopsis, Pemeran, dan Alasan Wajib Nonton
------------------------------


4. Kisah Bo-bae Mengingatkan Kita tentang Keinginan untuk Merasakan Kedekatan

Di balik berbagai adegan lucu, aku juga merasa kondisi yang dialami Bo-bae memiliki sisi menyedihkan.
Ia harus menjaga jarak dari orang lain karena tubuhnya dapat mengeluarkan aliran listrik yang membahayakan orang yang bersentuhan dengannya.

Hal yang mungkin dianggap biasa oleh kebanyakan orang, seperti berjabat tangan, menggenggam tangan seseorang, atau memeluk orang yang disayangi, menjadi sesuatu yang tidak mudah bagi Bo-bae.

Bisa dibayangin kabln betapa sulitnya menjalani kehidupan dengan kondisi seperti itu.
Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan dengan orang lain. Kita ingin merasa dekat, diperhatikan, dan bisa menunjukkan kasih sayang melalui hal-hal sederhana.
Namun, Bo-bae harus menahan keinginan tersebut karena kondisi tubuhnya.
Itulah sebabnya, kehadiran Ho-rang menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupannya.
Untuk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yang bisa disentuh tanpa harus khawatir akan melukainya.

Menurutku, bagian ini memberikan sisi emosional pada drama yang sebagian besar dikemas dengan komedi.
Di balik cerita yang kocak, ada seseorang yang sebenarnya ingin menjalani kehidupan normal dan merasakan kedekatan seperti orang lain.
Hal itu membuat kisah Bo-bae tidak sekadar menjadi bagian dari premis fantasi, tetapi juga menghadirkan sisi manusiawi yang bisa membuat penonton ikut bersimpati.


5. Konflik Perusahaan Membuat Ceritanya Tidak Hanya tentang Cinta

Meskipun banyak menghadirkan komedi dan romansa, Take Charge of My Heart juga memiliki konflik serius yang berkaitan dengan perusahaan.

Ho-rang merupakan pewaris TS Group sekaligus eksekutif di TS Resort. Karena itu, kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari persaingan untuk menentukan kepemimpinan perusahaan.
Situasinya semakin rumit karena ia harus menghadapi persoalan kesehatan yang mengancam nyawanya.

Di tengah kondisi tersebut, Ho-rang juga harus berhadapan dengan tante dan sepupunya yang berusaha menjatuhkannya demi merebut kekuasaan di TS Group.

Konflik ini memberikan warna berbeda pada cerita.
Di satu sisi, kita bisa menikmati hubungan Ho-rang dan Bo-bae yang menggemaskan. Namun, di sisi lain, ada persoalan perebutan kekuasaan yang membuat posisi Ho-rang tidak sepenuhnya aman.

Menurutku, perpaduan dua sisi cerita ini cukup menarik. Drama tidak hanya berfokus pada perkembangan hubungan kedua tokoh utama, tetapi juga menghadirkan persoalan yang memengaruhi kehidupan Ho-rang.

Btw aku pun sempat dibuat curiga terhadap salah satu karakter yang muncul dalam lingkungan perusahaan.
Siapa lagi kalau bukan Sekretaris Yoon!


6. Sempat Curiga dengan Sekretaris Yoon, Ternyata Aku Salah!

Nah, bagian ini menjadi salah satu hal yang cukup menarik selama aku menonton Take Charge of My Heart.
Awalnya, aku sempat curiga kepada Sekretaris Yoon atau Yoon Jae-ho, yang diperankan oleh aktor senior Heo Dong-won.


Aku menduga jangan-jangan dialah orang yang membocorkan rahasia Baek Ho-rang.
Kecurigaan itu muncul karena adanya konflik perusahaan dan persaingan yang harus dihadapi Ho-rang. Dalam situasi seperti ini, aku jadi bertanya-tanya siapa yang sebenarnya bisa dipercaya.
Jangan-jangan, orang yang selama ini berada dekat dengan Ho-rang justru menyimpan rahasia?
Aku pun sempat berpikir bahwa Sekretaris Yoon mungkin memiliki peran dalam persoalan tersebut.
Namun, ternyata dugaanku salah!
Sekretaris Yoon bukan pengkhianat yang selama itu aku curigai.

Pengalaman seperti ini memang menjadi salah satu hal yang menyenangkan ketika menonton drama Korea. Kita bisa ikut menerka-nerka jalan cerita dan mencurigai karakter tertentu, tetapi ternyata kenyataannya berbeda dari dugaan kita.
Kadang-kadang, justru karena terlalu penasaran, kita mulai membuat teori sendiri tentang siapa yang mungkin menjadi dalang di balik sebuah konflik.

Aku sendiri sempat dibuat curiga kepada Sekretaris Yoon. Ternyata, aku salah menebak!
Buatku, keberadaan konflik seperti ini menjadi bumbu tambahan yang membuat Take Charge of My Heart tidak hanya mengandalkan komedi romantis.
Ada persoalan yang membuat penonton ikut berpikir dan penasaran, meskipun suasana keseluruhan dramanya tetap terasa ringan.


7. Drama Pertama Kim Young-kwang yang Aku Tonton

Ada satu hal lain yang membuat drama ini terasa spesial buatku.
Take Charge of My Heart adalah drama Korea pertama Kim Young-kwang yang aku tonton.
Sebelumnya, aku belum pernah mengikuti drama yang dibintanginya. Jadi, melalui drama ini, aku sekaligus berkenalan dengan Kim Young-kwang sebagai pemeran utama.


Dalam drama ini, ia memerankan Baek Ho-rang, seorang pewaris konglomerasi yang harus menghadapi persoalan kesehatan sekaligus konflik perusahaan.

Karakter Ho-rang memiliki situasi kehidupan yang cukup rumit. Namun, cerita tidak terus-menerus menempatkannya dalam suasana serius karena ada interaksi dengan Bo-bae yang menghadirkan banyak momen komedi dan romantis.

Sementara itu, Chae Soo-bin memerankan Na Bo-bae, perempuan dengan kondisi tubuh unik yang membuatnya sulit menjalin kontak fisik dengan orang lain.

Pertemuan kedua karakter inilah yang menjadi pusat cerita sekaligus menghadirkan berbagai situasi lucu dan menggemaskan.
Sebagai penonton yang baru pertama kali menyaksikan Kim Young-kwang, drama ini menjadi pengalaman awal yang menyenangkan bagiku.

Aku menikmati jalan ceritanya, terutama perpaduan komedi dan romansa yang membuat hubungan kedua tokoh utama terasa menarik untuk diikuti.



Take Charge of My Heart, Drama Korea yang Bikin Hati Senang

Secara keseluruhan, aku menikmati Take Charge of My Heart sebagai drama Korea yang menghibur.
Drama ini memiliki premis yang unik, yaitu tentang pewaris konglomerasi dengan jantung buatan yang baterainya mulai melemah dan seorang perempuan yang tubuhnya mampu mengeluarkan aliran listrik.
Kondisi yang tidak biasa tersebut menjadi awal dari hubungan mereka yang berkembang melalui sebuah kontrak kerja sama.
Dari situ, penonton diajak mengikuti perjalanan Ho-rang dan Bo-bae yang penuh situasi kocak, momen romantis, serta persoalan serius yang harus mereka hadapi.

------------------------------
Baca juga: Review Drama Jepang An Incurable Case of Love: Perjuangan Cinta Perawat Ceria dan Dokter Dingin
------------------------------

Aku sendiri beberapa kali dibuat tertawa saat menontonnya. Interaksi kedua tokoh utamanya terasa menggemaskan, sementara konflik perusahaan memberikan alasan tambahan untuk terus mengikuti cerita.
Aku juga sempat dibuat penasaran dengan Sekretaris Yoon karena mengira ia adalah orang yang membocorkan rahasia Baek Ho-rang. Ternyata, dugaanku meleset!
Ditambah lagi, ini menjadi drama pertama Kim Young-kwang yang aku tonton. Jadi, ada pengalaman baru yang membuatku semakin menikmati drama ini.

Dengan total 10 episode, Take Charge of My Heart cocok buat kamu yang sedang mencari drama Korea komedi romantis dengan sentuhan fantasi, cerita yang tidak terlalu panjang, dan banyak momen menghibur.
Buatku, drama ini menjadi pengingat bahwa sebuah cerita tidak harus selalu dipenuhi konflik berat untuk membuat kita betah menonton.
Kadang-kadang, cerita yang unik, karakter yang menggemaskan, dan adegan yang membuat kita tertawa lepas sudah cukup untuk menjadikan waktu bersantai terasa menyenangkan.

Kalau kamu suka drama Korea yang bisa membuat tertawa sekaligus tersenyum melihat kisah romantis para tokohnya, Take Charge of My Heart layak masuk daftar tontonanmu.





 
Credit: Pexels

Ada hari-hari ketika kita bangun pagi dengan perasaan baik-baik saja. Bisa tersenyum, menjalani aktivitas seperti biasa, bercanda dengan keluarga, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sudah menunggu.

Namun, ada juga hari ketika rasanya berbeda.

Entah kenapa, hati terasa sedikit lebih berat. Pikiran ke mana-mana, badan terasa lelah, dan hal-hal kecil yang biasanya tidak menjadi masalah tiba-tiba terasa begitu mengganggu.

Kita sendiri kadang tidak tahu apa penyebabnya. Tidak sedang bertengkar dengan siapa pun, tidak ada masalah besar yang sedang dihadapi, tetapi rasanya ingin diam saja. Ingin punya waktu untuk diri sendiri tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada orang lain.

Pernah merasakan hal seperti itu?

Kalau pernah, mungkin kita perlu mengingat satu hal sederhana: tidak apa-apa jika hari ini kita tidak baik-baik saja.

Kita tidak harus selalu tersenyum. Tidak harus selalu bersemangat. Dan tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain.

Sebab, kita juga manusia yang punya perasaan.


Kita Boleh Lelah, Meski Tidak Sedang Melakukan Hal Besar

Dalam keseharian, ada begitu banyak hal yang harus kita pikirkan. Pekerjaan, keluarga, kebutuhan rumah tangga, rencana masa depan, sampai hal-hal kecil yang terkadang tidak selesai hanya dalam satu hari.

Sebagai perempuan, apalagi jika sudah menjadi istri dan ibu, sering kali perhatian kita lebih banyak tertuju kepada orang lain.

Memikirkan apa yang perlu disiapkan untuk keluarga, memastikan semua berjalan baik, mendengarkan cerita orang-orang terdekat, dan berusaha hadir ketika mereka membutuhkan kita.

Tanpa sadar, kita terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain.

Ketika ada anggota keluarga yang lelah, kita berusaha membantunya. Ketika ada yang sedih, kita mencoba menghiburnya. Ketika ada masalah, kita ikut memikirkan jalan keluarnya.

Namun, ketika giliran diri sendiri merasa lelah, kita justru sering berkata, "Ah, tidak apa-apa. Nanti juga hilang sendiri."

Kita menganggap rasa lelah itu biasa. Mengabaikan perasaan yang mengganggu pikiran, lalu kembali menjalani rutinitas seperti tidak terjadi apa-apa.

Padahal, kita juga membutuhkan perhatian. Kita juga perlu didengarkan, termasuk oleh diri sendiri.

Lelah bukan selalu tentang banyaknya pekerjaan yang kita lakukan. Terkadang, pikiran yang terus bekerja tanpa jeda pun bisa membuat kita merasa kehabisan energi.

Jadi, kalau hari ini rasanya ingin berhenti sebentar, tidak ada salahnya memberi diri sendiri waktu untuk beristirahat.

Kita tidak harus menunggu semuanya beres untuk boleh merasa lelah.


Hari Kesehatan Mental, Pengingat untuk Lebih Peduli kepada Diri Sendiri

Hari ini, 10 Oktober, kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day.

Momen ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan kita secara keseluruhan.

Selama ini, ketika berbicara tentang kesehatan, mungkin yang langsung terlintas di pikiran kita adalah kesehatan fisik. Kita berusaha makan dengan baik, berolahraga, minum cukup air, dan beristirahat ketika badan terasa tidak nyaman.

Namun, bagaimana dengan kondisi pikiran dan perasaan kita?

Apakah kita juga memberi perhatian yang sama?

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, "Aku sebenarnya sedang merasa apa, ya?"

Bukan sekadar bertanya apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini atau apakah semua urusan rumah sudah beres. Melainkan benar-benar mencoba memahami apa yang sedang kita rasakan.

Apakah kita sedang bahagia? Sedang khawatir? Merasa kesepian? Atau mungkin sedang menyimpan banyak pikiran yang belum sempat kita ceritakan kepada siapa pun?

Pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi awal untuk lebih mengenali diri sendiri.

Kita tidak perlu selalu punya jawaban saat itu juga. Tidak perlu pula memaksa diri untuk segera merasa bahagia.

Terkadang, mengakui bahwa kita sedang sedih saja sudah menjadi langkah awal untuk memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Sebab, menjaga kesehatan mental bukan berarti kita harus selalu berpikir positif atau menjalani hidup tanpa kesedihan.

Ada kalanya kita perlu menerima bahwa hidup memang memiliki banyak warna. Ada hari yang menyenangkan, ada hari yang melelahkan, dan ada pula hari ketika kita hanya ingin menjalani semuanya dengan lebih pelan.

Semuanya bagian dari pengalaman hidup yang perlu kita hadapi dengan penuh perhatian kepada diri sendiri.


Tidak Harus Selalu Kuat di Hadapan Semua Orang

Entah sejak kapan, sebagian dari kita mungkin terbiasa merasa harus kuat.

Ketika menghadapi masalah, kita berusaha menyelesaikannya sendiri. Ketika sedih, kita memilih diam. Ketika kecewa, kita mencoba melupakan perasaan itu secepat mungkin.

Bukan karena tidak membutuhkan orang lain, melainkan karena terkadang kita tidak tahu harus bercerita kepada siapa.

Ada pula kekhawatiran bahwa cerita kita akan dianggap berlebihan. Takut dibilang terlalu sensitif, kurang bersyukur, atau tidak mampu menghadapi persoalan hidup.

Akhirnya, kita memilih menyimpan semuanya sendiri.

Padahal, mengungkapkan perasaan bukan berarti kita lemah. Meminta bantuan juga bukan tanda bahwa kita gagal menjadi seseorang yang kuat.

Kita boleh bercerita kepada orang yang kita percaya. Kita boleh mengatakan bahwa kita sedang lelah. Kita juga boleh meminta waktu untuk menenangkan diri ketika keadaan terasa terlalu ramai.

Tidak semua persoalan harus kita hadapi sendirian.

Dan tidak semua perasaan harus kita sembunyikan hanya demi membuat orang lain merasa nyaman.

Kalau hari ini kamu sedang sedih, tidak perlu buru-buru memaksa diri untuk tersenyum.

Kalau sedang kecewa, beri dirimu waktu untuk memahami perasaan itu.

Kalau sedang lelah, beristirahatlah jika memungkinkan.

Kita tidak harus selalu baik-baik saja agar tetap berharga di mata orang lain.


Merawat Diri Tidak Harus dengan Hal Besar

Kadang-kadang, kita membayangkan bahwa merawat diri membutuhkan banyak waktu, biaya, atau kesempatan khusus.

Padahal, ada hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memberikan sedikit ruang bagi diri sendiri.

Misalnya, menikmati secangkir minuman hangat tanpa terburu-buru. Membaca beberapa halaman buku yang sudah lama ingin diselesaikan. Mendengarkan lagu kesukaan. Menonton drama Korea favorit setelah menyelesaikan pekerjaan. Atau sekadar duduk sebentar sambil menikmati suasana di sekitar rumah.

Hal-hal sederhana seperti itu mungkin terlihat sepele, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan.

Tentu saja, kegiatan tersebut bukan solusi untuk semua persoalan kesehatan mental. Namun, memberi diri sendiri waktu untuk beristirahat dan menikmati hal-hal yang disukai dapat menjadi salah satu bagian dari upaya merawat diri.

Selain itu, kita juga bisa mulai belajar mengenali batas kemampuan diri.

Tidak semua permintaan harus langsung kita penuhi. Tidak semua masalah orang lain harus kita selesaikan. Dan tidak semua hal yang berada di luar kendali kita perlu dipikirkan terus-menerus.

Kita tetap bisa menyayangi keluarga, membantu orang lain, dan menjalankan tanggung jawab tanpa harus mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Sebab, kita juga bagian dari orang-orang yang perlu kita perhatikan.

Jika kesedihan, kecemasan, atau perasaan berat terus berlangsung hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Kita tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar tidak sanggup untuk meminta pertolongan.

Memperhatikan kesehatan mental juga berarti memahami kapan kita membutuhkan dukungan dari orang lain.


Belajar Lebih Lembut kepada Diri Sendiri

Coba kita ingat-ingat, bagaimana cara kita berbicara kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan?

Apakah kita langsung menyalahkan diri sendiri? Menganggap diri tidak becus? Atau membandingkan pencapaian kita dengan orang lain?

Terkadang, kita bisa begitu pengertian kepada orang lain, tetapi justru sangat keras kepada diri sendiri.

Ketika seorang teman melakukan kesalahan, kita mungkin berkata, "Tidak apa-apa, namanya juga manusia. Besok masih bisa mencoba lagi."

Namun, ketika kita sendiri yang melakukan kesalahan, kata-kata yang keluar justru berbeda.

Mengapa kita tidak mencoba memberikan pengertian yang sama kepada diri sendiri?

Kita boleh melakukan kesalahan. Boleh mengubah rencana. Boleh merasa belum mampu. Dan boleh membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai sesuatu.

Hidup bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang tiba di garis akhir pada waktu yang sama.

Begitu pula dengan proses kita memahami diri sendiri.

Ada hari ketika kita merasa penuh semangat. Ada hari ketika kita merasa kehilangan arah. Ada masa ketika semuanya terasa mudah, tetapi ada juga masa ketika satu langkah kecil saja membutuhkan usaha yang tidak sedikit.

Tidak apa-apa. Kita bisa menjalani semuanya satu per satu.

Daripada terus-menerus menyalahkan diri sendiri karena belum menjadi seperti yang kita inginkan, mungkin kita bisa mulai bertanya, "Apa yang bisa kulakukan hari ini agar diriku merasa sedikit lebih baik?"

Jawabannya tidak harus sesuatu yang besar.

Mungkin cukup dengan menyelesaikan satu pekerjaan yang tertunda, menghubungi teman lama, tidur lebih awal, atau berhenti membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain.

Pelan-pelan saja. Kita juga sedang belajar.


Hari Ini, Mari Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Pada akhirnya, kita tidak bisa mengatur semua hal yang terjadi dalam hidup.

Ada hal-hal yang berjalan sesuai harapan, tetapi ada juga yang berakhir di luar dugaan. Ada orang yang memahami kita, tetapi ada pula yang mungkin tidak mengerti apa yang sedang kita rasakan.

Kita tidak selalu bisa membuat semua orang bahagia. Kita juga tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu waktu.

Namun, kita bisa mulai belajar memberikan perhatian kepada diri sendiri.

Mendengarkan apa yang kita rasakan. Mengenali kapan tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hal-hal sederhana. Serta tidak ragu mencari bantuan ketika kita membutuhkannya.

Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk tidak hanya sibuk menjaga orang-orang yang kita sayangi, tetapi juga menjaga diri sendiri.

Bukan berarti kita menjadi egois. Justru, kita sedang belajar memahami bahwa kebutuhan dan perasaan kita juga penting.

Jadi, jika hari ini kamu sedang merasa lelah, sedih, kecewa, atau kehilangan semangat, tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa menjalani hari dengan sempurna.

Kamu tidak harus memaksakan senyum ketika hatimu sedang ingin beristirahat.

Kamu juga tidak harus membandingkan dirimu dengan orang lain yang terlihat selalu bahagia.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi seseorang di balik senyumnya. Begitu pula orang lain tidak selalu tahu apa yang sedang kita perjuangkan.

Maka, mari belajar lebih lembut kepada diri sendiri dan lebih peduli kepada orang-orang di sekitar kita.

Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi. Ingin ditemani tanpa dituntut untuk segera merasa lebih baik.

Dan terkadang, orang itu adalah diri kita sendiri.

Tidak apa-apa jika hari ini kamu tidak baik-baik saja. Kamu tetap berharga, bahkan ketika sedang merasa lelah.

Semoga kita semakin pandai merawat diri, bukan hanya ketika tubuh mulai sakit, tetapi juga ketika pikiran dan perasaan membutuhkan perhatian.

Sebab, kita pun layak mendapatkan kasih sayang yang selama ini begitu mudah kita berikan kepada orang lain.


Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

Cari Blog Ini

Profil

Foto saya
Enny Mamito
Blogger | Content Writer | Copywriter | Digital Enthusiast | Finalis Srikandi Blogger tahun 2013 & 2014 | Kontributor 15 buku antologi | Tim Redaksi Majalah Warta Alumni Palmturi | Suka buku-buku Enid Blyton
Lihat profil lengkapku

💜

💜

Quotes Motivasi Harian

Quotes Motivasi Harian

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

POPULAR POSTS

  • Review Take Charge of My Heart: Romantis, Kocak, dan Bikin Gemas
  • Cerita Ziarah Wali: Perjalanan, Doa, dan Kebersamaan
  • Berbeda Jumlah Tanda Tanya, ternyata Beda Makna
  • Nugget Sehat
  • Leo

Kategori

Buku 30 Drama Stories 40 Fiksi 15 Indonesia-ku 25 Info & Tips 81 Jalan-jalan 26 Kecantikan 31 Keluarga 33 Kesehatan 74 Keuangan 6 Kisahku 25 Kota Kediri 14 Kuliner 26 Layar & Musik 41 Lingkungan & Satwa 35 Lomba 28 Ngeblog 12 Nostalgia 32 Opini 21 Parenting 8 Pendidikan 4 Perempuan 20 Quotes 5 Religi 23 Resep 23 Review 126 Sejarah 6 Self Love 19 Teknologi 20

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Baca Juga Tulisanku di Kompasiana

Komunitas Blogger

Komunitas Blogger

Follow Me

Tayangan Blog

Advertisement

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes