Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi salah satu hari yang menyenangkan bagiku. Hari itu, aku berkesempatan mengikuti perjalanan ziarah wali bersama Majelis Taklim (MT) Al-Huda, kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalku.
Sejak pukul 06.00 WIB, kami sudah berkumpul untuk bersiap melakukan perjalanan. Sekitar pukul 06.30 WIB, bus yang kami tumpangi mulai berangkat menuju sejumlah tempat ziarah.
Bagiku, perjalanan ini bukan sekadar kesempatan untuk mengunjungi makam para ulama. Ada pengalaman baru, kesempatan untuk berdoa, dan kebersamaan dengan ibu-ibu jamaah pengajian yang menjadi bagian dari perjalanan ini.
Aku senang bisa mengikuti kegiatan seperti ini. Di tengah rutinitas sehari-hari, sesekali meluangkan waktu untuk perjalanan religi bersama teman-teman tentu menjadi pengalaman tersendiri.
Ada beberapa tempat yang menjadi tujuan ziarah kami. Setiap tempat memiliki cerita sejarah dan sosok ulama yang memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan Islam di Indonesia.
------------------------------
------------------------------
1. Ziarah ke Makam Syekh Ihsan Jampes, Kediri
Tujuan pertama dalam daftar perjalanan kami adalah makam Syekh Ihsan Jampes yang berada di wilayah Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Syekh Ihsan Jampes memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan. Beliau merupakan ulama besar dari Kediri yang dikenal luas melalui keilmuannya, terutama dalam bidang keislaman dan tasawuf.
Syekh Ihsan lahir sekitar tahun 1901. Sejak kecil, beliau telah mendapatkan pendidikan agama dan kemudian menimba ilmu di sejumlah pesantren. Pada tahun 1932, beliau dipercaya mengasuh Pesantren Jampes.
Salah satu karya beliau yang terkenal adalah Siraj ath-Thalibin, kitab yang menjelaskan karya Imam Al-Ghazali berjudul Minhaj al-Abidin. Karya ini membuat nama Syekh Ihsan dikenal hingga ke kalangan ulama di luar Indonesia.
Beliau wafat pada 16 September 1952 dan dimakamkan di makam keluarga di Desa Putih, Kediri.
Kisah hidup Syekh Ihsan mengingatkan kita bahwa ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, bahkan setelah seseorang meninggalkan dunia.
Dari perjalanan ziarah ini, aku juga ingin mengambil pelajaran tentang pentingnya terus belajar, memperdalam ilmu agama, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Ziarah ke Makam Gus Dur, Jombang
Tujuan berikutnya adalah makam KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Ini untuk kedua kalinya aku ziarah ke makam
Presiden keempat Republik Indonesia ini. Gus Dur dikenal sebagai tokoh bangsa, ulama, pemikir, dan sosok yang banyak berbicara tentang kemanusiaan, toleransi, serta kehidupan masyarakat yang beragam.
Gus Dur lahir pada 7 September 1940. Beliau adalah putra KH Abdul Wahid Hasyim dan cucu KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Selain dikenal melalui kiprahnya di dunia politik, beliau juga memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan, demokrasi, dan hubungan antarkelompok masyarakat.
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 dan dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang. Sejak saat itu, makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Mengenang perjalanan hidup Gus Dur membuatku kembali berpikir tentang arti menjadi manusia yang bermanfaat. Perbedaan yang ada di tengah masyarakat tidak seharusnya membuat kita kehilangan rasa hormat kepada sesama.
Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan hidup tokoh bangsa, termasuk bagaimana menjaga sikap, menghargai orang lain, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Oya ada sedikit cerita waktu berkunjung ke makam Gus Dur. Secara tak sengaja aku dan pak suami bertemu dengan sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, yaitu dengan Ustad Kamal beserta keluarga (Pondok As Sattar, Banyakan Kediri). Senang sekali bisa berjumpa walau hanya sebentar. Semoga selalu sehat dan dimudahkan semua urusan untuk Ustad Kamal sekeluarga, aamiin..
Untuk teman-teman yang juga ingin berziarah ke makam Gus Dur, ziarah dibuka setiap hari, dibagi menjadi dua sesi.
• Sesi pagi pukul 08.00–15.00 WIB
• Sesi malam pukul 20.00–03.00 WIB.
Namun, ada jadwal khusus untuk hari Jumat, di mana makam dibuka pukul 08.00–11.00 WIB, tutup sementara, lalu buka kembali pukul 13.00–15.00 WIB.
3. Ziarah ke Makam Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, Madura
Perjalanan ziarah kami juga mencakup makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
Beliau merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam tradisi pesantren.
Syaikhona Muhammad Kholil lahir di Bangkalan pada 1835. Sejak muda, beliau menuntut ilmu agama dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Makkah. Setelah kembali ke tanah air, beliau mengabdikan diri untuk mengajar dan membimbing para santri.
Nama beliau sangat dihormati karena banyak tokoh ulama yang pernah menimba ilmu kepadanya. Salah satu murid yang dikenal luas adalah KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 1925. Makam beliau di Bangkalan hingga kini menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai daerah.
Mengingat perjalanan hidup beliau membuatku semakin menyadari betapa besar peran guru dan ulama dalam meneruskan ilmu agama dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ilmu yang diajarkan dengan ketulusan dapat terus hidup dan memberikan manfaat, bahkan ketika orang yang mengajarkannya sudah tiada.
Bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk belajar, tentu ada banyak hal yang bisa direnungkan dari perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu dan membimbing masyarakat.
4. Ziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya
Tujuan ziarah lainnya adalah makam Sunan Ampel di kawasan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.
Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Nama aslinya adalah Raden Rahmat, yang juga dikenal sebagai Raden Rahmatullah.
Beliau diperkirakan lahir pada akhir abad ke-14 dan wafat pada 1481. Sunan Ampel dikenal melalui kegiatan dakwah dan pendidikan Islam yang berpusat di kawasan Ampel, Surabaya.
Salah satu peninggalan bersejarah yang berkaitan erat dengan beliau adalah Masjid Ampel, yang pembangunannya diperkirakan dimulai pada 1421. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan menjadi salah satu tujuan wisata religi yang terkenal di Jawa Timur.
Hingga sekarang, kompleks makam Sunan Ampel ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Selain berziarah, pengunjung juga dapat melihat kawasan masjid bersejarah dan lingkungan sekitarnya yang memiliki nilai sejarah panjang.
Mengunjungi tempat yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Sunan Ampel mengingatkan kita bahwa penyebaran ilmu dan ajaran agama membutuhkan kesungguhan serta kesabaran.
Perjalanan para ulama terdahulu tentu tidak selalu mudah. Namun, melalui pendidikan, keteladanan, dan dakwah, mereka meninggalkan warisan yang masih dapat kita pelajari hingga saat ini.
5. Singgah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya
Selain berziarah ke makam para ulama, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya juga menjadi salah satu tujuan dalam perjalanan kami.
Masjid yang berada di kawasan Pagesangan, Surabaya, ini merupakan salah satu masjid terbesar dan paling dikenal di Indonesia. Bangunannya megah dengan kubah besar yang menjadi salah satu ciri khasnya.
Pembangunan Masjid Nasional Al-Akbar dimulai pada 4 Agustus 1995. Masjid ini kemudian diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000.
Keberadaan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah. Masjid Nasional Al-Akbar juga dikembangkan sebagai pusat kegiatan keislaman, pendidikan, kebudayaan, dan wisata religi.
Bagi pengunjung, kemegahan bangunan masjid menjadi daya tarik tersendiri. Namun, fungsi utamanya tetap sebagai tempat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Singgah di masjid dalam perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan perjalanan panjang, kita tetap perlu menyediakan waktu untuk beribadah.
Ada banyak cara untuk mengisi perjalanan dengan hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya adalah menjadikan perjalanan sebagai kesempatan untuk memperbanyak doa, bersyukur, dan mengingat kembali hal-hal penting dalam kehidupan.
Bukan Hanya tentang Tujuan, tetapi Juga Kebersamaan
Mengikuti ziarah wali bersama MT Al-Huda menjadi pengalaman tersendiri bagiku.
Sebagai salah satu jamaah pengajian ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalku, aku merasa senang bisa mengikuti kegiatan bersama seperti ini. Ada kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas sehari-hari sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan.
Perjalanan menggunakan bus, berkumpul sejak pagi, dan mengunjungi beberapa tempat dalam satu rangkaian kegiatan menjadi bagian dari pengalaman yang bisa dikenang.
Bagiku, kegiatan bersama jamaah pengajian tidak hanya berkaitan dengan pertemuan rutin untuk belajar agama. Ada pula kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan mengenal satu sama lain melalui kegiatan di luar pengajian.
Kebersamaan seperti ini terasa berarti karena kita bisa berbagi perjalanan dengan tujuan yang sama. Semoga hubungan baik yang terjalin tidak berhenti ketika perjalanan selesai, tetapi terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
Membawa Pulang Cerita dan Pelajaran
Perjalanan ziarah pada Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi salah satu cerita yang ingin kusimpan dalam ingatan.
Mengunjungi makam para ulama dan tokoh bangsa membuatku kembali melihat betapa panjang perjalanan ilmu, dakwah, dan pengabdian yang telah mereka tempuh.
Setiap tokoh memiliki kisah hidup yang berbeda. Ada yang dikenal melalui karya-karya keilmuannya, ada yang berperan dalam pendidikan pesantren, dan ada pula yang meninggalkan jejak melalui perjuangan kebangsaan serta dakwah Islam.
Dari kisah-kisah tersebut, aku ingin terus belajar untuk memperbaiki diri, menghargai ilmu, dan berusaha memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarku.
Aku juga bersyukur bisa mengikuti perjalanan ini bersama jamaah MT Al-Huda. Sebab, sebuah perjalanan bukan hanya tentang tempat yang kita datangi, tetapi juga tentang pengalaman yang kita jalani dan kebersamaan yang kita rasakan.
Semoga setiap langkah dalam perjalanan ini membawa kebaikan, menambah rasa syukur, dan menjadi pengingat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sampai di sini dulu catatan perjalananku kali ini. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali melakukan perjalanan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menambah ilmu dan memperkaya pengalaman hidup.
Sebab, dari setiap perjalanan, selalu ada cerita yang bisa dikenang dan pelajaran yang bisa dibawa pulang.













0 comments
Terima kasih sudah mampir ke Catatan Mamito.
Punya cerita, pendapat, atau pengalaman? Yuk, berbagi di sini.