Mengapa Perempuan Harus Pintar? Belajar Tak Harus Menunggu Gelar



Ada satu hal yang semakin aku pahami seiring bertambahnya usia: perempuan harus pintar.

Bukan pintar untuk mengalahkan laki-laki.
Bukan juga untuk terlihat lebih hebat dari perempuan lain.
Apalagi untuk membuktikan bahwa perempuan harus memiliki pendidikan tinggi agar dianggap berharga.

Menurutku, bukan itu maksudnya.

Perempuan perlu pintar karena hidup terus berubah. Dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan kita jalani beberapa tahun ke depan.
Karena itu, menurutku perempuan perlu terus belajar.

Belajar tak harus menunggu gelar.


Pintar Tidak Selalu Berarti Punya Pendidikan Tinggi

Aku percaya pendidikan formal itu penting. Kesempatan untuk sekolah dan kuliah setinggi mungkin tentu merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Tetapi tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama.

Ada yang hanya bisa menyelesaikan sekolah sampai SMA. Ada yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi. Ada yang harus berhenti sekolah karena keadaan keluarga.
Apakah setelah itu mereka tidak bisa menjadi perempuan pintar?
Tentu saja tidak.

Menurutku, pintar bukan hanya tentang berapa banyak gelar yang kita punya.
Pintar juga berarti mau belajar, mau mencari tahu, mampu berpikir sebelum mengambil keputusan, dan tidak mudah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar.

Perempuan yang tidak kuliah pun bisa menjadi perempuan yang banyak belajar.
Bisa belajar dari buku.
Dari pengalaman.
Dari orang lain.
Dari internet.
Dari kesalahan.
Bahkan dari kehidupan sehari-hari.


Mengapa Perempuan Harus Terus Belajar?

Karena hidup tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau kuliah.
Justru setelah itu, kita akan bertemu dengan begitu banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Bagaimana mengatur keuangan.
Bagaimana memahami dunia digital.
Bagaimana menghadapi perubahan.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana mendampingi anak.
Bagaimana menjaga diri.
Bagaimana mengambil keputusan ketika berada dalam situasi sulit.
Dan masih banyak lagi.

Dunia juga terus berubah.
Apa yang kita pelajari sepuluh atau dua puluh tahun lalu belum tentu cukup untuk menghadapi kehidupan hari ini.

Karena itu, perempuan harus terus belajar bukan karena kita tidak cukup pintar, tetapi karena kehidupan selalu memberi kita hal baru untuk dipelajari.


Perempuan Pintar, Anak-anak pun Mendapat Manfaatnya

Ada alasan lain mengapa menurutku perempuan perlu terus belajar, terutama bagi perempuan yang sudah menjadi ibu.

Karena pengetahuan yang kita miliki tidak berhenti pada diri kita sendiri.

Anak-anak juga bisa merasakan manfaatnya.
Seorang ibu tidak harus memiliki gelar panjang untuk menjadi ibu yang berwawasan. Tetapi ketika seorang ibu memiliki kebiasaan membaca, bertanya, mencari tahu, dan mau belajar, kebiasaan itu bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Anak melihat ibunya membaca buku.
Anak melihat ibunya belajar menggunakan teknologi.
Anak melihat ibunya mencari informasi sebelum mempercayainya.
Anak melihat ibunya berani mencoba sesuatu yang baru meskipun awalnya tidak bisa.

Tanpa banyak kata, sebenarnya ibu sedang menunjukkan kepada anak bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan.

Menurutku, inilah salah satu alasan penting mengapa perempuan perlu pintar.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga karena ia bisa menjadi salah satu lingkungan belajar pertama bagi anak-anaknya.


"Karena Ia Akan Menjadi Ibu"

Aku teringat sebuah quote dari Dian Sastrowardoyo:

“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula.”

Aku memahami quote ini sebagai sebuah pengingat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Namun, bagiku, pendidikan tidak harus berhenti pada pendidikan formal.
Tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan untuk kuliah tinggi. Tetapi setiap perempuan tetap bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan.

Dan satu hal yang menurutku perlu digarisbawahi: kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan ibunya.
Anak tumbuh dari banyak hal. Ada pola asuh, lingkungan, pendidikan, pengalaman, kesempatan, karakter, dan banyak faktor lainnya.

Jadi aku tidak ingin menjadikan kalimat tersebut sebagai beban bagi perempuan.
Seorang ibu tidak harus menjadi "sempurna" atau selalu tahu segala sesuatu agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

Yang penting adalah kemauannya untuk terus belajar.
Karena ibu yang mau belajar akan lebih terbuka untuk belajar bersama anaknya.


Ibu yang Mau Belajar Bisa Menjadi Contoh bagi Anak

Aku percaya anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang kita katakan.

Kita bisa berkali-kali mengatakan kepada anak, “Kamu harus rajin membaca.”
Tetapi ketika anak melihat ibunya sendiri tidak pernah menyentuh buku, pesan itu mungkin terasa berbeda.
Sebaliknya, ketika anak melihat ibunya menikmati membaca, belajar sesuatu, mencoba hal baru, atau berdiskusi tentang berbagai hal, anak mendapatkan contoh nyata.

Bukan berarti anak pasti menjadi pintar hanya karena ibunya pintar.
Tetapi ibu yang terus belajar sedang menciptakan suasana yang menghargai proses belajar di dalam keluarga.
Dan menurutku, itu sangat berharga.


Pintar Juga Berarti Tidak Mudah Dibohongi

Di zaman sekarang, informasi datang begitu cepat.
Setiap hari kita melihat berita, video, iklan, tips kesehatan, investasi, promosi produk, bahkan berbagai macam nasihat kehidupan di media sosial.

Tidak semuanya benar.

Karena itu perempuan perlu memiliki kebiasaan untuk mencari tahu dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Hal ini juga penting ketika kita sudah menjadi ibu.
Sebab informasi yang kita percaya kadang bukan hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga kepada keluarga dan anak-anak.


Tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal.

Kita hanya perlu mau belajar.
Kalau tidak tahu, cari tahu.
Kalau ragu, bertanya.
Kalau menemukan informasi yang berbeda, bandingkan.

Menurutku, perempuan yang mau mengatakan “aku belum tahu, tapi aku mau belajar” justru menunjukkan bahwa dirinya sedang bertumbuh.


Menjadi Ibu Bukan Berarti Berhenti Belajar

Aku juga melihat bahwa banyak perempuan yang setelah menikah dan memiliki anak merasa kehidupan belajarnya selesai.

Padahal justru ketika menjadi ibu, banyak sekali hal baru yang harus dipelajari.

Tentang anak.
Tentang keluarga.
Tentang keuangan.
Tentang teknologi.
Tentang pendidikan.
Tentang dunia yang terus berubah.

Anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman ketika kita tumbuh.
Karena itu, kita pun perlu terus memperbarui pengetahuan.
Bukan supaya bisa menjadi ibu yang sempurna.
Aku sendiri tidak percaya ada ibu yang benar-benar sempurna.

Tetapi setidaknya kita bisa menjadi ibu yang mau belajar dan bersedia berkembang bersama anak-anak kita.


Belajar Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Kadang kita berpikir belajar harus selalu dilakukan melalui kursus, pelatihan, atau pendidikan formal.
Padahal tidak selalu begitu.

Membaca beberapa halaman buku sebelum tidur juga belajar.
Membaca artikel yang bermanfaat juga belajar.
Mendengarkan podcast yang menambah wawasan juga belajar.
Mengikuti kursus gratis di internet juga belajar.
Belajar menggunakan teknologi baru juga belajar.
Bahkan mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak kita mengerti adalah bentuk belajar.

Jadi kalau hari ini kita merasa sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru, mungkin sebenarnya kita hanya perlu mengubah cara pandang.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar.


Tidak Perlu Menjadi Pintar dalam Segala Hal

Ada satu hal lagi yang menurutku penting.
Kita tidak harus mengetahui semuanya.
Tidak perlu merasa minder ketika ada orang yang lebih pintar dalam bidang tertentu.
Setiap orang punya bidangnya masing-masing.
Ada perempuan yang pintar mengelola bisnis.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang hebat menulis.
Ada yang memahami teknologi.
Ada yang memiliki kemampuan mengurus keluarga dengan luar biasa.
Ada yang punya kepedulian besar terhadap lingkungan.
Ada yang mungkin tidak punya pendidikan tinggi, tetapi memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya.

Jadi menurutku, menjadi perempuan pintar bukan perlombaan.
Kita tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.
Cukup menjadi perempuan yang hari ini mau belajar sedikit lebih banyak daripada kemarin.


Perempuan Tidak Harus Punya Gelar Tinggi untuk Menjadi Berharga

Aku ingin mengatakan ini terutama kepada perempuan yang mungkin pernah merasa minder karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan tinggi memang sesuatu yang baik, tetapi gelar bukan satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan.

Jangan merasa hidupmu berhenti hanya karena kamu tidak memiliki gelar sarjana.
Kalau masih ada keinginan untuk belajar, lanjutkan.
Baca buku.
Belajar dari internet.
Ikuti kelas yang kamu mampu.
Pelajari keterampilan baru.
Bertanya kepada orang yang lebih tahu.
Dan jangan takut memulai dari nol.
Karena belajar bukan hanya tentang mendapatkan selembar ijazah.

Belajar adalah tentang membuat diri kita terus bertumbuh.


Karena Perempuan Punya Hak untuk Terus Bertumbuh

Semakin bertambah usia, aku semakin percaya bahwa belajar adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.
Ketika kita belajar, kita sedang memberikan kesempatan kepada diri kita untuk memahami dunia dengan lebih baik.

Kita menjadi lebih percaya diri.
Lebih berani mengambil keputusan.
Lebih terbuka terhadap perubahan.
Dan mungkin yang paling penting, kita tidak merasa bahwa hidup kita harus berhenti hanya karena usia bertambah.

Perempuan boleh belajar di usia berapa pun.
Tidak peduli sudah menikah atau belum.
Sudah menjadi ibu atau belum.
Sudah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga.
Punya gelar tinggi atau tidak.
Kesempatan untuk belajar selalu terbuka.


Jadi, Mengapa Perempuan Harus Pintar?

Buatku, jawabannya sederhana.
Bukan untuk menandingi siapa-siapa.

Perempuan perlu pintar agar mampu memahami kehidupannya sendiri.
Agar tidak mudah dibohongi.
Agar berani mengambil keputusan.
Agar bisa mengikuti perubahan zaman.
Agar bisa mendampingi orang-orang yang disayanginya.

Dan bagi seorang ibu, agar ia bisa menjadi contoh bahwa belajar tidak pernah mengenal kata selesai.
Karena anak-anak mungkin tidak selalu mengingat nasihat yang kita berikan.
Tetapi mereka bisa mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan.
Mereka bisa melihat bagaimana ibu mereka membaca, belajar, mencari tahu, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Dan mungkin tanpa kita sadari, dari situlah mereka belajar satu hal penting:
bahwa menjadi pintar bukan tentang mengetahui semuanya, tetapi tentang tidak pernah berhenti ingin tahu.

Jadi, kalau hari ini merasa pendidikan formal belum tinggi, jangan merasa semuanya sudah terlambat.
Kita masih bisa belajar.

Kalau dulu tidak punya kesempatan membaca banyak buku, sekarang mungkin bisa mulai dari satu buku.
Kalau dulu tidak sempat belajar teknologi, sekarang bisa mencoba sedikit demi sedikit.
Kalau dulu tidak punya kesempatan kuliah, bukan berarti perjalanan belajar kita harus berhenti.

Sebab pada akhirnya, menjadi perempuan pintar bukan tentang seberapa tinggi gelar yang kita punya, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar.

Dan menurutku, perempuan yang mau terus belajar bukan hanya sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Ia juga sedang memberikan contoh kepada generasi setelahnya bahwa perempuan boleh terus bertumbuh, di usia berapa pun.

Tidak harus sempurna. Tidak harus tahu semuanya. Cukup terus belajar.

Karena belajar memang tak harus menunggu gelar.


0 comments

Terima kasih sudah berkunjung :)
Jangan lupa tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Semua komentar yang masuk dimoderasi, komentar spam dan link hidup tidak akan ditampilkan.
Terima kasih.